Video Viral Olok-olok Korban MBG, Pegawai SPPG Muntuk Ditegur BGN

3 hours ago 2

Video Viral Olok-olok Korban MBG, Pegawai SPPG Muntuk Ditegur BGN

Foto ilustrasi dapur MBG yang dikelola SPPG, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, BANTUL— Badan Gizi Nasional (BGN) DIY telah memberikan teguran kepada seorang pegawai SPPG di wilayah Muntuk, Dlingo, Bantul, setelah video yang diduga mengolok-olok korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karo, Sumatra Utara, viral di media sosial.

Pegawai berinisial GM tersebut dan SPPG Muntuk diminta menjaga etika serta cara berkomunikasi dengan masyarakat, termasuk ketika menyampaikan pernyataan melalui media sosial.

Video berdurasi 29 detik itu memperlihatkan GM tengah mengonsumsi chicken katsu. Dalam video tersebut, dia kemudian menyampaikan pernyataan yang dinilai mengolok-olok Febiona Purba, siswi SMK Bersama Berastagi yang menjadi korban keracunan MBG.

“Gua makan chicken katsu masakan kemarin apakah masih enak oh tidak. Ingatanku hilang tujuh puluh persen,” ujarnya.

BGN Klarifikasi Pegawai SPPG Muntuk

Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, mengatakan GM merupakan pengawas keuangan di SPPG Muntuk.

BGN telah melakukan klarifikasi terhadap pegawai tersebut. Setelah itu, teguran diberikan kepada GM dan SPPG yang bersangkutan.

“Betul, dari kami juga sudah memberikan teguran kepada SPPG dan yang bersangkutan,” kata Gagat, Sabtu (19/9/2026).

Gagat menyayangkan apabila terdapat pernyataan dari jajaran SPPG yang tidak menunjukkan empati kepada masyarakat yang diduga terdampak kejadian keracunan MBG.

Menurut dia, setiap kejadian yang berkaitan dengan keamanan pangan harus disikapi secara serius. Dalam kondisi tersebut, sikap kemanusiaan dan empati perlu menjadi perhatian seluruh jajaran SPPG.

“Yang harus dikedepankan adalah rasa kemanusiaan, empati, sensitivitas, dan saling menghormati,” ujarnya.

Personel SPPG Diminta Menjaga Etika di Media Sosial

Gagat menegaskan kejadian keamanan pangan di satu daerah seharusnya menjadi pembelajaran bagi seluruh jajaran SPPG.

Menurutnya, kejadian yang menimpa penerima manfaat tidak semestinya dijadikan bahan candaan, olok-olok, maupun komentar yang dapat melukai pihak yang sedang menghadapi kondisi sulit.

Karena itu, seluruh jajaran SPPG kembali diingatkan mengenai pentingnya etika komunikasi. Imbauan tersebut berlaku mulai dari koordinator wilayah, koordinator kecamatan, kepala SPPG, pengawas gizi, pengawas keuangan hingga seluruh personel.

Etika tersebut juga perlu diterapkan ketika personel SPPG menggunakan media sosial. Pernyataan yang disampaikan di ruang digital tetap harus mempertimbangkan kondisi masyarakat serta dampaknya.

“Jangan sampai karena ingin memberikan komentar, justru muncul pernyataan yang tidak sensitif dan kemudian memperbesar persoalan,” katanya.

BGN Dorong Penguatan Tata Kelola SPPG

Selain menyoroti etika komunikasi, BGN juga akan terus mendorong penguatan tata kelola dan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) dalam penyelenggaraan SPPG.

Gagat mengatakan personel SPPG tidak hanya dituntut menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada masyarakat. Cara berkomunikasi dan memperlakukan masyarakat juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

“Kita bekerja untuk masyarakat. Karena itu, mari jaga bukan hanya kualitas makanan yang kita berikan, tetapi juga cara kita memperlakukan dan berkomunikasi dengan masyarakat,” pungkasnya.

Teguran terhadap pegawai SPPG Muntuk tersebut diberikan setelah munculnya video berdurasi 29 detik yang tersebar di media sosial dan memicu perhatian terkait cara jajaran SPPG merespons kejadian keracunan MBG di Karo, Sumatra Utara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |