Bendera Iran.
Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah Arab Saudi menegaskan komitmennya terhadap penyelesaian damai dalam dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul beredarnya laporan media Amerika yang menyebut Riyadh mendesak Washington melancarkan serangan militer ke Tehran. Bantahan tersebut disampaikan pejabat tinggi Saudi pada Minggu (1/2) untuk meredam spekulasi yang berkembang di tingkat global.
Dalam pernyataan yang dimuat surat kabar Al-Sharq Al-Awsat milik Arab Saudi, pejabat tersebut menyebut laporan media Amerika Serikat terkait perubahan sikap kerajaan sebagai informasi yang tidak sesuai fakta. Ia menegaskan bahwa Arab Saudi tidak pernah mendorong opsi militer terhadap Iran.
Laporan media Amerika Serikat yang menyebut adanya desakan Riyadh agar Washington menyerang Tehran disebutnya “tidak benar”.
“Arab Saudi mendukung upaya untuk menemukan solusi damai atas semua isu yang diperselisihkan antara AS dan Iran melalui dialog dan cara diplomatik,” kata sumber tersebut, yang tidak disebutkan namanya.
Pejabat itu juga menekankan sikap tegas kerajaan yang menolak penggunaan wilayah udaranya untuk kepentingan aksi militer apa pun yang ditujukan terhadap Iran. Penegasan ini disampaikan untuk menepis asumsi bahwa Saudi terlibat dalam skenario militer kawasan.
Sebelumnya, portal berita Amerika Serikat, Axios, mengklaim bahwa Arab Saudi telah mendesak Washington agar melancarkan serangan ke Iran. Dalam laporan tersebut, Riyadh disebut memperingatkan bahwa kegagalan menyerang Iran justru dapat memperkuat posisi rezim di Tehran.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada Selasa lalu melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dalam komunikasi tersebut, Mohammed bin Salman kembali menegaskan dukungan kerajaan terhadap penyelesaian konflik melalui dialog demi menjaga stabilitas kawasan.
Situasi kawasan semakin menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pada Rabu, mengunggah pernyataan di media sosial yang menyebutkan bahwa sebuah armada besar sedang bergerak menuju Iran. Dalam unggahan tersebut, Trump juga mendesak Tehran untuk segera memulai proses negosiasi.
Pernyataan Trump tersebut memicu spekulasi luas mengenai kemungkinan serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Dampaknya, muncul reaksi keras dari sejumlah pejabat Iran serta meningkatnya aktivitas diplomatik di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan terbaru ini tidak lepas dari eskalasi konflik sebelumnya. Pada Juni 2025, Israel dengan dukungan Amerika Serikat melancarkan perang selama 12 hari melawan Iran. Konflik tersebut memicu serangan balasan berupa drone dan rudal dari Tehran sebelum Washington akhirnya mengumumkan gencatan senjata, yang hingga kini masih memengaruhi dinamika keamanan regional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara


















































