Harianjogja.com, JAKARTA— Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan pada pelayanan saraf dan bedah saraf di Indonesia. Pengembangan advanced imaging, neuromodulasi, artificial intelligence, precision medicine, hingga teknologi bedah semakin memperkuat kemampuan diagnosis dan tata laksana berbagai kondisi neurologis.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 yang mengusung tema “Beyond Boundaries: Unlocking a New Era of Neuroscience”. Forum ini menekankan pentingnya integrasi lintas disiplin, teknologi, dan pendekatan klinis dalam menghadirkan layanan neuroscience yang semakin tepat, aman, dan efektif.
Prof. Dr. dr. Yusak Mangara Tua Siahaan, Sp.N, Subs. NNK (K), FIPP, CIPS, Chairman The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026, mengatakan masa depan neuroscience membutuhkan kolaborasi lintas disiplin serta pertukaran pengetahuan yang semakin terbuka.
"'Beyond Boundaries' menggambarkan semangat untuk melampaui batas-batas yang ada, menghubungkan berbagai keahlian, teknologi, dan perspektif untuk menghadirkan pendekatan yang lebih terintegrasi dalam layanan neuroscience di Indonesia." ujarnya dalam The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 bertema "Beyond Boundaries: Unlocking a New Era of Neuroscience".
Berbagai kemajuan di bidang neuroscience dinilai membuka peluang untuk menghadirkan pelayanan yang semakin tepat, aman, dan efektif bagi pasien. Kolaborasi lintas disiplin diharapkan dapat mempercepat penerapan berbagai inovasi tersebut dalam praktik klinis.
Teknologi Harus Berdampak bagi Pasien
Prof. Dr. dr. Julius July, Sp.BS (K), M.Kes, IFAANS, menekankan bahwa perkembangan ilmu dan teknologi harus bermuara pada manfaat nyata bagi pasien.
"Kemajuan neuroscience bukan hanya tentang seberapa jauh teknologi berkembang, tetapi bagaimana perkembangan tersebut dapat diterjemahkan menjadi pelayanan yang lebih tepat, aman, dan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien. Dalam 30 tahun terakhir, kami melihat bagaimana perkembangan ilmu, teknik bedah, teknologi, dan kolaborasi multidisiplin mengubah penanganan berbagai kasus neurologis. Tantangan berikutnya adalah bagaimana kita terus mendorong batas tersebut dan membawa manfaatnya lebih luas bagi pasien di Indonesia."
Sejalan dengan hal tersebut, Caroline Riady, CEO Siloam International Hospitals, mengatakan Siloam Hospitals Lippo Village akan terus mengembangkan layanan neurologi dan bedah saraf untuk menjawab kebutuhan pasien yang semakin kompleks.
Berbekal pengalaman selama 30 tahun, pengembangan tersebut diarahkan untuk menghadirkan layanan yang semakin terintegrasi, berkualitas, dan berpusat pada pasien.
Selama tiga dekade, Siloam Hospitals Lippo Village telah mengembangkan layanan neuroscience di Indonesia melalui penguatan keahlian klinis, layanan subspesialisasi, pendidikan, penelitian, serta inovasi teknologi medis.
Tiga Dekade Pengembangan Neuroscience
Perjalanan tersebut bermula dari pembentukan Neuroscience Centre Siloam Hospitals Lippo Village pada 1996. Pengembangan layanan neuroscience di rumah sakit tersebut turut dirintis oleh Prof. Dr. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp.BS (K), PhD, yang juga melakukan prosedur bedah pada area batang otak (brain stem surgery) pertama di Asia Tenggara.
Saat ini, Siloam Hospitals Lippo Village menjadi pusat rujukan neuroscience di Indonesia dengan keahlian dalam menangani berbagai kondisi saraf dan bedah saraf kompleks.
Rumah sakit tersebut telah menangani lebih dari 20.000 kasus neuroscience kompleks. Pelayanan didukung 16 dokter spesialis saraf dan 10 dokter spesialis bedah saraf.
Layanan Neurologi dan Bedah Saraf yang tersedia mencakup neurointervensi, rehabilitasi saraf, neuro-onkologi, gangguan perilaku, neurodegeneratif, neurorestorasi, Memory & Aging Clinic, Pain Management, Deep Brain Simulation (DBS), terapi stroke akut melalui penghancuran dan pengangkatan sumbantan pembuluh darah otak hingga awake brain surgery.
Salah satu prosedur yang telah dilakukan selama hampir dua dekade adalah awake brain surgery. Prosedur bedah saraf kompleks berpresisi tinggi ini menggunakan pendekatan multidisiplin, dengan pasien tetap sadar pada tahap tertentu selama operasi untuk memungkinkan pemantauan fungsi saraf secara langsung.
Tantangan Penanganan Stroke di Indonesia
Penguatan layanan saraf dan bedah saraf semakin relevan dengan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan neurologi di Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, stroke menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia dengan sekitar 337.000 kematian tercatat setiap tahunnya.
Dalam penanganan stroke, kecepatan dan ketepatan diagnosis menjadi bagian penting. Koordinasi multidisiplin serta penerapan protokol klinis yang terstandar juga menjadi faktor dalam menentukan kualitas penanganan pasien.
Di Siloam Hospitals Lippo Village, penanganan tersebut didukung kemampuan diagnostik dan intervensi tingkat lanjut, stroke pathway yang terintegrasi, serta protokol klinis yang terstandar.
Dengan pendekatan tersebut, pasien dapat memperoleh penanganan secara lebih holistik dan komprehensif, mulai dari diagnosis hingga intervensi dan pemulihan.
Penguatan layanan tersebut turut mendukung pencapaian Siloam Hospitals Lippo Village sebagai rumah sakit pertama di Indonesia yang meraih Clinical Care Program Certification (CCPC) dari Joint Commission International (JCI) untuk Acute Ischemic Stroke Program.
Perkuat Ekosistem Neuroscience
Caroline Riady mengatakan selama tiga puluh tahun Siloam Hospitals Lippo Village terus berinvestasi dalam keahlian, teknologi, inovasi, dan kolaborasi untuk memperkuat layanan saraf dan bedah saraf di Indonesia.
"Perjalanan ini tidak hanya membangun keunggulan klinis, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ekosistem neuroscience melalui pendidikan dan penelitian. Kami percaya bahwa kemajuan di bidang ini ditentukan tidak hanya oleh teknologi, tetapi juga oleh kompetensi tenaga kesehatan dan kemampuan menghadirkan inovasi yang berdampak bagi pasien. Melalui Siloam Neuroscience Summit, kami ingin memperkuat kolaborasi dan pertukaran pengetahuan untuk memajukan kesehatan otak dan saraf di Indonesia." tuturnya.
Perkembangan layanan neuroscience tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan kebutuhan terhadap kompetensi tenaga kesehatan, kolaborasi multidisiplin, pendidikan, dan penelitian. Integrasi berbagai unsur itu menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan saraf dan bedah saraf yang semakin komprehensif bagi pasien di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com

















































