
Pedagang cabai rawit merah. - Foto ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga Gunungkidul harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli cabai rawit merah. Harga komoditas dapur tersebut kini menembus Rp85.000 per kilogram akibat tingginya kebutuhan untuk acara hajatan.
Sebelumnya, harga cabai rawit merah masih berada di kisaran Rp70.000 per kilogram. Namun sejak Jumat pekan lalu, harga mulai merangkak naik dan kini bertahan di level Rp80.000 hingga Rp85.000 per kilogram di sejumlah pasar tradisional di Gunungkidul.
Kepala Bidang Perdagangan Disdagnaker Gunungkidul, Ris Heryani, mengatakan lonjakan harga tersebut dipicu meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk kegiatan hajatan dan pesta keluarga yang sedang ramai berlangsung di berbagai wilayah.
"Jumat pekan lalu kami terakhir pantauan harganya segitu. Kenaikan harga karena banyaknya permintaan, sekarang kan banyak orang yang pesta/hajatan," jelas Ris, Jumat (29/5/2026).
Meski harga naik cukup signifikan, Disdagnaker Gunungkidul memastikan stok cabai rawit merah masih aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebagian besar pasokan komoditas tersebut berasal dari luar daerah sehingga distribusi disebut masih berjalan normal.
Menurut Ris, kenaikan harga seperti ini tergolong wajar ketika permintaan melonjak dalam waktu bersamaan sementara pasokan tidak bertambah signifikan. Ia memperkirakan harga cabai rawit merah akan kembali berangsur normal dalam dua pekan ke depan setelah musim hajatan mulai berkurang.
"Kalau stok aman, karena kami itu kebanyakan dari luar daerah. Harganya normal lagi mungkin dua mingguan ke depan kalau musim pesta dan hajatan sudah selesai," ujarnya.
Selain cabai rawit merah, kenaikan harga juga terjadi pada bawang merah di Gunungkidul. Harga bawang merah yang sebelumnya berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram kini naik menjadi Rp45.000 sampai Rp50.000 per kilogram.
Kenaikan bawang merah dipicu belum masuknya masa panen di sejumlah daerah pemasok. Kondisi tersebut membuat pasokan tidak bertambah sementara kebutuhan pasar tetap tinggi sehingga berdampak langsung terhadap harga jual di tingkat pedagang.
Sementara itu, sejumlah kebutuhan pokok lain masih relatif stabil. Harga telur ayam tercatat berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram, sedangkan harga ayam potong sekitar Rp35.000 per kilogram. Harga daging juga disebut belum mengalami lonjakan signifikan.
"Untuk harga kebutuhan pokok yang lain masih aman, telur Rp25.000-Rp26.000 per kg, ayam Rp35.000 per kg, begitu juga daging," ungkap Ris.
Disdagnaker Gunungkidul hingga kini belum berencana menggelar operasi pasar khusus untuk cabai dan bawang merah karena kenaikan harga diperkirakan hanya berlangsung sementara. Selain itu, stok bahan pokok dinilai masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang liburan sekolah.
Ris mengatakan para pedagang sebenarnya sudah memiliki jaringan pemasok masing-masing sehingga tambahan stok dari pemerintah belum dianggap mendesak untuk dilakukan saat ini.
Di sisi lain, Kepala Disdagnaker Gunungkidul, Kelik Yuniantoro, menjelaskan operasi pasar tetap akan digelar untuk komoditas tertentu seperti minyak goreng dan gula pasir. Program tersebut dilakukan bekerja sama dengan BUMN dan pemerintah daerah.
Menurut Kelik, operasi pasar dari APBD Gunungkidul dilaksanakan tiga kali dalam setahun dan dua kali sudah terealisasi. Sementara operasi pasar dari Disperindag Daerah Istimewa Yogyakarta dijadwalkan enam kali dalam setahun.
"Yang dari APBD Gunungkidul itu tiga kali setahun dan sudah terselenggara dua kali, sementara yang dari DIY itu enam kali setahun," jelasnya.
Operasi pasar biasanya digelar menjelang hari raya besar keagamaan atau ketika harga kebutuhan pokok mengalami lonjakan tajam. Pemerintah juga membuka peluang penambahan operasi pasar apabila permintaan pedagang dan kondisi harga di lapangan dinilai sudah memberatkan masyarakat.
"Yang satu lagi dari APBD Gunungkidul akan kami laksanakan pada Nataru mendatang. Kalau kurang kami akan koordinasi dengan Pemda DIY untuk melakukan operasi pasar," pungkas Kelik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































