
Foto ilustrasi udang ekspor, dibuat menggunakan Artificial Intelligence Freepik.
Harianjogja.com, JAKARTA—Upaya meningkatkan daya saing komoditas ekspor Indonesia terus diperkuat. Badan Karantina Indonesia (Barantin) kini mengakselerasi penguatan sistem karantina ekspor melalui empat strategi utama yang difokuskan pada aspek keamanan hayati, ketertelusuran digital, hingga percepatan layanan guna memperkuat posisi produk Indonesia di pasar internasional.
Penguatan sistem karantina ekspor tersebut disampaikan Kepala Barantin Abdul Kadir Karding saat membuka pameran Nusatic, Nusapet, dan Nusahorti 2026. Menurutnya, pasar global saat ini tidak hanya mempertimbangkan kualitas produk, tetapi juga menuntut jaminan keamanan hayati, sistem ketertelusuran yang kuat, serta tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap negara asal komoditas.
“Pasar melihat yang pertama adalah kualitas, kedua biosecurity atau keamanan hayati, ketiga ketertelusuran, keempat ini yang penting adalah kepercayaan,” kata Karding dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Karding menjelaskan empat sistem karantina ekspor yang menjadi fokus penguatan Barantin meliputi biosecurity atau keamanan hayati, digital traceability atau sistem ketertelusuran digital, pre-border cooperation atau kerja sama pengawasan sebelum barang masuk ke negara tujuan, serta fast clearance system atau sistem percepatan layanan karantina.
Menurut dia, perubahan pola perdagangan global menuntut adanya penyesuaian paradigma, terutama terkait kualitas produk, keamanan hayati, ketertelusuran komoditas, dan kepercayaan pasar internasional. Karena itu, penerapan biosecurity menjadi syarat penting bagi pelaku usaha yang ingin memperluas akses ke pasar ekspor.
Ia menilai sejumlah perbaikan yang dilakukan Indonesia dalam sistem perdagangan dan standar karantina telah meningkatkan kepercayaan pasar dunia terhadap berbagai komoditas hayati nasional, termasuk sektor ikan hias yang selama ini menjadi salah satu unggulan ekspor Indonesia.
“Menurut saya Indonesia ini sudah memiliki kepercayaan, jadi bukan hanya potensi varietas yang banyak, tetapi juga Indonesia telah melakukan perbaikan di berbagai bidang sehingga dipercaya pasar internasional di bidang ikan hias,” ujarnya.
Dengan dukungan ekosistem perdagangan yang semakin baik melalui penguatan sistem karantina ekspor tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemimpin perdagangan ikan hias dunia.
Barantin juga terus mendorong penerapan Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB) sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas produk perikanan yang akan dipasarkan ke luar negeri. Saat ini tercatat sebanyak 128 instalasi karantina ikan hias ber-CKIB telah memperoleh pengakuan dari General Administration of Customs China (GACC).
"Saat ini sebanyak 128 instalasi karantina ikan hias ber-CKIB telah diakui General Administration of Customs China atau GACC," ungkap Karding.
Selain penguatan standar karantina, Barantin juga melakukan transformasi layanan dengan mengubah sistem inspeksi manual menjadi pendekatan berbasis risiko. Transformasi tersebut turut mencakup peralihan dokumen berbasis kertas menuju integrasi digital yang lebih efisien dan transparan.
Pengawasan yang sebelumnya lebih banyak dilakukan setelah komoditas memasuki perbatasan negara tujuan (post-border control) kini diarahkan menjadi pengawasan aktif dan preventif melalui skema pre-border control atau pengawasan sebelum barang dikirim.
Tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, Barantin juga memperkuat perannya sebagai fasilitator perdagangan melalui pendampingan perusahaan, pembukaan akses pasar baru, serta percepatan layanan karantina untuk mendukung aktivitas ekspor komoditas Indonesia.
Menurut Karding, percepatan layanan karantina dapat membantu menekan biaya operasional pelaku usaha. Di sisi lain, penerapan biosecurity dan sistem ketertelusuran digital berpotensi meningkatkan kepercayaan pasar sehingga memberikan nilai tambah dan harga jual yang lebih kompetitif bagi komoditas ekspor Indonesia.
Untuk memperkuat sistem karantina ekspor secara berkelanjutan, Barantin juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, Badan Riset dan Inovasi Nasional, pelaku usaha, eksportir, serta kalangan legislatif guna memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing komoditas Indonesia di pasar internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































