Beda dengan Daerah Lain, Kemarau Basah Bakal Terjadi di Banjarnegara

9 hours ago 2

Beda dengan Daerah Lain, Kemarau Basah Bakal Terjadi di Banjarnegara Foto ilustrasi lahan pertanian diguyur hujan, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, BANJARNEGARA—Musim kemarau di wilayah di Banjarnegara, Jawa Tengah pada 2026 diprediksi tidak berlangsung kering sepenuhnya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat memperkirakan pola kemarau basah masih akan terjadi, sehingga hujan tetap berpotensi turun di tengah musim kemarau.

Perkiraan ini muncul dari hasil koordinasi BPBD kabupaten/kota se-Jawa Tengah bersama BPBD provinsi dalam menghadapi musim kemarau. Kondisi tersebut menjadi pembeda dibanding sejumlah daerah lain yang berpotensi mengalami kekeringan lebih ekstrem akibat pengaruh El Nino.

Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Aji Piluroso, menjelaskan kemarau basah berarti wilayah tetap memiliki peluang hujan meskipun sudah memasuki periode kemarau.

“Banjarnegara diperkirakan masih mengalami kemarau basah, artinya pada periode kemarau masih ada potensi hujan, tidak kering total seperti daerah lain,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), awal musim kemarau di sejumlah daerah diperkirakan mulai April, sedangkan di Banjarnegara diprediksi terjadi pada Mei 2026.

Kondisi tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak kekeringan, terutama di wilayah yang selama ini menjadi langganan krisis air bersih.

Meski begitu, BPBD tetap mengingatkan masyarakat untuk waspada, khususnya di daerah rawan kekeringan.

“Masyarakat di wilayah rawan diharapkan bisa lebih dini mendeteksi potensi kekeringan dan segera melaporkan jika mengalami kekurangan air bersih selama beberapa hari,” kata Aji.

Ia menambahkan, laporan dari masyarakat akan mempercepat penanganan, termasuk distribusi bantuan air bersih oleh BPBD.

Sebagai langkah mitigasi, BPBD Banjarnegara telah membangun sumur bor di sejumlah titik rawan kekeringan. Upaya ini diharapkan mampu menekan dampak seperti yang terjadi saat kemarau ekstrem pada 2023.

Berdasarkan data historis, sedikitnya 21 desa di tujuh kecamatan di wilayah selatan Banjarnegara berpotensi mengalami kekeringan. Wilayah tersebut meliputi di Susukan, di Purwareja Klampok, di Mandiraja, di Wanadadi, di Pagedongan, dan di Rakit.

“Wilayah-wilayah tersebut menjadi prioritas pemantauan karena pada 2023 mengalami kekeringan,” ujarnya.

Meski fokus pemantauan berada di wilayah selatan, BPBD tidak menutup kemungkinan wilayah lain, termasuk di kawasan utara Banjarnegara, juga dapat terdampak jika kondisi cuaca berkembang lebih ekstrem.

Selain potensi kekeringan, BPBD juga mewaspadai kemungkinan kebakaran hutan dan lahan. Namun risiko tersebut dinilai relatif kecil karena kondisi wilayah yang cenderung basah dan tutupan hutan tidak terlalu luas.

“Potensi tetap ada, namun relatif kecil karena kondisi wilayah kita cenderung basah dan tutupan hutan tidak terlalu luas,” katanya.

Untuk menghadapi musim kemarau 2026, BPBD terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa guna memantau perkembangan kondisi di lapangan.

Langkah ini dilakukan agar respons terhadap potensi krisis air bersih maupun ancaman bencana lainnya dapat dilakukan lebih cepat.

“Kami berharap kondisi kemarau basah yang diprediksi terjadi di Banjarnegara dapat menekan risiko kekeringan, sehingga dampaknya tidak sebesar yang terjadi pada tahun 2023,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |