Newswire Minggu, 23 Agustus 2026 17:37 WIB

TNI AU memadamkan karhutla di beberapa titik lokasi bencana di Palembang dengan menggunakan metode \"water bombing\", Sabtu (22/8/2026). ANTARA/Ho-Humas TNI AU\r\n
Harianjogja.com, JAKARTA— Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Palembang, Sumatera Selatan, dilakukan TNI AU dengan metode water bombing. Di tengah penanganan karhutla, kabut asap tebal juga berdampak pada penerbangan di Jambi hingga dua pesawat dari Jakarta harus mengalihkan pendaratan.
TNI AU melakukan pemadaman menggunakan metode water bombing di beberapa titik karhutla pada Sabtu (22/8). Operasi tersebut dilakukan jajaran Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Sri Mulyono Herlambang (SMH).
Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya TNI AU membantu pemerintah menangani bencana karhutla.
"Peran TNI Angkatan Udara harus dioptimalkan dalam penanganan karhutla di wilayah Sumatera Selatan, dengan mengedepankan koordinasi dan sinergi bersama seluruh pemangku kepentingan," kata dia saat dikonfirmasi di Jakarta.
Titik Api Ditemukan Saat Patroli Udara
Proses pemadaman diawali patroli udara yang dilakukan petugas ke sejumlah lokasi. Dalam patroli tersebut, petugas menemukan beberapa titik api di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
"Titik-titik api tersebut selanjutnya ditindaklanjuti secara bertahap melalui upaya pemadaman," kata Nyoman.
Dalam operasi tersebut, TNI AU tidak bekerja sendiri. Penanganan karhutla dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Forkopimda, serta seluruh instansi terkait di daerah.
Helikopter milik TNI AU juga masih disiagakan untuk mendukung pemadaman di sejumlah titik. Menurut Nyoman, helikopter tersebut akan terus disiagakan hingga penanganan karhutla selesai.
Kabut Asap Ganggu Penerbangan Jakarta-Jambi
Sementara itu, dampak kabut asap juga dirasakan sektor penerbangan di Jambi pada Minggu (23/8) pagi hingga siang. Jarak pandang yang terbatas membuat dua pesawat dari Jakarta tujuan Jambi harus mengalihkan pendaratan ke Batam dan Palembang.
General Manager PT Angkasa Pura Bandara Sultan Thaha Saifuddin Jambi Ardon Marbun membenarkan adanya pengalihan pendaratan dua pesawat yang dijadwalkan tiba pada penerbangan pagi.
Berdasarkan laporan resmi pihak bandara, kabut asap memengaruhi dua jadwal kedatangan dari Jakarta (CGK) menuju Jambi (DJB).
Pesawat pertama yang gagal mendarat adalah Batik Air (ID 6804) Airbus A320 (PK-LAT), dengan kapten pilot Kemas Muhammad Fatur. Pesawat tersebut membawa penumpang 138 Dewasa, 1 Bayi (POB: 138/00/01).
Pesawat itu semula dijadwalkan mendarat (STA) pukul 10:00 WIB, dengan perkiraan awal (ETA) pukul 10:40 WIB. Namun, pada pukul 10:45 WIB, petugas Air Traffic Control (ATC) menginformasikan kepada tim Apron Movement Control (AMC) bahwa Batik Air ID 6804 harus mengalihkan pendaratan ke Batam (Divert to Batam).
Pengalihan dilakukan setelah jarak pandang di Bandara Sultan Thaha turun hingga 1.000 meter akibat tertutup kabut asap tebal.
Pesawat Kedua Dialihkan ke Palembang
Pesawat kedua yang gagal mendarat adalah Super Air Jet (IU 842), Airbus A320 (PK-STZ), yang terbang dari Jakarta (CGK) menuju Jambi (DJB). Pesawat tersebut membawa penumpang sebanyak 120 dewasa dan satu anak-anak.
Super Air Jet IU 842 dijadwalkan mendarat (STA) pukul 11:25 WIB, dengan perkiraan (ETA) pukul 11:31 WIB. Namun, kondisi cuaca di area landasan belum membaik sehingga pendaratan akhirnya dialihkan ke Palembang.
Ardon menjelaskan perubahan jarak pandang di Bandara Sultan Thaha terjadi cukup cepat. Pada pukul 09.30 WIB, jarak pandang masih berada dalam kategori aman, yakni sekitar 5 ribu meter.
Namun, satu jam kemudian, tepatnya pukul 10.30 WIB, jarak pandang menyusut menjadi 1.000 meter. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 11.30 WIB siang.
Kondisi tersebut menunjukkan dampak kabut asap karhutla tidak hanya berkaitan dengan proses pemadaman di wilayah terdampak, tetapi juga memengaruhi aktivitas penerbangan ketika jarak pandang menurun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online




































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5215189/original/094397100_1746795977-20250509AA_Persija_Jakarta_vs_Bali_United-8.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558829/original/015961100_1776485350-IMG_20260418_120558_524.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5399789/original/029438800_1762005007-Dewa_United_vs_Shan_United-8.jpg)
