Bukan Karena Gaji Kecil, Ini Penyebab Masyarakat Sulit Menabung

4 hours ago 2

Harianjogja.com, JOGJA—Kesulitan menabung masih menjadi persoalan yang dialami banyak masyarakat, termasuk kalangan pekerja dengan penghasilan tetap. Meski pendapatan diterima secara rutin setiap bulan, tidak sedikit orang yang mengaku keuangannya selalu habis sebelum akhir bulan. Menurut Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), kondisi tersebut lebih banyak dipengaruhi perilaku keuangan dan gaya hidup konsumtif dibandingkan besaran gaji yang diterima.

Fenomena masyarakat sulit menabung ini banyak ditemukan pada kelompok kelas menengah yang memiliki penghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, aliran dana yang masuk kerap langsung terserap untuk berbagai pengeluaran rutin sehingga tidak menyisakan ruang yang memadai bagi tabungan maupun perencanaan keuangan jangka panjang.

Dosen Ekonomi Syariah UMY, Satria Utama, mengatakan persoalan sulit menabung merupakan masalah klasik yang masih sering ditemui di masyarakat. Menurutnya, banyak orang menganggap menabung bukan kebutuhan mendesak karena merasa akan kembali menerima penghasilan pada bulan berikutnya.

“Permasalahan klasik masyarakat kelas menengah adalah pendapatan yang terasa selalu habis untuk berbagai kebutuhan. Akibatnya, banyak orang merasa sulit menyisihkan uang untuk masa depan karena menganggap bulan berikutnya akan kembali memperoleh penghasilan, sehingga menabung tidak menjadi prioritas,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).

Gaya Hidup Konsumtif Jadi Penyebab Sulit Menabung

Satria menjelaskan, penyebab masyarakat sulit menabung tidak dapat dilihat semata-mata dari nominal pendapatan. Berdasarkan pengamatannya, faktor yang lebih dominan justru berasal dari perilaku keuangan (financial behavior) yang kurang sehat dalam mengelola pemasukan dan pengeluaran.

Ia menilai banyak orang langsung meningkatkan standar hidup ketika pendapatan bertambah. Kenaikan penghasilan tidak diikuti peningkatan porsi tabungan, melainkan justru mendorong bertambahnya pengeluaran konsumtif.

Dalam dunia keuangan, kondisi tersebut dikenal dengan istilah lifestyle inflation atau inflasi gaya hidup. Fenomena ini terjadi ketika kenaikan pendapatan diiringi peningkatan konsumsi, baik untuk memenuhi kebutuhan maupun keinginan yang sebenarnya tidak bersifat prioritas.

“Banyak keluarga yang sebenarnya memiliki penghasilan cukup, tetapi tetap kesulitan menabung. Permasalahannya bukan pada pendapatan, melainkan pada perilaku konsumsi. Ketika penghasilan bertambah, yang meningkat justru pengeluaran konsumtif, sedangkan tabungan tidak bertambah secara signifikan,” jelasnya.

Minim Target Keuangan Membuat Tabungan Sulit Bertumbuh

Selain gaya hidup konsumtif, Satria juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam menetapkan target keuangan yang jelas. Banyak orang menabung hanya karena dianggap sebagai kebiasaan baik tanpa memiliki tujuan finansial yang spesifik.

Padahal, menurutnya, target keuangan yang terukur dapat menjadi pendorong motivasi sekaligus panduan dalam mengelola pendapatan agar lebih terarah.

“Menabung itu seperti melakukan perjalanan. Tanpa tujuan yang jelas, seseorang akan lebih mudah kehilangan motivasi dan berhenti di tengah jalan ketika menghadapi berbagai hambatan atau kebutuhan mendesak,” katanya.

Dana Darurat Jadi Benteng Keuangan Keluarga

Faktor lain yang membuat masyarakat sulit menabung adalah belum tersedianya dana darurat yang memadai. Dalam banyak kasus, tabungan yang telah dikumpulkan dalam waktu lama akhirnya terkuras ketika muncul kebutuhan mendesak, seperti biaya pengobatan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga yang tidak terduga.

Menurut Satria, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun sistem perlindungan keuangan keluarga agar tabungan utama tidak terus-menerus digunakan untuk menutup kebutuhan darurat.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan finansial tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan pendapatan, tetapi juga oleh kecakapan dalam mengelola uang, mengantisipasi risiko, dan menyusun prioritas keuangan jangka panjang.

“Sering kali orang berpikir menabung dilakukan dari uang yang tersisa. Padahal, pola pikir seperti itu membuat tabungan hanya menjadi niat yang sulit diwujudkan. Menabung harus menjadi prioritas sejak awal, bukan menunggu seluruh kebutuhan dan keinginan terpenuhi terlebih dahulu,” tegas Satria.

Menurutnya, membangun kebiasaan menabung yang berkelanjutan membutuhkan disiplin dalam mengendalikan gaya hidup, konsistensi menjalankan rencana keuangan, serta komitmen untuk menempatkan tabungan sebagai kebutuhan utama.

“Pendapatan yang besar tidak otomatis membuat seseorang mampu menabung. Yang lebih menentukan adalah bagaimana seseorang mengelola pendapatannya secara bijak dan konsisten,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |