Final Piala Dunia 2026: Simfoni Terakhir di New Jersey

12 hours ago 3

 Simfoni Terakhir di New Jersey

Final Piala Dunia 2026 mempertemukan Spanyol vs Argentina dengan duel lini serang tajam, pertahanan kokoh, serta pertemuan Lionel Messi dan Lamine Yamal. /Harian Jogja Edisi Sabtu 18 Juli 2026.

Harianjogja.com, EAST RUTHERFORD—Laga final yang mempertemukan Spanyol dan Argentina di East Rutherford, New Jersey, Senin (20/7) dini hari WIB bukan sekadar pertandingan penutup Piala Dunia 2026. Turnamen dengan format baru 48 tim ini menyisakan benturan permainan ekstrem antara lini serang paling produktif melawan lini pertahanan paling kokoh.

Argentina, dengan modal 19 gol sepanjang turnamen, punya kemampuan bertahan di bawah tekanan dan menemukan jalan keluar ketika situasi tampak mustahil. Sebaliknya, Spanyol tiba di final berkat keberhasilan mengendalikan ritme permainan sesuai kehendak. Mereka adalah unit defensif paling efisien yang baru kebobolan satu gol dari tujuh laga.

Laga di Stadion MetLife ini sesungguhnya adalah kelanjutan dari rencana yang berantakan. Pada akhir Maret lalu, Doha direncanakan menjadi panggung Finalissima, laga eksibisi juara Euro 2024 melawan kampiun Copa America 2024 sebelum turnamen akbar di Amerika Utara dimulai. Namun, eskalasi konflik militer di Timur Tengah memaksa laga tersebut dibatalkan untuk alasan keamanan.

Pembatalan tersebut justru memindahkan pertarungan ke gerbang kota New York dalam atmosfer yang jauh lebih kompetitif.

Di tengah kalkulasi taktis, ada kebetulan yang mengikat kedua tim secara personal. Pada 2007, sebuah kampanye Unicef mempertemukan Lionel Messi muda dengan seorang bayi dalam sebuah sesi foto. Dua dekade kemudian, bayi bernama Lamine Yamal itu tumbuh menjadi sayap kanan yang sangat eksplosif.

Pada usia 19 tahun, Yamal mewakili masa kini dan masa depan sepak bola Spanyol. Sementara itu, Messi, di usianya yang menginjak 39 tahun, memimpin Argentina dengan catatan 13 laga Piala Dunia tanpa terkalahkan dan mengejar rekor legendaris Pele pada edisi 1958 dan 1962 dengan mempertahankan titel juara dunia berturut-turut.

Kedua tim menuju partai puncak dengan kontras yang tajam. Spanyol di bawah Luis de la Fuente adalah representasi dari stabilitas permainan yang terencana. Mereka membawa rekor 37 pertandingan tidak terkalahkan di semua kompetisi.

Kekuatan utama La Roja terletak pada disiplin struktur pertahanan yang digalang Aymeric Laporte dan bek muda Pau Cubarsi. Di semifinal, pertahanan La Roja sukses meredam agresivitas lini serang Prancis dalam kemenangan meyakinkan 2-0. Gol kedua Spanyol yang dicetak bek kanan Pedro Porro adalah bentuk paling gamblang dari struktur permainan yang sangat rapi dan melibatkan nyaris semua pemain, termasuk kiper Unai Simon. Ironisnya, Yamal tak menyentuh bola dalam operan yang berujung gol tersebut.

“Spanyol adalah tim yang fantastis. Mereka bermain sangat baik dan menang melawan tim yang saya pikir akan sulit dikalahkan [Prancis]. Tetapi kami siap untuk laga final,” kata pelatih Argentina Lionel Scolani, sebagaimana dilansir ESPN, seusai timnya menyingkirkan Inggris di semifinal.

Penyintas Situasi Kacau

Sebaliknya, Argentina adalah penyintas dari berbagai situasi kacau dan kontroversial. Langkah mereka ke final dipenuhi drama. Albiceleste dipaksa bermain hingga babak tambahan oleh Tanjung Verde, tertinggal dua gol dari Mesir di babak 16 besar, hingga membutuhkan kartu merah lawan untuk melewati Swiss. Di semifinal melawan Inggris, mereka baru bisa membalikkan keadaan setelah menit ke-84 lewat gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.

Gaya bermain Argentina bertumpu pada kepadatan pemain di lini tengah untuk menciptakan sirkulasi cepat di sekitar Messi, dikombinasikan dengan pelanggaran-pelanggaran yang kadang terlihat sangat menjengkelkan dan memicu cibiran guna memutus serangan lawan. Messi, ulasan di New York Times melabelinya sebagai pejalan kaki paling mematikan dalam permainan sepak bola, tak banyak berlari tetapi sangat efektif mengurai pertahanan musuh begitu mendapatkan bola.

“Scaloni melakukan pekerjaan yang fantastis. Dia berhasil menyatukan bakat individu Argentina ke dalam sebuah sistem yang sangat kompak. Kami saling mengenal dengan baik dari kursus kepelatihan di Las Rozas, dan melihat apa yang dia capai sungguh luar biasa,” ujar De La Fuente.

Del La Fuente dan Scolani mengenal satu sama lain di akademi kepelatihan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) di Las Rozas, tempat De la Fuente menjadi pengajar, sementara Scaloni adalah salah satu muridnya.

Pada 2017, dua tahun setelah Scaloni mengakhiri kariernya sebagai pemain, De la Fuente, yang saat itu menangani tim-tim kelompok usia Spanyol, termasuk di antara para mentor yang membimbing mantan pemain yang baru pensiun dan sedang menapaki langkah-langkah awal menuju karier sebagai pelatih.

Kunci Permainan

Keberhasilan masing-masing kubu akan ditentukan oleh detail-detail kecil. Pertarungan di lini tengah berpengaruh besar. Rodri adalah jangkar pertahanan sekaligus metronom Spanyol dengan akurasi umpan mencapai 93% dari 648 distribusi sukses sepanjang turnamen. Tugas utamanya adalah menetralkan Enzo Fernondez, motor lini tengah Argentina yang mencatatkan 43 kali keberhasilan merebut bola. Enzo juga dikenal berbahaya saat mengeksploitasi ruang kosong di luar kotak penalti untuk menyambut umpan tarik Messi.

Mikel Oyarzabal Oyarzabal adalah penyerang tanpa reputasi bintang namun sangat efisiens. Dengan catatan lima gol di turnamen ini, ia akan berhadapan langsung dengan duet bek tengah Argentina, Romero dan Lisandro Martinez, yang terkenal agresif dan tak gentar dengan duel fisik.

Kunci terakhir adalah Yamal yang akan diuji oleh kedisplinan Tagliafico, bek kiri Argentina berumur 33 tahun. Pengalaman Tagliafico yang telah mengantongi 82 penampilan internasional serta jam terbang di final Qatar 2022 akan berguna untuk meredam Yamal, yang saat ini menempati peringkat ketiga dalam indeks kreativitas FIFA Power Rankings.

Spanyol diuntungkan oleh kebugaran fisik berkat waktu istirahat yang lebih lama satu hari dan konsistensi sistem yang membuat mereka tidak pernah tertinggal satu menit pun sepanjang turnamen. Namun, Argentina memiliki faktor yang tidak dapat dihitung oleh skema taktik, yakni kehadiran Messi di momen krusial dan mentalitas tim yang selalu mampu mencari jalan keluar di ujung laga saat posisi mereka terdesak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |