
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo. - Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA— Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo memilih pendekatan komunikasi untuk menekan aksi vandalisme yang menjadi salah satu bentuk sampah visual di berbagai titik Kota Jogja. Selain membersihkan dan mengecat ulang lokasi yang dicoret, Pemkot Jogja berupaya memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai fungsi dan konteks ruang tersebut.
Hasto mengatakan vandalisme masih menjadi persoalan yang ditemukan di sejumlah bangunan dan fasilitas. Coretan yang muncul tidak hanya berupa gambar, tetapi juga kerap berisi kritik terhadap berbagai persoalan.
“Vandalisme banyak sekali, termasuk vandalisme mengkritiki berbagai hal. Saya bersama teman-teman Satpol Jogja dan Dinas Lingkungan Hidup [DLH Kota Jogja] selalu mengkampanyekan untuk mencegah itu,” katanya, Selasa (8/9/2026).
Coretan Dibersihkan, Pesan Disampaikan
Menurut Hasto, pendekatan komunikasi penting dilakukan karena tidak semua pelaku vandalisme bertindak secara brutal. Ia mencontohkan penanganan coretan di Jalan Kusumanegara, tepatnya di sekitar kawasan makam pahlawan.
Di lokasi tersebut sebelumnya terdapat titik yang dipenuhi coretan. Hasto kemudian meminta area itu dibersihkan dan dicat ulang.
Setelah pengecatan, ia menambahkan gambar wayang serta tulisan yang menjelaskan bahwa di balik kawasan tersebut terdapat makam. Tulisan itu sekaligus meminta masyarakat tidak melakukan aksi vandalisme.
Hasto menyebut pendekatan tersebut cukup efektif. Setelah dibersihkan dan diberikan pesan mengenai lokasi tersebut, area itu hingga kini tetap bersih dari coretan.
“Itu menunjukkan bahwa komunikasi seperti itu penting. Mereka ternyata tidak brutal kalau kita beri tahu bahwa ini tempat apa dan mohon untuk tidak dilakukan vandalisme, mereka mau juga,” ujarnya.
Karena itu, Hasto menilai persoalan sampah visual tidak cukup ditangani dengan menghapus atau mengecat ulang coretan. Pemerintah juga perlu berkomunikasi dengan masyarakat dan memberikan konteks mengenai ruang yang menjadi sasaran vandalisme.
“Saya merasa untuk sampah visual itu cara menguranginya juga saya harus komunikasi. Efektif kalau menurut saya,” katanya.
Akan Diterapkan di Lokasi Lain
Hasto berencana kembali menggunakan pendekatan serupa di sejumlah lokasi lain. Salah satunya adalah bekas tempat penjahit jin di sekitar kawasan MAN 1 Jogja.
Lokasi tersebut sebelumnya telah dibersihkan, tetapi coretan mulai kembali muncul. Hasto akan menguji kembali metode pengecatan dan pemberian pesan kepada masyarakat agar tembok tersebut tidak digunakan untuk aktivitas mural ilegal.
“Nanti saya akan cat lagi temboknya, terus saya kasih tulisan lagi supaya tidak dimural,” tuturnya.
Selain membersihkan coretan dan melakukan komunikasi, Pemkot Jogja juga berupaya menyediakan ruang yang lebih tepat untuk aktivitas mural. Salah satunya dilakukan di sekitar SMP 5 Jogja melalui lomba mural.
Menurut Hasto, penyediaan ruang berekspresi secara resmi dapat menjadi salah satu cara menekan vandalisme. Di kawasan tersebut terdapat tulisan yang menegaskan bahwa lokasi memang diperuntukkan bagi mural anak-anak sekolah.
“Seputar SMP 5 itu saya lombakan mural. Ada tulisan-tulisan di situ bahwa ini memang untuk mural anak-anak SMP, anak-anak sekolah. Akhirnya sama sekali enggak ada yang divandal,” katanya.
Pengalaman tersebut, menurut Hasto, menunjukkan bahwa penanganan sampah visual membutuhkan lebih dari sekadar kegiatan pembersihan. Penyediaan ruang berekspresi dan komunikasi dengan masyarakat juga menjadi bagian dari upaya Pemkot Jogja mengurangi vandalisme.
“Kami akan menutup di beberapa titik. Langkah-langkahnya memang begitu. Komunikasi dan pembersihan,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































