Era Eropa Como Dimulai dengan Ancaman Finansial dan Renovasi

2 hours ago 2

Jumali

Jumali Selasa, 26 Mei 2026 23:37 WIB

Era Eropa Como Dimulai dengan Ancaman Finansial dan Renovasi

Foto ilustrasi sepak bola dibuat oleh AI/StockCake

Harianjogja.com, JOGJA— Keberhasilan Como 1907 menembus Liga Champions musim depan memang mencatat sejarah baru bagi klub milik keluarga Hartono asal Indonesia. Namun, di balik euforia finis di peringkat keempat Serie A tersebut, muncul dua tantangan besar yang siap menguji kesiapan klub berjuluk I Lariani itu di panggung tertinggi Eropa: persoalan stadion dan tekanan finansial.

Sorotan utama tertuju pada markas Como, Stadio Giuseppe Sinigaglia, yang berada di tepi Danau Como. Stadion bersejarah ini dikenal ikonik secara visual, namun dinilai belum memenuhi standar infrastruktur UEFA untuk kompetisi Liga Champions.

Menurut laporan media Eropa, One Football, stadion tersebut membutuhkan renovasi besar jika ingin tetap digunakan sebagai venue pertandingan Eropa. Jika perbaikan tidak selesai sebelum tenggat September 2026, Como terancam tidak bisa bermain di kandang sendiri dan harus menjadi tim “musafir” sepanjang fase Liga Champions.

Dalam skenario tersebut, opsi paling realistis adalah menggunakan Mapei Stadium di Reggio Emilia sebagai markas sementara. Stadion ini sebelumnya juga pernah digunakan Atalanta ketika mereka menjalani debut Liga Champions sambil menunggu renovasi stadion mereka sendiri selesai.

Selain masalah stadion, Como juga menghadapi tantangan serius di sisi keuangan. Investasi besar yang dilakukan untuk memperkuat skuad demi bersaing di Serie A dan Eropa berujung pada pembengkakan biaya operasional.

Laporan keuangan terbaru menunjukkan klub mengalami kerugian sekitar €105 juta atau setara Rp1,8 triliun pada tahun buku yang berakhir Juni 2025. Angka tersebut menempatkan Como dalam pengawasan ketat aturan Financial Fair Play (FFP) UEFA.

Meski demikian, UEFA diperkirakan akan memberi ruang adaptasi berupa masa tenggang pada musim debut Como di Liga Champions. Namun setelah itu, klub wajib menandatangani Settlement Agreement untuk menyeimbangkan neraca keuangan. Jika gagal memenuhi ketentuan tersebut, sanksi seperti denda besar hingga pengurangan poin bisa diberlakukan.

Situasi ini menempatkan Como di persimpangan penting: mempertahankan ambisi untuk menjadi kekuatan baru di Eropa, atau menyesuaikan diri dengan ketatnya regulasi finansial sepak bola modern.

Di satu sisi, investasi besar keluarga Hartono telah membawa klub dari Serie B menuju Liga Champions dalam waktu singkat. Namun di sisi lain, pertumbuhan cepat itu kini harus dibayar dengan tantangan struktural yang tidak kalah berat.

Kini, perhatian tertuju pada langkah manajemen Como dalam beberapa bulan ke depan—apakah mampu menyelesaikan renovasi stadion dan menstabilkan keuangan, atau justru menghadapi musim debut Liga Champions yang penuh kompromi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |