Belanda Mundur dari Eurovision 2027 karena Konflik Gaza

2 hours ago 3

Jumali

Jumali Senin, 24 Agustus 2026 19:17 WIB

Belanda Mundur dari Eurovision 2027 karena Konflik Gaza

Eurovision Song Contest 2027/ AFP

Harianjogja.com, JOGJA— Belanda kembali memutuskan tidak berpartisipasi dalam ajang Eurovision Song Contest 2027. Keputusan tersebut diumumkan penyiar publik Belanda, AVROTROS, pada Senin (24/8/2026), dengan alasan bahwa kompetisi musik terbesar di Eropa itu dinilai tidak lagi memiliki karakter netral akibat dampak konflik yang terus berlangsung di Gaza.

Langkah tersebut memperpanjang sikap boikot yang sebelumnya juga dilakukan Belanda pada Eurovision 2026. AVROTROS menilai berbagai perubahan aturan yang diterapkan European Broadcasting Union (EBU) belum mampu mengembalikan independensi dan netralitas ajang tersebut.

Direktur Jenderal AVROTROS, Taco Zimmerman, menyatakan konflik internasional kini semakin memengaruhi jalannya Eurovision dan mengubah karakter kompetisi yang awalnya dibentuk untuk menyatukan negara-negara melalui musik.

Menurut Zimmerman, Eurovision kini justru menjadi ruang yang memunculkan perpecahan di antara peserta maupun publik. Ia menegaskan keputusan mundur diambil karena AVROTROS ingin tetap berpegang pada nilai-nilai independensi, kemanusiaan, dan kredibilitas sebagai lembaga penyiaran publik.

Konflik Gaza Jadi Sorotan

Dalam pernyataan resminya, AVROTROS menyebut penderitaan kemanusiaan di Gaza dan berbagai persoalan terkait kebebasan pers telah memicu perdebatan berkepanjangan di sekitar Eurovision selama beberapa tahun terakhir.

Penyiar publik Belanda itu juga menyoroti belum adanya parameter yang jelas mengenai keterlibatan negara yang sedang terlibat konflik militer dalam kompetisi tersebut.

Selama setahun terakhir, AVROTROS mengaku telah mendorong EBU untuk menyusun aturan yang lebih transparan terkait partisipasi negara-negara yang sedang berkonflik. Namun, perubahan yang baru diumumkan EBU dinilai belum memberikan kepastian mengenai bagaimana penilaian tersebut dilakukan.

"Konflik internasional semakin memengaruhi kontes ini dan merusak karakter netralnya. Eurovision Song Contest telah menjadi platform perpecahan," ujar Taco Zimmerman dalam pernyataan resmi AVROTROS dikutip Reuters.

Meski tidak menyebut Israel secara langsung dalam pengumuman terbarunya, keputusan AVROTROS berkaitan erat dengan keberatan terhadap partisipasi Israel di tengah perang yang masih berlangsung di Gaza. Sikap serupa juga menjadi alasan Belanda tidak ikut Eurovision 2026.

Tekanan terhadap Eurovision Kian Besar

Kontroversi mengenai keikutsertaan Israel telah menjadi salah satu isu terbesar yang membayangi Eurovision dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah negara dan organisasi budaya sebelumnya menyerukan boikot serta meminta EBU mengambil sikap yang lebih tegas.

AVROTROS mengungkapkan bahwa pada 2026 terdapat lima negara yang memilih tidak berpartisipasi. Selain itu, lebih dari seribu musisi dan pelaku budaya menandatangani surat terbuka yang mendesak EBU untuk melakukan intervensi terhadap persoalan tersebut.

Pada awal Agustus 2026, EBU mengumumkan sejumlah aturan baru, termasuk larangan bagi negara yang sedang terlibat konflik bersenjata untuk menjadi tuan rumah Eurovision. Kebijakan itu diambil untuk menjaga keamanan dan independensi penyelenggaraan kompetisi. Namun, langkah tersebut belum cukup meyakinkan AVROTROS untuk kembali berpartisipasi.

Keputusan Belanda ini berpotensi menambah tekanan terhadap penyelenggara Eurovision. Jika negara-negara lain mengambil langkah serupa, tantangan untuk mempertahankan citra Eurovision sebagai ajang pemersatu melalui musik akan semakin besar.

AVROTROS telah menyerahkan kembali keputusan mengenai partisipasi Belanda kepada NPO selaku induk penyiaran publik nasional. NPO akan menentukan apakah Belanda tetap memiliki wakil pada Eurovision 2027 melalui lembaga penyiaran lain atau kembali absen dari kompetisi tersebut.

Bagi penggemar Eurovision di berbagai negara, termasuk Indonesia, keputusan ini menjadi perkembangan penting yang menunjukkan bagaimana isu geopolitik terus memengaruhi ajang hiburan berskala global. Perdebatan mengenai batas antara seni, budaya, dan politik diperkirakan masih akan mewarnai perjalanan Eurovision menuju edisi 2027.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |