Jumali Jum'at, 29 Mei 2026 18:27 WIB

Foto ilutrasi artificial intelligence. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Gelombang adopsi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini bagai pisau bermata dua. Di balik kecanggihannya, peranti pintar berbiaya murah ini justru sukses dimanfaatkan oleh sindikat kriminalitas siber global untuk meluncurkan aksi penipuan online yang jauh lebih masif, manipulatif, dan nyaris mustahil dideteksi mata telanjang.
Kondisi ini wajib menjadi alarm kewaspadaan tingkat tinggi bagi para pengguna aktif media sosial populer seperti TikTok, Instagram, hingga Facebook. Bermodalkan algoritma tiruan, para pelaku kini mampu merekayasa kloning suara, video manipulatif, hingga membangun ekosistem situs belanja palsu yang terlihat sangat autentik dan sah.
Skala kerugian yang ditimbulkan dari eksploitasi teknologi ini pun sangat mengerikan. Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI), akumulasi kerugian warga AS akibat kejahatan siber menyentuh angka fantastis hampir US21 miliar atau setara Rp375 triliun dalam setahun. Dari total kerugian raksasa tersebut, sekitar US893 juta atau setara Rp15 triliun dikonfirmasi berkaitan langsung dengan manipulasi berbasis AI.
Siasat Licik Iklan Diskon dan Toko Palsu
Salah satu modus yang paling marak adalah pembuatan situs toko resmi palsu yang memanfaatkan sistem penargetan iklan media sosial. Kasus ini bahkan sempat nyaris mengecoh seorang jurnalis New York Times yang tergiur iklan diskon sepatu merek Hoka sebesar 80% di TikTok.
Saat diklik, tautan tersebut mengarah pada laman e-commerce tiruan yang tingkat kemiripannya sempurna. Kedok situs scam tersebut baru terbongkar seusai sang jurnalis menaruh curiga pada sistem keranjang belanja, lalu memverifikasinya via forum Reddit yang ternyata sudah dibanjiri keluhan korban dengan modus serupa.
Saking maraknya iklan penipuan, raksasa teknologi Meta kini dihujani gugatan hukum dari lembaga advokasi Federasi Konsumen Amerika hingga otoritas Santa Clara County di California karena dinilai lalai memfilter konten komersial berbahaya.
Merespons tekanan tersebut, manajemen Meta mengeklaim telah menyapu bersih 159 juta iklan penipuan serta memblokir hampir 11 juta akun terindikasi fraud di Facebook dan Instagram. Di kubu lain, manajemen TikTok menyatakan telah membuang 97% konten spam pada kuartal keempat 2025 sebelum sempat dilaporkan oleh pengguna, walau mereka mengakui beberapa iklan nakal masih kerap lolos dari sistem moderasi.
Tiga Modus Penipuan AI Paling Berbahaya Saat Ini:
1. Kloning Wajah dan Suara Saat Video Call Jika dahulu masyarakat sudah jeli mengendus penipuan berbasis pesan teks atau telepon, kini pelaku naik kelas memanfaatkan deepfake video call. Mereka menggunakan AI untuk mengubah wajah dan suara secara real-time menyerupai anggota keluarga atau teman dekat korban demi memuluskan modus minta transfer uang darurat.
2. Investasi dan Produk Fiktif Selebritas Kehadiran generator video instan super realistis seperti Sora dari OpenAI dimanfaatkan penipu untuk mencatut nama besar figur publik. Contohnya, peredaran video deepfake koki selebritas Gordon Ramsay yang mempromosikan pembagian peralatan masak gratis. Korban yang tergiur akhirnya tanpa sadar menyerahkan data sensitif kartu kredit mereka.
3. Duplikasi Situs Belanja Orisinal Sindikat penjahat rela menggelontorkan dana besar untuk membeli ruang iklan di Instagram dan TikTok guna menyasar target yang spesifik. Karena tidak memiliki produk fisik untuk diproduksi dan dikirim, seluruh modal dialokasikan untuk mematangkan desain visual situs agar terlihat sangat meyakinkan.
Sikap Skeptis Jadi Tameng Utama
Menghadapi ancaman siber generasi baru ini, pola pikir masyarakat terkait keamanan digital wajib diubah total. Hal tersebut ditegaskan oleh Mark Beare, Manajer Umum perusahaan keamanan internet Malwarebytes.
“Alih-alih mencari indikator tentang apa yang buruk, sekarang Anda perlu memverifikasi apakah itu baik,” jelas Mark Beare sebagaimana dikutip dari New York Times, Jumat (29/5/2026).
Artinya, masyarakat tidak bisa lagi mendeteksi penipuan hanya lewat indikator konvensional seperti kesalahan ketik (typo) atau desain grafis yang jelek, karena AI mampu menyusun semuanya tanpa cacat. Kunci keselamatan digital saat ini bertumpu pada langkah verifikasi mandiri, seperti melacak rekam jejak digital alamat web melalui mesin pencari Google atau forum komunitas sebelum bertransaksi.
Rumus terbaik untuk menangkal kejahatan siber di era digital ini sebenarnya tetap sederhana: jangan pernah mudah percaya pada tawaran diskon yang terlalu muluk, serta selalu lakukan konfirmasi ulang lewat saluran telepon seluler resmi yang sudah Anda kenal secara personal. Di era gempuran kecerdasan buatan, sikap skeptis adalah tameng terbaik Anda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































