Foto ilustrasi. Sri Sultan HB X, Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Gubernur DIY, menyapa lurah dan pamong dalam acara Jogja Nyawiji ing Pesta Demokrasi di Monumen Jogja Kembali, Sabtu (28/10 - 2023).
Cinta untuk Raja: Ribuan Lurah & Pamong Sowan untuk Mangayu Bagya 80 Tahun Sultan HB X
Peringatan hari ulang tahun ke-80 Gubernur DIY sekaligus Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB X, pada Kamis (2/4/2026) akan dimeriahkan dengan parade budaya. Ribuan lurah dan pamong kalurahan yang tergabung dalam Paguyuban Nayantaka DIY berencana Sowan Bersama dengan membawa hasil bumi atau potensi unggulan dari wilayah masing-masing sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih masyarakat kepada Sultan.
Acara yang digagas pamong kalurahan bersama unsur Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKK) se-DIY itu adalah Mangayu Bagya Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X ke-80.
Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan DIY Nayantaka, Gandang Hardjanta, menyampaikan momentum ini memiliki makna khusus bagi kalurahan di seluruh DIY. Ia menilai Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah teladan dalam memimpin, baik sebagai gubernur maupun sebagai raja.
“Sebagai gubernur sekaligus raja, cara beliau menempatkan diri menjadi contoh bagi kami. Di usia beliau yang ke-80 ini, kami ingin memberikan semangat serta penghargaan atas pengabdian beliau,” ujar Gandang di Sekretariat Nayantaka, Jogja, Senin (30/3/2026).
Kegiatan ini sebesar ini belum pernah terjadi dalam skala keterlibatan kalurahan se-DIY. Partisipasi luas dari berbagai wilayah menjadi bentuk kebersamaan yang kuat antara pemerintah kalurahan dan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, pamong kalurahan bersama masyarakat akan sowan dengan membawa hasil bumi atau potensi unggulan dari wilayah masing-masing. Kontribusi tersebut bersifat sukarela dan tidak ada unsur paksaan.
“Tidak ada yang diwajibkan. Semua berdasarkan keikhlasan dan kemampuan masing-masing kalurahan. Apa yang dimiliki, itulah yang dibawa. Yang dari pesisir mungkin membawa kelapa, yang lain membawa hasil bumi berbeda. Ini bagian dari rasa terima kasih kami. Sebagian kecil hasil dari pengelolaan tersebut kami kembalikan sebagai bentuk penghormatan,” ujar dia.
Hasil bumi yang dibawa dalam kegiatan tersebut nantinya tidak hanya menjadi simbol penghormatan. Hasil tersebut akan didistribusikan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan melalui pemerintah kabupaten/kota.
“Konsepnya dari masyarakat, kembali ke masyarakat. Ini sekaligus wujud gotong royong.”
Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk perangkat daerah yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Menurutnya, selama ini kalurahan telah merasakan manfaat dari pengelolaan tanah kasultanan yang digunakan untuk kepentingan masyarakat.
Kegiatan ini diperkirakan melibatkan sekitar 10.000 hingga 12.000 peserta dari 392 kalurahan di empat kabupaten serta Kota Jogja. Setiap kalurahan diperkirakan mengirimkan 20 hingga 30 orang perwakilan.
Para lurah dan pamong akan mengenakan pakaian adat Jogja sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi. Sementara itu, masyarakat yang turut serta dapat mengenakan batik. Gandang menegaskan kegiatan ini terbuka bagi masyarakat yang ingin ikut berpartisipasi. Namun, jumlah peserta tetap dibatasi demi menjaga kenyamanan serta kelancaran acara.
Rombongan dijadwalkan berkumpul di kawasan Titik Nol Kilometer Jogja sebelum bergerak secara bertahap menuju Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Urutan keberangkatan dimulai dari Kota Jogja, Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan terakhir Gunungkidul, dengan mempertimbangkan jarak tempuh masing-masing wilayah.
Gandang juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan. Ia berharap masyarakat dapat memberikan pengertian karena kegiatan ini hanya berlangsung dalam waktu terbatas.
“Kami mohon keikhlasan masyarakat. Mungkin ada sedikit gangguan aktivitas, tetapi ini hanya satu hari. Mari kita luangkan waktu untuk memberikan penghormatan,” ujarnya.
Rekayasa Lalu Lintas
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menyampaikan tingginya antusiasme masyarakat diperkirakan akan berdampak pada arus lalu lintas di kawasan pusat kota. Oleh karena itu, rekayasa lalu lintas akan diterapkan guna mendukung kelancaran ini.
“Ini adalah acara yang monumental dan belum pernah dilaksanakan dalam skala sebesar ini di era modern. Kami memohon masyarakat untuk beradaptasi. Arus lalu lintas akan dialihkan, namun area seperti Plengkung Wijilan atau Ibu Ruswo tetap diupayakan bisa mengalir meski terbatas,” jelas Erni.
Sejumlah ruas jalan akan ditutup secara bertahap, terutama di kawasan Malioboro dan sekitarnya. Penutupan dilakukan karena diperkirakan banyak masyarakat yang berjalan kaki menuju Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dari Titik Nol Kilometer.
“Arus dari sisi utara akan kami tutup hingga ke selatan. Kemudian akses ke Malioboro, termasuk jalur-jalur kecilnya, juga akan kami batasi untuk mendukung kelancaran pergerakan peserta,” jelas Erni.
Selain itu, penutupan juga akan dilakukan di sejumlah titik strategis lain seperti Jalan Senopati dari arah timur serta akses dari arah barat di sekitar kawasan PKU. Meski demikian, beberapa ruas alternatif tetap dibuka secara terbatas untuk menjaga mobilitas masyarakat di sekitar lokasi.
Erni menambahkan Dinas Perhubungan DIY telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota serta kepolisian untuk mengatur arus lalu lintas. Kolaborasi ini diharapkan mampu meminimalkan kemacetan dan memastikan kegiatan berjalan dengan aman serta tertib.
Dinas Perhubungan DIY juga menyiapkan 16 titik kantong parkir yang tersebar di sejumlah lokasi. Pengaturan ini dilakukan dengan mempertimbangkan asal rombongan peserta dari masing-masing wilayah.
“Setelah parkir, peserta akan berjalan kaki menuju kawasan pagelaran. Kami sudah mengatur pembagian lokasi parkir agar tidak terjadi penumpukan di satu titik,” ujarnya.
Beberapa lokasi parkir yang disiapkan di antaranya berada di kawasan strategis seperti sekitar Sriwedani dan Ketandan. Informasi detail terkait titik parkir dan rekayasa lalu lintas akan disosialisasikan lebih lanjut kepada masyarakat.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas selama pelaksanaan kegiatan berlangsung. Dukungan publik dinilai penting agar agenda besar ini dapat berjalan lancar tanpa menimbulkan gangguan berarti.
“Kami mohon masyarakat dapat beradaptasi dengan pengaturan lalu lintas yang diberlakukan. Informasi ini juga kami harapkan dapat disampaikan secara luas agar semua pihak dapat mempersiapkan diri,” kata Erni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































