Dolar Perkasa, Reksa Dana Valas Jadi Primadona Baru Investor

3 hours ago 2

Harianjogja.com, JAKARTA— Industri reksa dana berbasis dolar Amerika Serikat menunjukkan lonjakan signifikan dalam setahun terakhir. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, instrumen ini semakin dilirik sebagai pilihan diversifikasi aset yang dinilai lebih aman.

Berdasarkan data Infovesta, total dana kelolaan atau asset under management (AUM) reksa dana dolar mencapai US$3,16 miliar pada Mei 2026. Angka ini melonjak 96,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$1,61 miliar. Bahkan, dalam hitungan bulanan, AUM tersebut juga meningkat dari US$2,71 miliar pada April 2026 atau naik sekitar 16,6%.

Kenaikan pesat ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap instrumen berbasis valuta asing. Selain sebagai lindung nilai terhadap pelemahan rupiah, reksa dana dolar juga menawarkan stabilitas di tengah volatilitas pasar keuangan global.

Kategori reksa dana pasar uang dolar menjadi bintang utama dengan pertumbuhan paling agresif. Dalam satu tahun, dana kelolaannya melonjak drastis dari US$243,42 juta menjadi US$1,26 miliar atau tumbuh lebih dari 400%. Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap dolar juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 112,7% menjadi US$790,74 juta.

Di sisi lain, reksa dana global fund tetap menjadi tulang punggung industri dengan pertumbuhan moderat sebesar 18,3%. Adapun reksa dana campuran turut mencatat lonjakan lebih dari dua kali lipat. Namun, tidak semua kategori mengalami tren positif. Reksa dana terproteksi justru mengalami penurunan, begitu pula reksa dana saham dolar yang hanya tumbuh tipis.

Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menilai kinerja reksa dana dolar dalam setahun terakhir tergolong solid, terutama produk yang memiliki eksposur ke saham global, khususnya di Amerika Serikat. Tren penguatan sektor teknologi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong utama.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa peralihan dana ke reksa dana dolar belum terjadi secara besar-besaran. Salah satu kendala utamanya adalah akses investasi yang relatif terbatas serta minimum pembelian yang cukup tinggi, bahkan bisa mencapai US$10.000 untuk produk tertentu.

“Instrumen ini lebih cocok untuk investor menengah ke atas yang ingin melakukan diversifikasi portofolio,” jelasnya.

Dari sisi prospek, reksa dana pasar uang dolar dinilai masih menjadi pilihan paling defensif dengan potensi imbal hasil sekitar 2% hingga 3%. Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap berpotensi membaik seiring stabilisasi suku bunga global.

Pelaku industri lainnya juga menilai tren pelemahan rupiah dalam jangka panjang menjadi faktor yang memperkuat daya tarik investasi berbasis dolar. Berdasarkan data historis, rupiah rata-rata melemah sekitar 4% per tahun terhadap dolar AS sejak 2011.

Meski menawarkan peluang menarik, investor tetap diingatkan untuk memperhatikan risiko nilai tukar. Ketika rupiah menguat, keuntungan dari instrumen dolar bisa tergerus. Oleh karena itu, investasi ini dinilai lebih relevan bagi investor yang memiliki kebutuhan dalam mata uang asing atau berorientasi jangka panjang.

Di tengah dinamika global yang belum stabil, reksa dana dolar diproyeksikan masih memiliki ruang tumbuh. Namun, para analis menekankan bahwa instrumen ini bukan sekadar sarana spekulasi, melainkan bagian dari strategi diversifikasi yang harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |