New York Larang Penggunaan AI Generatif di Sekolah, Ini Alasannya

9 hours ago 5

Newswire

Newswire Jum'at, 11 September 2026 08:07 WIB

New York Larang Penggunaan AI Generatif di Sekolah, Ini Alasannya

Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Pemerintah New York resmi menerapkan moratorium penggunaan generative artificial intelligence (AI) bagi siswa kelas 2-K hingga kelas 8. Kebijakan tersebut diberlakukan untuk mempelajari lebih jauh dampak teknologi AI terhadap tumbuh kembang dan kemampuan kognitif anak.

Wali Kota New York Zohran Mamdani mengumumkan kebijakan tersebut pada 2 September. Menurutnya, satu tahun ke depan akan digunakan untuk mempelajari dampak teknologi AI terhadap siswa.

“Mulai tahun ajaran ini, kami akan menerapkan moratorium penggunaan AI generatif bagi siswa kelas 2-K hingga kelas 8 dan menggunakan satu tahun ke depan untuk mempelajari dampak teknologi ini,” kata Mamdani saat mengumumkan penerapan kebijakan ini pada 2 September lalu, dikutip dari laman resmi pemerintah New York.

Sementara itu, siswa SMA tidak sepenuhnya dilarang menggunakan AI. Mereka akan mendapatkan pelatihan dan modul khusus mengenai kemampuan berpikir kritis saat memanfaatkan teknologi tersebut.

AI dan Tumbuh Kembang Anak

Kebijakan pelarangan AI generatif di sekolah New York menimbulkan pro dan kontra. Sebagian pihak menilai pembatasan tersebut berpotensi membuat anak tertinggal dalam perkembangan teknologi pada masa depan.

Di sisi lain, pembatasan penggunaan AI dinilai dapat memberikan kesempatan untuk mengurangi paparan teknologi secara berlebihan pada anak. Hal tersebut menjadi penting karena pengalaman pada periode awal pertumbuhan dapat memengaruhi perkembangan fisik, emosi, kemampuan kognitif, hingga kemampuan sosial anak.

Unicef menjelaskan pengalaman pada periode awal pertumbuhan anak dapat membawa pengaruh hingga masa berikutnya. Periode tersebut juga menjadi fase penting dalam perkembangan otak anak.

Lantas, bagaimana penggunaan AI dapat memengaruhi kesehatan kognitif dan perkembangan sosial anak?

1. Attention Span Anak Bisa Makin Pendek

Penggunaan AI tanpa pengawasan pada anak dapat berdampak terhadap durasi perhatian atau attention span. Dilansir dari UVA Health, penggunaan AI tanpa pengawasan berpotensi membuat durasi perhatian anak dalam menyerap informasi menjadi lebih pendek.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan anak dalam berpikir serta memahami informasi secara komprehensif. Salah satu contohnya ketika anak harus membaca paragraf panjang dalam novel maupun literatur.

2. Anak Bisa Kesulitan Mengembangkan Kemampuan Sosial

Penggunaan AI juga berkaitan dengan pola interaksi sosial anak dan remaja. Lebih dari 70 persen remaja di Amerika Serikat menggunakan chatbot AI sebagai teman dalam keseharian mereka.

CEO OpenAI Sam Altman juga menyatakan adanya ketergantungan emosional yang berlebih terhadap AI di kalangan remaja.

Interaksi dengan AI memiliki karakter berbeda dibandingkan hubungan antarmanusia. AI cenderung memberikan respons yang sesuai dengan preferensi pengguna tanpa sanggahan, perdebatan, maupun konflik.

American Psychological Association (APA) menekankan bahwa hubungan yang terlalu erat dengan karakter AI dapat mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia maya. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kondisi mental anak.

Ketergantungan emosional terhadap AI yang disertai minimnya interaksi sosial dapat membuat anak lebih sulit mempelajari empati, mendengarkan pendapat orang lain, serta mencari solusi ketika menghadapi konflik.

3. Anak Cenderung Mencari Jawaban Instan

AI dapat membantu proses belajar anak, tetapi teknologi tersebut tidak semestinya menggantikan seluruh proses berpikir. Anak tetap perlu belajar mempertanyakan jawaban yang diberikan AI karena teknologi tersebut tidak selalu menghasilkan informasi yang akurat.

UVA Health menyebut jawaban yang diperoleh secara cepat tidak selalu berarti kemampuan belajar anak meningkat. Proses belajar tetap membutuhkan usaha anak untuk mencari dan memahami jawaban secara mandiri.

Anak perlu membaca teks, mencari arti kata yang belum dipahami, serta menyusun langkah-langkah untuk menemukan jawaban yang akurat. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam melatih kemampuan berpikir dan memahami informasi secara menyeluruh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |