Sang Dalang Seni Visual yang Tak Pernah Kehilangan Tawa itu Berpulang

8 hours ago 7

Dunia seni rupa Tanah Air kehilangan salah satu putra terbaiknya. Maestro seni lukis kontemporer Indonesia, Nasirun, 60, meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026) pukul 05.50 WIB di rumah sakit akibat serangan jantung setelah sempat mengalami sesak napas. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Yosef Leon. 

Jumat (31/7/2026) sore menjadi hari yang tampak biasa bagi Nasirun. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia itu masih beraktivitas di rumahnya di kawasan Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Ia menyapu halaman, mengenakan jaket untuk menghalau udara dingin Yogyakarta, lalu berbincang santai dengan tetangganya yang juga perupa ternama, Jumaldi Alfi Chaniago.

Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa pertemuan sederhana itu akan menjadi perjumpaan terakhir.

Kurang dari 12 jam kemudian, dunia seni rupa Indonesia kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruhnya. Nasirun meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026) pukul 05.50 WIB setelah sempat dilarikan ke rumah sakit akibat sesak napas yang kemudian berujung pada serangan jantung.

Bagi Jumaldi, kabar tersebut datang seperti petir di siang bolong. Ia masih mengingat jelas bagaimana sahabatnya itu terlihat sehat dan tetap menjalani aktivitas seperti biasa sehari sebelumnya.

"Masih kegiatan. Saya lewat sini dia lagi nyapu," kata Jumaldi saat ditemui di rumah duka, Sabtu.

Hubungan keduanya memang terjalin sangat dekat. Selain sama-sama berkecimpung di dunia seni rupa, mereka juga tinggal dalam satu kompleks perumahan selama bertahun-tahun. Pertemuan hampir setiap hari menjadi hal lumrah bagi mereka.

Bahkan dua hari sebelum wafat, Nasirun dan Jumaldi masih sempat menghadiri pameran seni bersama di tempat perupa Ugo Untoro. Sehari kemudian mereka kembali berbincang di rumah seperti biasa.

Karena itu, ketika kabar duka datang pada Sabtu pagi, Jumaldi mengaku sulit mempercayainya.

"Saya sendiri pas dikasih tahu tadi pagi langsung kaget sekali karena enggak nyangka wong baru kemarin kita ngobrol-ngobrol. Prosesnya cepat sekali," ujarnya.

Menurut informasi yang diterimanya dari keluarga, Nasirun mulai mengalami sesak napas sekitar tiga hari sebelum meninggal dunia. Namun keluhan tersebut muncul dan hilang sehingga tidak dianggap sebagai kondisi yang mengkhawatirkan.

Selama ini, Nasirun juga dikenal sebagai pribadi yang tidak banyak membicarakan kondisi kesehatannya kepada orang lain.

Sekitar pukul 02.00 WIB, keluarga membawa Nasirun ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Hanya berselang beberapa jam, kabar wafatnya menyebar di kalangan keluarga dan sahabat.

"Dari itu ke rumah sakit jam 02.00-an. Meninggal itu jam 05.50-an. Sekitar empat jam," tutur Jumaldi.

Suasana rumah yang sebelumnya tenang berubah menjadi tempat berkumpulnya keluarga, sahabat, kolega, dan para seniman yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir.

Di tengah suasana duka tersebut, Jumaldi mengenang sosok Nasirun yang menurutnya hampir tidak pernah kehilangan senyum dan tawa.

Persahabatan mereka bermula sejak dekade 1990-an ketika sama-sama berada di lingkungan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Nasirun merupakan kakak tingkat yang kemudian menjadi sahabat dekat selama lebih dari tiga dekade.

Dalam ingatan Jumaldi, ada satu hal yang selalu melekat dari pribadi Nasirun, yakni kebiasaannya tertawa dalam hampir setiap kesempatan.

"Hanya sekali seumur hidup saya ketika melihat dia tidak ketawa," ujarnya.

Momen langka itu terjadi ketika Nasirun mengalami gangguan kesehatan berupa ambeien. Selebihnya, sang maestro selalu tampil ceria, ringan, dan penuh humor.

Bahkan setelah menjalani operasi, Nasirun tetap kembali beraktivitas seperti biasa tanpa banyak mengeluhkan kondisinya.

Bagi Jumaldi, sahabatnya itu bukan hanya seorang seniman besar, tetapi juga pribadi yang telah selesai dengan dirinya sendiri.

"Beliau orang yang dipuji tidak akan besar kepala, dimaki tidak akan sakit hati. Orang yang sudah los stang," katanya.

Sikap tersebut tercermin dalam keseharian Nasirun yang dikenal tidak mudah tersinggung dan selalu merespons berbagai persoalan dengan senyum serta candaan.

Kedermawanannya juga menjadi cerita yang sering dikenang banyak orang. Menurut Jumaldi, Nasirun tidak pernah ragu membantu siapa pun yang membutuhkan.

Ketika melihat orang lain kesulitan atau kelaparan, ia dengan ringan hati berbagi apa yang dimilikinya.

Karakter itu pula yang membuat Nasirun tidak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan status atau reputasi. Baginya, pameran internasional dan pameran kecil di kampung memiliki nilai yang sama.

Jika menerima undangan, ia berusaha hadir.

"Undangan itu wajib dituntaskan," kata Jumaldi mengenang prinsip yang selalu dipegang sahabatnya.

Kesaksian serupa datang dari Mikke Susanto, kurator seni sekaligus dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta.

Mikke mengenal Nasirun sejak awal 1990-an. Baginya, Nasirun merupakan sosok penting yang membuka keyakinan bahwa berkarya di dunia seni dapat menjadi jalan hidup yang layak.

"Pak Nasirun membuka itu semua karena sejak kuliah beliau sudah aktif sekali berpameran dan karyanya diterima oleh banyak kolektor," ujar Mikke.

Menurutnya, Nasirun juga dikenal sangat terbuka terhadap kolaborasi dan jarang menolak ajakan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan kesenian.

Di luar kepribadiannya yang hangat, Nasirun meninggalkan warisan besar bagi perkembangan seni rupa Indonesia.

Karya-karyanya dikenal memadukan tradisi Jawa, kisah pewayangan, spiritualitas Islam Jawa, serta refleksi sosial ke dalam bahasa visual kontemporer yang mudah dikenali.

Mikke bahkan menyebut Nasirun sebagai seorang post-traditionalist, seniman yang mampu membawa nilai-nilai tradisi ke ruang seni global tanpa kehilangan akar budayanya.

Tokoh-tokoh wayang yang kerap muncul dalam karya Nasirun tidak sekadar menjadi elemen visual. Di tangannya, figur seperti Petruk berubah menjadi metafora untuk membaca berbagai persoalan sosial dan politik masa kini.

"Nasirun itu seperti dalang seni visual," kata Mikke.

Sebagaimana seorang dalang yang menuturkan cerita melalui layar wayang, Nasirun menghadirkan berbagai narasi dalam bidang kanvas, instalasi, kayu, gerabah, video, hingga berbagai medium eksperimental lainnya.

Energi kreatifnya bahkan belum berhenti hingga hari-hari terakhir kehidupannya. Jumaldi mengungkapkan bahwa mereka masih memiliki sejumlah rencana pameran yang sedang disiapkan bersama.

Salah satunya adalah pameran di Museum OHD, Magelang, yang direncanakan berlangsung pada Oktober hingga November mendatang.

Namun takdir berkata lain.

Pameran bertajuk Arundati yang baru saja digelar di ruang seni milik kolektor Oei Hong Djien kini dikenang sebagai salah satu jejak terakhir perjalanan kreatif Nasirun.

Sabtu sore, jenazah Nasirun dimakamkan di Kompleks Pemakaman Seniman Imogiri, Bantul. Kepergian sang maestro menutup perjalanan hidup seorang seniman yang tak pernah berhenti berkarya, berbagi, dan menebar tawa.

Tubuhnya memang telah beristirahat, tetapi karya-karya, gagasan, dan kenangan tentang dirinya akan terus hidup dalam perjalanan panjang seni rupa Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |