Plastik Mahal, Kemasan Air Minum di Jogja Diusulkan dalam Botol Kaca

8 hours ago 5

Harianjogja.com, JOGJA—Peralihan air minum dalam kemasan (AMDK) ke botol kaca mulai didorong di Kota Jogja seiring kenaikan harga plastik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Langkah ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada kemasan sekali pakai sekaligus menekan volume sampah plastik.

Dorongan tersebut disampaikan Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, pada Sabtu (11/4/2026), dengan menilai momentum kenaikan harga plastik dapat dimanfaatkan untuk mengubah pola konsumsi masyarakat, terutama pada segmen menengah ke atas.

“Kalau air minum dalam kemasan, alangkah bagusnya kalau kita bergeser ke kaca. Hanya saja harganya jadi lebih mahal, karena itu saya mendorong untuk konsumsi menengah ke atas agar diganti botol kaca. Jadi botolnya dipakai lagi, tidak ada yang dibuang,” katanya.

Menurut Hasto, upaya ini juga diharapkan dapat diterapkan pada produk AMDK milik Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja, yakni Ayo Air Jogja. Penggunaan botol kaca dinilai mampu mengurangi sampah plastik yang selama ini sulit terurai, meskipun biaya produksinya lebih tinggi.

Di sisi lain, kenaikan harga plastik membuka peluang baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan kemasan alternatif. Pemkot Jogja mendorong pemanfaatan bahan alami yang lebih ramah lingkungan.

Bahan seperti serat agel dan pelepah pisang (gedebog) mulai dilirik sebagai pengganti plastik, terutama untuk tas belanja dan kemasan produk. Inovasi ini diharapkan tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memperkuat nilai tambah produk UMKM.

Namun demikian, keterbatasan bahan baku di Kota Jogja menjadi tantangan. Untuk mengatasi hal tersebut, pelaku UMKM didorong menjalin kerja sama pasokan bahan dengan daerah sekitar seperti di Kulonprogo, Sleman, dan Bantul.

Hasto menegaskan bahwa kenaikan harga plastik merupakan faktor yang tidak dapat dikendalikan pemerintah daerah. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan lebih menitikberatkan pada edukasi dan perubahan perilaku masyarakat.

“Karena penentu harga plastik bukan kami, maka yang bisa kami lakukan adalah sosialisasi dan kampanye masif. Ayolah, kita tidak harus pakai plastik. Gunakan wadah berulang atau kerajinan UMKM dari bahan terbarukan yang bisa tumbuh lagi,” katanya.

Perubahan ini diharapkan mendorong kebiasaan konsumsi yang lebih berkelanjutan sekaligus membuka ruang pertumbuhan ekonomi berbasis bahan ramah lingkungan di wilayah DIY.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |