JBBA 2026: Usung Konsep Penghargaan Berbasis Hamemayu Hayuning Bawana

3 hours ago 4

 Usung Konsep Penghargaan Berbasis Hamemayu Hayuning Bawana

JBBA 2026 mengusung filosofi Hamemayu Hayuning Bawana dengan penilaian berbasis pendidikan, budaya, dan ekonomi berkelanjutan. /Harian Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA—Keberhasilan sebuah organisasi tidak lagi hanya dilihat dari pertumbuhan bisnis, pencapaian finansial, atau popularitas sebuah merek saja. Hari ini masyarakat menaruh perhatian lebih besar pada dampak yang dihasilkan. Kontribusi terhadap masyarakat, pelestarian budaya, hingga keberlanjutan lingkungan menjadi aspek yang semakin diperhitungkan.

Konsep tersebut menjadi roh Jogja Brand and Business Awards (JBBA) 2026 yang mengedepankan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana dalam memberikan apresiasi kepada pembuat kebijakan dan organisasi. Sebuah filosofi hidup masyarakat Jogja yang berasal dari budaya Jawa, di mana manusia wajib melindungi, memelihara, serta memperindah dunia, baik dalam hal menjaga kelestarian alam, menciptakan kedamaian sosial, hingga keseimbangan batin.

JBBA 2026 dirancang untuk memberikan apresiasi bagi organisasi yang mampu bertumbuh secara bertanggung jawab. Penilaian tidak hanya didasarkan pada keberhasilan bisnis, tetapi juga pada kontribusi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, melestarikan budaya, dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan.

Tema JBBA 2026, Smartly Cultured, Sustainably Driven, dipilih karena mencerminkan keyakinan bahwa organisasi yang mampu bertahan di tengah perubahan bukan hanya yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan dinamika pasar, tetapi juga yang memiliki akar budaya yang kuat serta visi keberlanjutan.

Smartly Cultured berarti budaya bukan sekadar ornamen atau simbol, tetapi menjadi cara berpikir dan cara bertindak organisasi. Sementara, Sustainably Driven menegaskan bahwa setiap keputusan bisnis seharusnya mempertimbangkan keberlanjutan, baik terhadap manusia maupun lingkungan.

Pemimpin Redaksi Harian Jogja, Anton Wahyu Prihartono, menyampaikan JBBA 2026 mengusung tiga klaster utama sebagai indikator penilaian, yakni pendidikan, budaya, dan ekonomi berkelanjutan. Ketiga klaster tersebut dipilih karena dinilai menjadi fondasi utama pembangunan yang berkelanjutan.

Menurut Anton, klaster pendidikan mencerminkan investasi terhadap pengembangan sumber daya manusia sebagai penentu kualitas talenta di masa depan. Klaster budaya menilai komitmen organisasi dalam menjaga identitas lokal, membangun komunikasi yang berakar pada nilai-nilai budaya, serta menjadikan budaya sebagai sumber inovasi. Sementara klaster ekonomi berkelanjutan menitikberatkan pada kemampuan organisasi untuk terus bertumbuh tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan maupun keadilan sosial.

"Ketiganya saling melengkapi. Pendidikan membangun manusianya, budaya menjaga arah dan identitasnya, sementara ekonomi berkelanjutan memastikan pertumbuhan itu dapat terus berlangsung untuk generasi berikutnya," kata Anton, Rabu (8/7).

Menurutnya, JBBA 2026 tak sekadar menjadi ajang pemberian penghargaan, tetapi mampu menginspirasi organisasi lain untuk terus meningkatkan kontribusinya bagi masyarakat. Diharapkan, JBBA 2026 bisa menjadi gerakan bersama yang mendorong dunia usaha, lembaga pendidikan, institusi publik, hingga tokoh masyarakat menjadikan kebermanfaatan sebagai tolok ukur keberhasilan.

"Pada akhirnya, organisasi yang paling dikenang bukanlah yang paling besar, melainkan yang paling banyak memberikan dampak positif," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |