Waspadai Abu Vulkanis, Kenali Bahaya PM10 dan PM2.5

9 hours ago 6

Waspadai Abu Vulkanis, Kenali Bahaya PM10 dan PM2.5

Tampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/HO-Badan Geologi\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA— Paparan abu vulkanis dapat berdampak pada kesehatan pernapasan karena abu terdiri atas campuran partikel dengan ukuran dan komposisi yang beragam. Sebagian partikel abu yang tersuspensi di udara dapat berada dalam rentang particulate matter (PM) yang berpotensi terhirup manusia.

Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Sondang Ruth Angelia Sirait, M.Ked.(Paru), Sp.P, menjelaskan ukuran partikel menjadi salah satu faktor yang menentukan seberapa jauh abu dapat masuk ke saluran pernapasan.

"Secara umum, semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh partikel dapat masuk ke saluran pernapasan, bahkan sebagian partikel yang sangat halus dapat mencapai saluran napas kecil yang disebut alveolus yang akan menyebabkan peradangan dan stres oksidatif," kata Sondang dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis.

Karena itu, Sondang menegaskan prinsip utama ketika terjadi paparan abu vulkanis adalah mengurangi paparan sedapat mungkin.

Apa Itu PM10 dan PM2.5?

PM10 merupakan partikel dengan diameter aerodinamik 10 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Sementara itu, PM2.5 memiliki diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil sehingga dapat menembus lebih dalam hingga saluran napas kecil di paru.

Semakin kecil ukuran partikel, semakin besar kemungkinan partikel tersebut mencapai bagian saluran pernapasan yang lebih dalam. Namun, dampak abu vulkanik terhadap kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ukuran partikel.

Konsentrasi partikel di udara, durasi paparan, serta komposisi mineral dan kimia abu juga turut memengaruhi dampaknya. Kondisi kesehatan masing-masing orang juga menentukan tingkat kerentanan terhadap paparan.

Dampak Abu Vulkanis bagi Pernapasan

Dalam jangka pendek, paparan abu vulkanis dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, batuk, rasa tidak nyaman di dada, mengi, hingga sesak napas. Paparan abu juga dapat menimbulkan gangguan pada mata dan kulit.

Bagi penderita asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau penyakit paru kronis lainnya, abu vulkanik dapat memicu maupun memperberat gejala.

Anak-anak, lanjut usia, serta orang yang memiliki penyakit paru atau kardiovaskular juga perlu lebih berhati-hati. Kelompok tersebut lebih rentan terhadap dampak paparan partikel di udara.

Cara Mengurangi Risiko Paparan Abu

Untuk mengurangi risiko kesehatan, masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik berat. Aktivitas tersebut dapat meningkatkan frekuensi dan kedalaman napas sehingga jumlah partikel yang terhirup menjadi lebih banyak.

Jika harus berada di luar ruangan atau melakukan aktivitas membersihkan abu, masyarakat disarankan menggunakan masker respirator partikulat seperti KN95, N95, atau standar yang setara.

Masker juga perlu digunakan dengan benar. Pastikan bagian hidung dan mulut tertutup rapat serta tidak terdapat celah besar di sisi masker.

Bagi penderita asma, PPOK, atau penyakit paru kronis lainnya, obat rutin maupun inhaler tetap digunakan sesuai anjuran dokter.

Paparan abu vulkanik juga dapat menyebabkan tenggorokan kering atau mengalami iritasi. Konsumsi air putih yang cukup dapat membantu menjaga hidrasi sekaligus mengurangi rasa tidak nyaman pada tenggorokan.

Kapan Perlu Memeriksakan Diri?

Menurut Sondang, keluhan akibat paparan abu vulkanis dapat bersifat sementara dan membaik setelah paparan dihentikan. Namun, pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan apabila keluhan menetap atau justru semakin memburuk.

"Apabila keluhan menetap, semakin berat, atau terjadi pada seseorang yang memiliki penyakit paru sebelumnya, pemeriksaan diperlukan untuk menentukan apakah terdapat gangguan saluran napas atau fungsi paru yang membutuhkan penanganan lebih lanjut," ujarnya.

Sejumlah keluhan yang perlu diperhatikan antara lain batuk atau sesak napas yang menetap maupun semakin berat, mengi, rasa berat atau tidak nyaman di dada, serta menurunnya toleransi terhadap aktivitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |