Newswire Kamis, 10 September 2026 10:47 WIB

Ilustrasi, penanganan korban keracunan makanan di RSUD R.T Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur /Bisnis-Julianus Palermo\r\n\r\n
Harianjogja.com, JAKARTA—Sakit perut yang kemudian disertai mual, muntah, dan diare setelah makan perlu diwaspadai sebagai gejala keracunan makanan. Meski keluhan tersebut sering terlihat sederhana, kondisi dapat memburuk apabila tidak ditangani dengan tepat.
Dilansir dari Mayo Clinic, keracunan makanan terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, parasit, racun, atau zat berbahaya lainnya. Kontaminasi makanan dapat terjadi dalam berbagai tahapan, mulai dari pengolahan hingga penyimpanan yang tidak tepat.
Waktu munculnya gejala keracunan makanan juga bisa berbeda pada setiap orang. Ada yang mulai merasakan keluhan hanya beberapa jam setelah makan, tetapi pada kondisi tertentu gejala baru muncul beberapa hari kemudian.
Gejala Keracunan Makanan
Cleveland Clinic menyebut mual, muntah, sakit perut, dan diare sebagai gejala keracunan makanan yang paling umum. Selain itu, penderita dapat mengalami demam, sakit kepala, serta tubuh yang terasa lemas.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kehilangan cairan akibat muntah dan diare berulang. Kondisi tersebut dapat membuat tubuh kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah cukup banyak.
Apabila cairan yang hilang tidak segera digantikan, penderita dapat mengalami dehidrasi. Beberapa tandanya meliputi rasa haus berlebihan, mulut kering, tubuh lemas, pusing, urine berwarna lebih gelap, serta frekuensi buang air kecil yang menjadi lebih jarang.
Karena itu, menjaga tubuh tetap terhidrasi menjadi salah satu langkah penting ketika mengalami keracunan makanan.
Pertolongan Pertama Keracunan Makanan
Dilansir dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease (NIDD), ketika muntah atau diare mulai terjadi, penderita perlu berusaha mendapatkan cukup cairan untuk mencegah dehidrasi. Air dapat diminum secara perlahan.
Jika rasa mual atau muntah masih muncul, sebaiknya jangan minum dalam jumlah banyak sekaligus. Konsumsi cairan dalam tegukan kecil tetapi lebih sering dapat dilakukan agar kebutuhan cairan tetap terpenuhi.
Cairan yang mengandung elektrolit juga dapat membantu menggantikan cairan dan mineral yang hilang akibat muntah maupun diare. Larutan rehidrasi oral atau oralit dapat digunakan untuk membantu mengganti cairan dan elektrolit, terutama ketika diare yang dialami cukup banyak.
Selain mencukupi kebutuhan cairan, penderita keracunan makanan juga perlu beristirahat dan memantau perkembangan gejalanya.
Penggunaan obat untuk menghentikan diare juga tidak boleh dilakukan sembarangan. Pada kondisi tertentu, obat antidiare justru tidak dianjurkan, terutama apabila diare disertai darah atau demam.
Karena itu, penggunaan obat sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis untuk memastikan penanganan yang tepat.
Kapan Harus ke Dokter?
Sebagian besar kasus keracunan makanan dapat membaik dengan sendirinya. Namun, terdapat sejumlah kondisi yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Segera cari pertolongan apabila penderita mengalami diare berdarah, tinja berwarna hitam, sakit perut yang parah, demam tinggi, atau pingsan.
Muntah yang berlangsung terus-menerus juga perlu diwaspadai karena dapat membuat penderita tidak mampu mempertahankan asupan cairan. Dalam kondisi tersebut, penanganan medis yang tepat diperlukan.
Perhatian lebih juga perlu diberikan kepada kelompok tertentu, seperti bayi dan anak kecil, lansia, serta ibu hamil. Kelompok tersebut memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi ketika mengalami keracunan makanan.
Ketika gejala keracunan makanan mulai muncul, pastikan tubuh tetap mendapatkan cukup cairan sambil terus memantau kondisi. Jika gejala semakin berat atau muncul tanda bahaya, jangan menunda mencari pertolongan medis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































