Jepang Dinobatkan Negara Paling Sopan di Dunia, Indonesia Belum Masuk

8 hours ago 5

Jumali

Jumali Rabu, 01 Juli 2026 16:27 WIB

Harianjogja.com, JOGJA—Jepang kembali mendapatkan pengakuan internasional atas budaya sopan santun yang telah lama menjadi identitas masyarakatnya. Dalam survei global yang dirilis Remitly melalui Global Insights Report 2026, negara tersebut menempati peringkat pertama sebagai negara dengan penduduk paling sopan di dunia berdasarkan penilaian ribuan responden dari berbagai negara.

Hasil survei ini menjadi perhatian karena tidak hanya mengukur kesan umum terhadap suatu negara, tetapi juga menggambarkan bagaimana perilaku masyarakat setempat memengaruhi pengalaman orang asing yang datang untuk bekerja, belajar, maupun menetap dalam jangka waktu panjang.

Remitly melibatkan 4.697 responden yang berasal dari 26 negara dalam survei tersebut. Para peserta diminta memberikan penilaian mengenai pengalaman sosial dan tingkat keramahan masyarakat di berbagai negara yang mereka kenal atau pernah kunjungi.

Jepang meraih dukungan sebesar 35,15% suara, unggul jauh dibandingkan negara lain. Dominasi ini memperlihatkan kuatnya citra Negeri Sakura sebagai negara yang menjunjung tinggi etika, tata krama, serta penghormatan terhadap orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya membungkuk sebagai bentuk penghormatan memang menjadi simbol yang paling dikenal dunia. Namun, responden menilai kesopanan masyarakat Jepang tidak hanya terlihat dari tradisi tersebut, melainkan juga dari kesabaran, kedisiplinan, dan sikap menghargai orang lain, termasuk terhadap warga asing yang menghadapi kendala bahasa.

Di posisi kedua terdapat Kanada dengan raihan 13,35% suara. Negara di Amerika Utara itu selama ini dikenal memiliki masyarakat yang terbuka terhadap keberagaman budaya dan relatif mudah menerima pendatang dari berbagai latar belakang.

Sementara itu, Inggris berada di peringkat ketiga dengan perolehan 6,23% suara. Reputasi masyarakat Inggris yang identik dengan tata krama dan etiket sosial turut menjadi faktor yang memperkuat posisi negara tersebut dalam daftar.

Selain tiga besar, sejumlah negara lain juga masuk dalam jajaran 10 besar negara paling sopan versi responden global. Tiongkok berada di posisi keempat dengan 3,07% suara, disusul Jerman 2,80%, Filipina 2,30%, Swedia 2,26%, Denmark 2,07%, Finlandia 1,92%, dan Afrika Selatan 1,82%.

Kehadiran Filipina menjadi sorotan tersendiri karena menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang berhasil masuk dalam 10 besar. Thailand juga tercatat masuk daftar 20 besar, sedangkan Indonesia belum berhasil memperoleh posisi dalam peringkat tersebut.

Hasil ini bisa memunculkan beragam tanggapan di dalam negeri. Pasalnya, Indonesia selama ini dikenal memiliki budaya ramah tamah yang kuat dan menjadi salah satu nilai yang sering diperkenalkan kepada wisatawan maupun masyarakat internasional.

Meski demikian, survei ini mengukur persepsi global, sehingga hasilnya sangat dipengaruhi oleh pengalaman langsung responden, tingkat eksposur internasional, hingga pemahaman mereka terhadap budaya suatu negara. Dengan kata lain, tidak masuknya Indonesia ke dalam daftar bukan berarti masyarakat Indonesia tidak sopan, melainkan bisa menunjukkan bahwa karakter keramahan Indonesia belum sepenuhnya dikenal secara luas oleh publik internasional.

Remitly menilai kesopanan merupakan faktor penting yang membantu proses adaptasi pendatang di lingkungan baru. Bentuknya dapat berbeda di setiap negara, mulai dari senyum ramah, penggunaan bahasa yang santun, hingga tradisi penghormatan yang sudah mengakar dalam budaya setempat.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perilaku sosial masyarakat memiliki pengaruh besar terhadap kenyamanan orang asing ketika tinggal di suatu negara. Karena itu, budaya sopan santun tidak hanya menjadi identitas nasional, tetapi juga dapat menjadi modal sosial yang memperkuat citra suatu negara di mata dunia.

Bagi Indonesia, hasil survei ini dapat menjadi momentum untuk terus memperkenalkan nilai-nilai keramahan dan penghormatan terhadap sesama yang selama ini menjadi bagian dari budaya masyarakat. Dengan eksposur yang lebih luas, bukan tidak mungkin citra tersebut akan semakin dikenal dan mendapat pengakuan dalam berbagai survei global pada masa mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |