Selat Hormuz Tertutup, Ekonomi Inggris Terancam Resesi 2027

7 hours ago 5

Jumali

Jumali Senin, 03 Agustus 2026 19:37 WIB


Harianjogja.com, JOGJA—Inggris, negara monarki tertua di dunia, kini terancam berada di ambang jurang resesi. Lembaga konsultan akuntansi EY memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan berpotensi menyeret ekonomi Inggris ke dalam kontraksi pada tahun 2027.

Resesi adalah kondisi ketika aktivitas ekonomi suatu negara mengalami penurunan, yang ditandai dengan Produk Domestik Bruto (PDB) menyusut selama dua kuartal berturut-turut atau lebih. Peringatan ini menjadi sorotan serius di tengah ketegangan geopolitik yang mengganggu jalur pelayaran energi global.

EY, dalam laporan terbarunya, menyusun dua skenario utama terkait nasib ekonomi Inggris. Jika Selat Hormuz kembali dibuka paling lambat akhir September 2026, ekonomi Inggris diperkirakan masih dapat tumbuh 0,8% pada 2026 dan 1,2% pada 2027. Namun, jika jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia itu tetap tertutup hingga awal atau pertengahan 2027, dampaknya akan jauh lebih parah.

Pertumbuhan ekonomi Inggris diperkirakan melambat menjadi hanya 0,5% pada 2026, sebelum akhirnya berkontraksi (minus) 0,2% pada 2027. Kepala Ekonom EY Inggris, Peter Arnold, menyatakan bahwa ekonomi Inggris sejauh ini menunjukkan ketahanan, tetapi gangguan berkepanjangan pada pasar energi global akan menguji kekuatan itu.

"Jika Selat Hormuz kembali dibuka dalam beberapa bulan mendatang, kami memperkirakan Inggris dapat menghindari penurunan ekonomi yang lebih tajam. Namun, penutupan yang berlanjut hingga 2027 akan meningkatkan inflasi dan dapat mendorong ekonomi mengalami kontraksi pada tahun depan," ujar Arnold, dikutip dari Reuters pada Senin (3/8/2026).

Penutupan Selat Hormuz tidak hanya mengancam pertumbuhan, tetapi juga memicu lonjakan harga energi. Dalam skenario terburuk, inflasi Inggris diperkirakan melonjak hingga 6,4% pada akhir 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi jika Selat Hormuz segera dibuka, di mana inflasi diperkirakan mencapai puncak sekitar 3,5% tahun ini. Sebelumnya, Bank of England (BoE) juga telah mengingatkan risiko serupa.

Dalam skenario harga minyak dan gas tetap 30%-60% lebih tinggi dari ekspektasi pasar, bank sentral Inggris masih memperkirakan ekonomi tumbuh mendekati 1% pada 2027, dengan inflasi diproyeksikan mencapai sekitar 4,5%. Namun, proyeksi EY dinilai lebih pesimistis karena memperhitungkan dampak penutupan yang berkepanjangan terhadap pasokan energi dan aktivitas ekonomi.

Untuk menopang pertumbuhan di tengah tekanan inflasi, EY memperkirakan Bank of England akan mempertahankan suku bunga acuan sepanjang tahun ini sebelum mulai memangkasnya dari 3,75% menjadi 3,25% melalui dua kali pemangkasan pada April dan Juli 2027.

Langkah ini diambil untuk meredam dampak perlambatan ekonomi, meskipun inflasi masih menjadi tantangan. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan itu memicu lonjakan harga minyak dan gas global, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di berbagai negara, termasuk Inggris.

Jika skenario terburuk terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Inggris, tetapi juga oleh perekonomian global yang masih bergantung pada stabilitas pasokan energi dari Timur Tengah. Masyarakat dunia, termasuk Indonesia, perlu mencermati perkembangan ini karena dapat mempengaruhi harga energi dan stabilitas ekonomi regional. Keputusan untuk membuka kembali Selat Hormuz akan menjadi penentu nasib ekonomi Inggris dan dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |