Harianjogja.com, JOGJA— PSIM Jogja harus mengakui keunggulan Persib Bandung usai kalah tipis 0-1 dalam laga di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Senin (4/5/2026) sore. Kekalahan ini tak lepas dari gol cepat yang terjadi di awal pertandingan, yang langsung mengubah arah permainan.
Baru berjalan kurang dari dua menit, PSIM sudah kebobolan lewat skema bola mati. Sundulan Patricio Matricardi memanfaatkan tendangan bebas Thom Haye membuat Laskar Mataram langsung berada dalam tekanan sejak awal laga. Kondisi ini memaksa PSIM bermain lebih terbuka demi mengejar ketertinggalan.
“Kami memulai pertandingan dengan sangat buruk. Belum satu menit, kami sudah kebobolan lewat bola mati lagi. Itu awal yang berat bagi kami. Hal itu juga memberi keuntungan bagi Persib karena mereka bisa bermain lebih dalam dan menunggu kami melakukan kesalahan,” ujar Van Gastel usai pertandingan.
Menurutnya, gol cepat tersebut membuat Persib leluasa mengatur tempo dengan pendekatan bertahan dan mengandalkan serangan balik. Situasi itu menyulitkan PSIM untuk menembus lini pertahanan lawan yang tampil disiplin sepanjang laga.
Meski demikian, Van Gastel tetap melihat sisi positif dari permainan anak asuhnya. Ia menilai timnya tetap menunjukkan keberanian dalam membangun serangan meski berada dalam tekanan.
“Saya mengagumi tim saya karena mereka berani bermain, mereka ingin bermain, dan mereka bisa bermain cukup baik. Satu-satunya hal yang membuat saya kurang puas saat babak pertama adalah kami sering memilih solusi yang sulit, padahal kami harus menjaga permainan sesimpel mungkin,” katanya.
Memasuki babak kedua, PSIM meningkatkan intensitas serangan dengan harapan bisa menyamakan kedudukan. Namun, strategi tersebut justru membuka ruang bagi Persib untuk menciptakan peluang tambahan melalui serangan balik cepat.
“Di babak kedua, kami mencoba menyamakan kedudukan, tapi Anda bisa lihat kami memberikan peluang karena kami mengambil risiko yang makin besar. Beruntung Persib tidak mencetak gol kedua,” ujarnya.
Secara keseluruhan, Persib tampil efektif dengan memaksimalkan bola mati sebagai pembeda. Sementara PSIM kesulitan menembus rapatnya lini belakang lawan, terutama di sepertiga akhir lapangan.
Bek PSIM, Yusaku Yamadera, juga mengakui gol cepat tersebut sangat memengaruhi jalannya pertandingan.
“Di menit pertama kami kebobolan, itu membuat pertandingan jadi sulit dan berat bagi kami. Tapi secara keseluruhan, ada banyak hal baik yang kami lakukan dan ada banyak hal yang harus kami perbaiki,” ucapnya.
Hasil ini memperpanjang tren negatif PSIM yang belum meraih kemenangan dalam delapan pertandingan terakhir, dengan rincian lima kekalahan dan tiga hasil imbang. Posisi mereka kini tertahan di peringkat ke-11 klasemen sementara dengan koleksi 39 poin.
Di sisi lain, Persib semakin kokoh di puncak klasemen dengan 72 poin dari 31 laga, unggul tiga poin atas pesaing terdekatnya.
PSIM masih memiliki tiga pertandingan tersisa musim ini, yakni dua laga kandang melawan Malut United dan Madura United, serta satu laga tandang ke markas Arema FC. Tiga laga ini menjadi kesempatan terakhir bagi Laskar Mataram untuk memperbaiki posisi di klasemen akhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































