Kemarau Panjang Mengintai, BPBD Kulonprogo Antisipasi Krisis Air

2 hours ago 3

Harianjogja.com, KULONPROGO — Ancaman fenomena El Nino yang disebut-sebut berpotensi berkembang menjadi “El Nino Godzilla” mulai diwaspadai serius oleh pemerintah daerah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo memprediksi dampak paling nyata yang akan dirasakan masyarakat adalah kekeringan dan krisis air bersih.

Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan BPBD Kulonprogo, Eko Susanto, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi awal. Salah satunya dengan menyediakan sekitar 20 tangki air bersih untuk kebutuhan darurat jika kekeringan mulai terjadi.

Menurut Eko, persediaan tersebut masih bersifat sementara dan akan terus ditambah seiring meningkatnya kebutuhan di lapangan. Nantinya, distribusi air bersih akan dikoordinasikan secara terpusat oleh BPBD Kulonprogo agar penyalurannya tepat sasaran.

Meski hingga kini belum ada laporan kekeringan dari masyarakat, BPBD memastikan sistem pelaporan berjenjang tetap disiapkan. Warga yang mengalami kesulitan air bersih dapat melapor melalui jalur pemerintahan setempat untuk kemudian ditindaklanjuti dengan pengiriman bantuan air.

“Distribusi akan diprioritaskan ke wilayah yang benar-benar membutuhkan. Kami juga akan memastikan kapasitas penampungan air milik warga agar bantuan tidak terbuang percuma,” ujar Eko.

Selain itu, koordinasi lintas sektor akan diperkuat saat memasuki puncak musim kemarau. Hal ini dilakukan untuk memetakan wilayah rawan kekeringan sekaligus menentukan skala prioritas penanganan.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Feriomex Hutagalung, memperkirakan wilayah DIY mulai memasuki musim kemarau sejak pertengahan April. Kondisi ini diprediksi berlangsung hingga menjelang Agustus dengan potensi suhu udara mencapai 34 hingga 35 derajat Celsius.

Ia menjelaskan, meski suhu tersebut belum masuk kategori gelombang panas, kondisi cuaca kering dan minim curah hujan tetap berpotensi memicu berbagai dampak lanjutan. Selain kekeringan, risiko kebakaran lahan juga meningkat signifikan.

Lebih jauh, Feriomex mengingatkan bahwa dampak El Nino tidak hanya dirasakan pada sektor air bersih, tetapi juga berpengaruh pada pertanian. Penurunan ketersediaan air dapat mengganggu produktivitas lahan dan berujung pada kerugian ekonomi bagi petani.

Karena itu, pemerintah daerah didorong segera menyiapkan langkah mitigasi komprehensif guna mengantisipasi dampak yang lebih luas. Upaya tersebut dinilai penting agar masyarakat tetap dapat beraktivitas dengan aman dan kebutuhan dasar, terutama air bersih, tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |