Jumali Sabtu, 01 Agustus 2026 19:47 WIB

Ilustrasi Artificial Intelligence - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Persaingan pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang selama ini didominasi Amerika Serikat dan China kini memasuki babak baru. Uni Eropa secara resmi menyiapkan investasi besar senilai 10 miliar euro atau sekitar Rp207,4 triliun untuk membangun tujuh pabrik AI raksasa yang tersebar di berbagai negara anggota.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi besar Uni Eropa untuk memperkuat kemandirian teknologi sekaligus mempercepat pengembangan ekosistem AI di kawasan tersebut.
Komisi Eropa mengumumkan bahwa dana miliaran euro itu akan digunakan untuk membangun fasilitas yang disebut sebagai AI Gigafactory. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan rencana awal yang hanya mencakup lima pabrik AI berskala besar.
Keberadaan tujuh fasilitas baru itu nantinya akan melengkapi 19 pabrik AI yang saat ini telah beroperasi di berbagai negara Uni Eropa.
Gigafactory AI dirancang sebagai pusat komputasi berkapasitas tinggi yang dilengkapi berbagai infrastruktur pendukung teknologi mutakhir. Fasilitas tersebut akan menampung prosesor AI generasi terbaru, perangkat lunak canggih, layanan komputasi awan (cloud computing), jaringan konektivitas berkecepatan tinggi, serta pusat data berskala besar.
Melalui pembangunan fasilitas tersebut, Uni Eropa berharap mampu menyediakan daya komputasi yang selama ini menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan model AI modern.
Kepala Teknologi Uni Eropa, Henna Virkkunen, mengatakan akses terhadap kapasitas komputasi dalam skala besar telah menjadi kebutuhan strategis bagi kawasan Eropa.
"Akses pada skala daya komputasi mentah di dalam Gigafactory AI menjadi kebutuhan strategis bagi Eropa saat percepatan pengembangan AI," kata Henna Virkkunen, dikutip dari AP.
Menurutnya, ketersediaan infrastruktur komputasi yang kuat akan menentukan kemampuan perusahaan, lembaga penelitian, dan startup dalam mengembangkan teknologi AI yang kompetitif di tingkat global.
Komisi Eropa menjadwalkan proses tender pembangunan tujuh pabrik AI tersebut berlangsung hingga 12 November 2026.
Setelah proses seleksi selesai, hasil tender direncanakan diumumkan pada awal 2027. Sementara pembangunan dan pengoperasian fasilitas diperkirakan dimulai dalam waktu sekitar 18 bulan setelah kontrak resmi ditandatangani.
Selain mengandalkan dana publik, Uni Eropa juga berharap proyek ambisius tersebut mampu menarik investasi tambahan dari sektor swasta.
Komisi Eropa menargetkan pembangunan gigafactory AI dapat memicu masuknya investasi swasta hingga 20 miliar euro atau sekitar Rp415 triliun. Jika target tersebut tercapai, total nilai investasi yang mengalir ke sektor AI Eropa akan jauh lebih besar dibandingkan dana awal yang disiapkan pemerintah.
Dukungan terhadap proyek ini juga datang dari sejumlah perusahaan teknologi terbesar di dunia. Produsen chip global seperti AMD, Nvidia, dan Qualcomm telah menjalin kerja sama dengan Komisi Eropa untuk mendukung pengembangan fasilitas tersebut.
Ketiga perusahaan teknologi itu diketahui telah menandatangani surat komitmen yang berisi dukungan penyediaan teknologi semikonduktor dan chip AI yang dibutuhkan dalam pembangunan gigafactory.
Keterlibatan Nvidia, AMD, dan Qualcomm dinilai penting karena perusahaan-perusahaan tersebut saat ini menjadi pemain utama dalam industri perangkat keras AI global.
Investasi besar yang dilakukan Uni Eropa menunjukkan semakin ketatnya persaingan global dalam penguasaan teknologi kecerdasan buatan. Selama beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat dan China menjadi dua kekuatan utama yang berlomba mengembangkan model AI, pusat data, hingga chip berteknologi tinggi.
Kini, melalui pembangunan tujuh gigafactory AI baru, Uni Eropa berupaya memperkuat posisinya agar tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga menjadi salah satu pusat inovasi AI dunia.
Jika proyek berjalan sesuai rencana, fasilitas tersebut diperkirakan akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan teknologi AI Eropa dalam beberapa dekade mendatang, sekaligus memperkuat daya saing kawasan itu dalam menghadapi dominasi AS dan China.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































