
Prosesi Wiwitan yang diselenggarakan Warung Sajian Kembang Turi pada Minggu (26/7/2026) di Kapanewon Turi. Kegiatan ini juga diikuti anak-anak yang mengikuti program Tani Cilik./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Belasan anak diajak merasakan langsung proses panen padi, melon, dan ubi hingga mengikuti tradisi Wiwitan dalam program Tani Cilik yang digelar Warung Sajian Kembang Turi di Kapanewon Turi. Program ini menjadi upaya mengenalkan dunia pertanian dan budaya lokal kepada generasi muda sejak dini.
Bertepatan dengan masa panen, anak-anak tidak hanya belajar memanen hasil pertanian, tetapi juga diajak memahami makna rasa syukur atas hasil panen melalui prosesi Wiwitan yang diselenggarakan pada Minggu (26/7/2026).
Pengelola Warung Sajian Kembang Turi, Bayu Widagdo, menjelaskan program Tani Cilik dirancang untuk mendekatkan anak-anak dengan dunia pertanian melalui pengalaman langsung di lapangan.
"Kami jadikan satu aja sekalian, biar mereka anak-anak ini merasakan panennya, mengerti proses pemanenan dan mengerti juga bersyukur pada Yang Kuasa bahwa setelah kerja keras dan diizinkan sama Yang Maha Kuasa bisa mendapatkan panen yang bagus, dan juga berdoa supaya musim tanam berikutnya bisa lebih bagus lagi," kata Bayu saat ditemui di Sleman, Minggu (26/7/2026).
Program Tani Cilik digelar sebulan sekali dengan rata-rata peserta sebanyak 10 hingga 15 anak. Pada masa libur sekolah, jumlah peserta dapat meningkat menjadi 20 hingga 25 anak.
Selain diajak memanen hasil pertanian, Warung Sajian Kembang Turi juga berencana mengenalkan tahapan budi daya lainnya, mulai dari menanam hingga merawat tanaman.
"Bisa saja, kita memang ada program pas tanam kita akan mengadakan semacam kayak Tani Cilik ini biar mereka merasakan menanam padi kayak apa. Kalau yang menanam melon, anak-anak sudah beberapa kali kita ajak memindahkan dari persemaian dipindahkan ke lubang tanam, beberapa kali program Tani Cilik sudah melakukan itu," jelasnya.
Pembelajaran yang diberikan tidak berhenti pada proses budi daya. Anak-anak juga diperkenalkan dengan kegiatan pascapanen, salah satunya mengolah ubi hasil panen menjadi makanan tradisional timus.
Dalam pengelolaan lahan pertanian, Warung Sajian Kembang Turi turut melibatkan masyarakat sekitar. Lahan sawah milik Warung Sajian Kembang Turi digarap oleh petani dari dusun sebelah, sedangkan proses panen melibatkan ibu-ibu penderep di sekitar lokasi. Adapun lahan greenhouse dikelola oleh anak-anak muda.
Menurut Bayu, pelibatan anak-anak dan generasi muda dalam kegiatan pertanian diharapkan dapat menjadi langkah untuk memajukan sektor pertanian di masa depan.
"Kita pengin tadi, anak-anak muda semakin mengerti pertanian. Terus juga semakin mengerti budaya kita mengelola pertanian," ungkapnya.
"Karena pertanian maju, negara maju, bisa ngapa-ngapain aja. Sekarang kalau anak-anak mudanya enggak ngerti pertanian, gimana kita mau maju," tukasnya.
Salah seorang orang tua peserta Tani Cilik, Prayitno, mengaku sengaja mengajak anaknya mengikuti kegiatan tersebut. Menurut dia, program ini tidak hanya menjadi sarana mengisi waktu libur, tetapi juga memberikan edukasi mengenai proses pertanian dan nilai-nilai kehidupan.
"Acaranya bagus untuk pengetahuan dari mulai nanam sampai panen dan setelah panen ada cara rasa bersyukur. Itu kan perlu, dibutuhkan oleh setiap orang kan, nanti kalau sudah dewasa," ungkapnya.
Prayitno menjelaskan, dalam kegiatan tersebut anak-anak diajak berkeliling untuk memotong padi yang siap dipanen. Saat panen ubi, peserta juga diajak menggali tanah hingga menemukan ubi yang dipanen.
"Jadi sangat bermanfaat untuk pengetahuan, terutama khususnya aspek kognitif anak ya. Sehingga nanti dewasa itu akan terekam kan begitu kan. Nanti berkembang, perkembangan otak anak di usia 0 sampai 7 tahun itu kan sangat pesat ya, 80%. Jadi kalau misalkan diisi dengan hal-hal positif, itu terekamnya akan sampai dewasa nanti," tandasnya.
Prosesi Wiwitan yang diselenggarakan Warung Sajian Kembang Turi pada Minggu (26/7/2026) di Kapanewon Turi juga diikuti anak-anak peserta program Tani Cilik sebagai bagian dari pengenalan tradisi pertanian yang masih lestari di masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































