Ribuan Pelajar Sleman Alami Hipertensi, Gaya Hidup Jadi Sorotan

4 hours ago 1

Harianjogja.com, SLEMAN — Ancaman tekanan darah tinggi kini tidak lagi identik dengan orang dewasa. Hasil skrining program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Sleman justru mengungkap ribuan pelajar sudah mengalami gejala hipertensi sejak usia sekolah.

Berdasarkan data aplikasi ASIK CKG milik Kementerian Kesehatan, sepanjang 2025 sebanyak 98.770 siswa dari jenjang SD hingga SMA telah menjalani pemeriksaan kesehatan. Hasilnya, sekitar 18.233 anak atau 18,46 persen terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sleman, Seruni Angreni Susila, menjelaskan tingginya angka tersebut tidak lepas dari cakupan skrining yang semakin luas setiap tahun.

“Jadi memang bisa berulang kembali, atau ada yang baru yang sebelumnya di usia balita, atau sudah lulus ke usia dewasa,” katanya, Jumat (8/5/2026).

Ia mengungkapkan, pada usia anak-anak, hipertensi umumnya dipengaruhi faktor bawaan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perubahan gaya hidup menjadi pemicu utama meningkatnya kasus pada remaja.

“Kalau usia dini memang cenderung faktor bawaan, namun sejak ada perubahan gaya hidup, obesitas, sekarang anak SMP SMA pun mulai kena tekanan darah tinggi akibat gaya hidup yang tidak sehat,” ujarnya.

Pola makan tinggi gula dan garam, minim aktivitas fisik, serta kebiasaan begadang disebut menjadi kombinasi faktor yang memperburuk kondisi kesehatan pelajar. Meski demikian, Seruni menegaskan bahwa skrining CKG masih berada pada tahap deteksi dini, bukan diagnosis medis final.

“Apabila ditemukan masalah kesehatan berisiko, seperti tekanan darah tinggi, maka anak sekolah diberi rujukan untuk periksa lebih lanjut,” jelasnya.

Selain hipertensi, skrining juga mengungkap persoalan lain yang tidak kalah serius. Masalah kesehatan mental mulai banyak ditemukan pada pelajar. Pada 2025, tercatat 5,26 persen anak mengalami kecemasan ringan dan 2,06 persen kecemasan berat. Sementara depresi ringan mencapai 5,6 persen dan depresi berat 2,38 persen.

Masalah kesehatan gigi juga masih mendominasi. Sebanyak 34,74 persen anak mengalami karies gigi pada 2025, dan meningkat menjadi 40,32 persen pada 2026.

Seruni menilai penggunaan gawai sejak usia dini ikut memengaruhi kondisi psikologis anak. Namun, ia menekankan bahwa gangguan mental tidak disebabkan satu faktor saja.

“Ketidakseimbangan yang terjadi di salah satu atau lebih dari individu, keluarga atau lingkungan, maka dapat memicu masalah kejiwaan yang lebih berat,” katanya.

Sementara itu, hingga 1 Mei 2026, program CKG di Sleman telah menjangkau 11.988 anak. Hasil sementara menunjukkan 10,87 persen mengalami tekanan darah tinggi, disertai temuan kecemasan dan depresi dalam berbagai tingkat.

Ia menegaskan, meningkatnya angka temuan bukan berarti kondisi kesehatan anak memburuk, melainkan karena deteksi kini lebih masif dan menjangkau lebih banyak siswa.

Dengan temuan ini, Dinas Kesehatan Sleman mendorong penguatan edukasi pola hidup sehat sejak dini, mulai dari keluarga hingga sekolah, agar risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi bisa ditekan sejak usia muda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |