Jumali Rabu, 27 Mei 2026 14:27 WIB
Harianjogja.com, JOGJA—Dalam beberapa tahun terakhir, istilah red flag dan green flag semakin sering digunakan untuk membaca dinamika hubungan percintaan di tengah masyarakat. Konsep ini dipakai sebagai cara cepat untuk mengenali tanda-tanda hubungan yang berpotensi tidak sehat maupun yang berjalan dengan baik secara emosional.
Fenomena ini banyak muncul di ruang diskusi media sosial hingga percakapan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda yang ingin memahami pola relasi secara lebih sederhana. Meski bukan istilah klinis resmi yang menggantikan diagnosis psikologis, kedua label ini kerap menjadi rujukan awal dalam menilai perilaku pasangan.
Red Flag sebagai tanda peringatan awal
Red flag dipahami sebagai sinyal adanya perilaku yang berpotensi merugikan dalam hubungan. Beberapa bentuknya dapat berupa sikap mengontrol pasangan, kesulitan dalam komunikasi, hingga perilaku manipulatif yang membuat salah satu pihak merasa tertekan secara emosional.
Menurut sejumlah rujukan psikologi populer, tanda-tanda ini sering kali muncul sejak tahap awal hubungan, namun kerap diabaikan karena faktor emosional seperti rasa cinta atau ketergantungan. Kondisi ini membuat seseorang sulit melihat risiko yang sebenarnya sudah terlihat jelas.
The Healthy mengungkapkan, sejumlah pakar juga menilai bahwa red flag bukan hanya tentang konflik besar, tetapi juga pola kecil yang terus berulang dan berdampak pada kesehatan mental seseorang dalam jangka panjang.
Green Flag sebagai indikator hubungan sehat
Sebaliknya, green flag menggambarkan perilaku yang menunjukkan hubungan yang sehat dan saling menghargai. Hal ini dapat terlihat dari komunikasi yang terbuka, kemampuan mendengarkan tanpa menghakimi, serta kesediaan untuk bertanggung jawab atas kesalahan.
Selain itu, green flag juga mencakup kemampuan pasangan dalam memberikan ruang pribadi, mendukung pertumbuhan individu, serta menciptakan rasa aman secara emosional dalam hubungan. Konsistensi sikap menjadi faktor penting dalam menilai aspek ini.
Dalam praktiknya, green flag tidak selalu berkaitan dengan sikap romantis yang berlebihan, tetapi lebih pada stabilitas perilaku yang menunjukkan kedewasaan emosional dalam hubungan jangka panjang.
Tidak bisa hanya mengandalkan label
Meski red flag dan green flag sering dijadikan panduan awal, para pengamat hubungan menilai bahwa label tersebut tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya alat ukur dalam menilai seseorang. Setiap individu memiliki proses tumbuh dan perubahan perilaku seiring waktu.
Ada kemungkinan seseorang menunjukkan perilaku yang kurang sehat di masa lalu, namun kemudian berubah melalui kesadaran diri, pengalaman, atau proses pembelajaran. Karena itu, penilaian hubungan dinilai lebih tepat jika melihat konsistensi perilaku dalam jangka panjang.
Dampak bagi kehidupan sehari-hari
Pemahaman terhadap red flag dan green flag dinilai dapat membantu seseorang lebih sadar terhadap kualitas hubungan yang dijalani. Hal ini berkaitan erat dengan kesehatan mental, rasa aman, serta kemampuan individu dalam menjaga batasan diri.
Dalam konteks hubungan modern, kesadaran ini dianggap penting agar seseorang tidak terjebak dalam pola relasi yang merugikan atau mengabaikan kebutuhan emosionalnya sendiri. Namun, keseimbangan antara logika dan emosi tetap diperlukan agar penilaian tidak dilakukan secara terburu-buru.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat dipahami sebagai proses dua arah yang membutuhkan komunikasi, penghargaan, dan kesediaan untuk berkembang bersama, bukan sekadar penilaian cepat berdasarkan label tertentu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































