
Jebakan tikus - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Keberadaan tikus di rumah, gudang, dan kebun di Bantul kini tak lagi bisa dianggap sepele. Hewan pengerat tersebut berpotensi membawa hantavirus, penyakit zoonosis yang penularannya perlu diwaspadai masyarakat.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Bantul, Samsu Aryanto. Ia menjelaskan bahwa hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan melalui tikus, terutama lewat urine, feses, maupun air liur hewan yang sudah terinfeksi.
“Hantavirus ini berbeda dengan leptospirosis. Kalau leptospirosis disebabkan bakteri Leptospira, sedangkan hantavirus disebabkan virus,” ujar Samsu, Senin (11/5).
Menurutnya, penularan dapat terjadi ketika seseorang bersentuhan langsung dengan kotoran tikus atau menghirup udara yang telah terkontaminasi partikel dari urine maupun feses tikus. Risiko juga muncul dari tanah atau air yang sudah tercemar virus.
Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta lebih waspada, terutama saat membersihkan gudang, plafon rumah, area lembab, atau lokasi yang berpotensi menjadi sarang tikus.
Dinas Kesehatan Bantul mencatat bahwa kasus hantavirus pernah ditemukan di wilayah tersebut. Samsu mengungkapkan, pada 2025 terdapat dua kasus, namun seluruh pasien berhasil sembuh setelah mendapatkan perawatan medis.
“Kalau tahun ini belum ada kasus di Bantul. Tahun 2025 ada dua kasus dan semuanya sudah sembuh,” katanya.
Gejala hantavirus biasanya muncul satu hingga dua minggu setelah paparan, seperti demam, sakit kepala, nyeri tubuh, lemas, hingga jaundice atau kondisi kulit dan mata menguning. Gejala awal ini sering disalahartikan sebagai flu biasa.
Pemerintah Kabupaten Bantul telah menerbitkan Surat Edaran Bupati Bantul Nomor B/400.7.9/01667 tertanggal 20 Mei 2025 terkait kewaspadaan hantavirus dan leptospirosis. Selain itu, Dinkes Bantul melakukan langkah pencegahan melalui pelacakan kasus, surveilans, pemasangan perangkap tikus untuk pemeriksaan laboratorium, hingga edukasi masyarakat.
Upaya tersebut juga melibatkan pendekatan lintas sektor melalui konsep One Health, mengingat penanganan zoonosis tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja.
Samsu menegaskan masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biak tikus.
Warga juga diminta menggunakan alas kaki di area lembab, mencuci tangan dengan sabun setelah membersihkan gudang atau kebun, serta menutup makanan dan air agar tidak terkontaminasi.
“Kalau ada luka terbuka sebaiknya ditutup menggunakan perban kedap air sebelum beraktivitas. Jika terkena kotoran tikus segera dibersihkan dengan sabun dan air mengalir,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































