Jelajah Edukasi Dasar di Sleman Bahas Pendidikan yang Relevan dan Manusiawi

6 hours ago 6

Jelajah Edukasi Dasar di Sleman Bahas Pendidikan yang Relevan dan Manusiawi

Ilustrasi anak-anak tengah belajar membaca/magnific

Harianjogja.com, SLEMAN—Ruang kelas tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menemukan pengalaman, pertanyaan, dan gagasan baru tentang pendidikan. Gagasan pendidikan yang memanusiakan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Jelajah Edukasi Dasar yang kembali digelar Yayasan Dinamika Edukasi Dasar.

Jelajah Edukasi Dasar tahun ini memasuki penyelenggaraan ketiga dengan mengusung tema Impian dari Yogyakarta: Dari Ruang Kelas untuk Masa Depan Pendidikan. Kegiatan tersebut akan berlangsung di Kompleks Sekolah Eksperimental Mangunan, Cupuwatu II, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Sabtu (19/9/2026).

Pengurus Yayasan Dinamika Edukasi Dasar Carolus Borromeus Mulyatno mengatakan kegiatan ini menjadi ruang bagi guru dan tenaga kependidikan untuk berbagi pengalaman serta hasil praktik pembelajaran di sekolah.

Pengalaman tersebut, menurut Mulyatno, tidak berhenti sebagai cerita. Pengalaman pembelajaran dikembangkan melalui action research atau penelitian tindakan yang kemudian digunakan untuk melihat berbagai persoalan pendidikan dari perspektif yang lebih luas.

“Jelajah Edukasi Dasar dirancang sebagai pengalaman belajar. Peserta tidak hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mengamati, mengalami, berdialog, dan merefleksikan berbagai realitas pendidikan secara langsung,” kata Mulyatno kepada Harianjogja.com, Senin (7/9/2026).

Bahas Perlindungan Murid hingga Inovasi Pembelajaran

Beragam persoalan pendidikan akan dibahas dalam Jelajah Edukasi Dasar tahun ini. Isunya mulai dari perlindungan murid hingga strategi pembelajaran yang dapat diterapkan di ruang kelas.

Dalam sesi seminar, peserta akan mendapatkan pembahasan mengenai pendampingan murid korban kekerasan melalui kolaborasi sekolah dan instansi pemerintahan. Ada pula materi tentang pengenalan kedisiplinan pada anak, peningkatan keterampilan menulis, serta upaya meningkatkan minat makan anak melalui kegiatan taman gizi.

Sejumlah materi lainnya menyoroti inovasi pembelajaran. Di antaranya pembelajaran kelas ekspresi, pengembangan model pembelajaran berbasis Cooperative Circuit Games (CCG), peningkatan pemahaman IPA melalui strategi pembelajaran yang menyenangkan, serta penguatan kemitraan sekolah dan orang tua dalam pendampingan anak.

Ragam tema tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman di ruang kelas dapat menjadi bahan untuk mengembangkan pendekatan pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan anak dan lingkungan sekolah.

Hadirkan 18 Narasumber Workshop

Selain seminar, Jelajah Edukasi Dasar juga menghadirkan sesi workshop dengan 18 narasumber. Berbagai materi disiapkan untuk memperkaya pengalaman dan keterampilan guru maupun tenaga kependidikan.

Materi workshop antara lain integrasi kompetensi komunikatif dan literasi untuk siswa kelas IX, metode multisensori dalam pengenalan huruf anak TK, strategi pengelolaan emosi anak, pembelajaran berdiferensiasi, penguatan motivasi belajar berbasis game, hingga pemanfaatan data supervisi BPJS.

Rangkaian kegiatan juga dilengkapi gelar wicara bersama Mulyatno dan Bukik Setiawan dari Guru Belajar Foundation. Gelar wicara tersebut mengangkat tema “Impian dari Yogyakarta: Pendidikan yang Memanusiakan dan Relevansi Pemikiran Y.B. Mangunwijaya.”

Mulyatno yang juga Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengatakan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan masyarakat, lingkungan, perubahan zaman, serta tantangan yang akan dihadapi generasi mendatang.

Karena itu, Jelajah Edukasi Dasar diarahkan agar peserta dapat melihat persoalan pendidikan secara lebih luas, termasuk menghubungkan pengalaman pembelajaran di sekolah dengan perubahan dan kebutuhan generasi mendatang.

Dorong Pendidikan yang Lebih Manusiawi

Melalui Jelajah Edukasi Dasar, Yayasan Dinamika Edukasi Dasar ingin mendorong peserta memandang ruang kelas secara lebih luas. Ruang kelas bukan sekadar lokasi berlangsungnya proses belajar-mengajar, melainkan tempat tumbuhnya pengalaman, pertanyaan, dan gagasan mengenai pendidikan untuk masa depan.

Kegiatan ini dapat diikuti secara luring maupun daring. Guru, tenaga kependidikan, dan peserta diharapkan dapat memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai ruang untuk bertukar pengalaman sekaligus mengembangkan gagasan tentang pendidikan yang lebih manusiawi dan relevan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |