Begini Nasib Dua Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz

8 hours ago 5

Begini Nasib Dua Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. / Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Dua kapal milik PT Pertamina (Persero) hingga kini masih tertahan di kawasan Selat Hormuz di tengah eskalasi konflik yang memanas, membuat jalur vital energi global itu berada dalam tekanan tinggi.

Perusahaan pelat merah tersebut terus memantau situasi yang sangat dinamis sembari menjaga komunikasi intensif dengan kru kapal yang berada di lokasi.

Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, mengatakan berbagai langkah tengah ditempuh agar kapal dapat segera kembali berlayar.

“Kami terus berkoordinasi dan konsultasi dengan pemangku kepentingan terkait, termasuk Kementerian Luar Negeri,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Ia menambahkan, dukungan diplomasi menjadi kunci agar pelayaran dapat dilanjutkan begitu kondisi keamanan memungkinkan.

Senada, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyebut komunikasi lintas pihak masih berjalan konstruktif meski situasi lapangan belum sepenuhnya kondusif.

“Sampai sejauh ini semuanya positif. Namun, dinamika yang terjadi di Selat Hormuz ini yang kami terus monitor. Pada saat semua sudah aman, kita berharap kapal dapat melewati Selat Hormuz,” katanya.

Ketegangan di kawasan tersebut dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak langsung pada arus pelayaran global. Iran bahkan secara de facto menutup Selat Hormuz setelah menjadi target serangan udara pada 28 Februari 2026.

Langkah itu direspons Amerika Serikat dengan mengerahkan lebih dari selusin kapal perang dan sekitar 10.000 personel militer untuk memblokade pelabuhan serta jalur laut Iran.

Dalam 24 jam pertama operasi, Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) melaporkan enam kapal dagang memilih berbalik arah. Namun, data pelacakan menunjukkan masih ada kapal yang berhasil melintasi selat tersebut.

Di tengah situasi itu, peluang jalur diplomasi kembali terbuka. Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan kelanjutan negosiasi dalam waktu dekat setelah perundingan sebelumnya gagal mencapai kesepakatan.

“Anda sebaiknya tetap berada di sana [Islamabad], karena sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami lebih condong untuk menuju ke sana,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres juga menilai perundingan masih berpotensi dilanjutkan, meski hingga kini Iran belum memberikan respons resmi.

Sejumlah pihak dari kawasan Teluk, Pakistan, dan Iran turut mengindikasikan kemungkinan pertemuan lanjutan antara Washington dan Teheran dalam waktu dekat, meski jadwalnya belum ditetapkan.

Di sisi lain, ketegangan ini sempat mengguncang pasar energi global. Namun, optimisme terhadap jalur diplomasi membuat harga minyak acuan turun ke bawah 100 dolar AS pada awal pekan ini.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur perdagangan minyak dan gas paling strategis di dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu dampak luas, termasuk pada pasokan energi dan stabilitas ekonomi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |