Panen Singkong Gunungkidul Capai 22 Ton per Hektare

5 hours ago 3

Panen Singkong Gunungkidul Capai 22 Ton per Hektare

Ilustrasi ketela pohon - ist/Freepik

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Musim panen singkong mulai berlangsung di berbagai wilayah Kabupaten Gunungkidul. Komoditas pangan yang selama ini menjadi salah satu andalan petani di Bumi Handayani tersebut menunjukkan hasil menggembirakan dengan tingkat produktivitas mencapai 22 ton per hektare.

Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mencatat panen ketela pohon telah berlangsung sejak Juni 2026 dan hingga kini masih terus berjalan di sejumlah kapanewon. Selain menjadi sumber pangan, singkong juga memiliki nilai ekonomi yang cukup penting bagi masyarakat pedesaan, terutama saat memasuki musim kemarau.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan proses pendataan hasil panen masih berlangsung karena belum seluruh wilayah menyampaikan laporan resmi. Data panen Juli baru akan direkap secara lengkap pada Agustus mendatang.

"Panen masih berlangsung dan proses pendataan masih terus dilakukan," kata Raharjo, Selasa (21/7/2026).

Beberapa wilayah yang sudah memasuki masa panen antara lain Kapanewon Semin, Girisubo, Saptosari, dan Tanjungsari. Di Semin, luas panen yang telah dilaporkan mencapai 309 hektare.

Sementara itu, di Kapanewon Saptosari terdapat lahan tanam singkong seluas 4.510 hektare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.706 hektare telah dipanen oleh petani.

Adapun di Kapanewon Girisubo, luas lahan singkong mencapai 2.834 hektare. Hingga pertengahan Juli, sekitar 40 persen dari total lahan tersebut telah memasuki masa panen.

Menurut Raharjo, angka produktivitas yang mencapai 22 ton per hektare menunjukkan kondisi pertanaman singkong tahun ini cukup baik. Selain relatif tahan terhadap kondisi lahan kering, singkong juga mudah dibudidayakan karena dapat ditanam dengan sistem tumpang sari bersama komoditas lain.

"Jadi di satu lahan tidak hanya ditanam singkong, tapi bisa dengan kacang, kedelai atau lainnya," ujarnya.

Dari sisi harga, singkong basah saat ini dipasarkan pada kisaran Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram. Nilai jual tersebut meningkat setelah diolah menjadi gaplek, yakni singkong yang dikeringkan sebelum dipasarkan.

Harga gaplek saat ini berada di kisaran Rp2.500 hingga Rp3.500 per kilogram. Selisih harga tersebut membuat banyak petani memilih mengolah hasil panen terlebih dahulu sebelum dijual ke pengepul.

"Harga gaplek lebih mahal ketimbang saat masih dalam kondisi ketela pohon basah," kata Raharjo.

Bagi sebagian warga Gunungkidul, hasil penjualan gaplek memiliki peran penting dalam menopang kebutuhan rumah tangga selama musim kemarau. Salah satunya dirasakan warga Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop.

Seorang petani setempat, Paini, mengatakan sebagian besar warga di wilayahnya telah memanen singkong dan mengolahnya menjadi gaplek dengan cara dikupas lalu dijemur di bawah sinar matahari.

Menurut dia, harga gaplek saat ini berada di kisaran Rp2.500 per kilogram. Pendapatan dari penjualan hasil panen tersebut menjadi sumber dana yang sangat dibutuhkan masyarakat, terutama untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang semakin sulit diperoleh saat kemarau.

"Di wilayah kami memang masih kesulitan air bersih. Jadi, hasil penjualan gaplek kami gunakan membeli air," kata Paini.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa singkong tidak hanya berfungsi sebagai komoditas pertanian, tetapi juga menjadi penyangga ekonomi masyarakat pedesaan ketika musim kemarau berlangsung. Dengan panen yang masih berjalan dan produktivitas yang tergolong tinggi, petani berharap harga gaplek dapat tetap stabil sehingga mampu memberikan keuntungan yang layak bagi mereka hingga akhir musim panen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |