Orang Tua Jadi Kunci Anak Aman di Era Digital

4 hours ago 5

Orang Tua Jadi Kunci Anak Aman di Era Digital Foto ilustrasi anak/anak bermain ponsel, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, JAKARTA—Peran orang tua dalam mendampingi anak di era digital dinilai semakin krusial seiring meningkatnya paparan teknologi dan media sosial. Anak tidak hanya membutuhkan pengawasan, tetapi juga pendampingan aktif agar mampu tumbuh sebagai pengguna digital yang bijak.

Momentum Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei menjadi pengingat bahwa pendidikan anak tidak hanya soal akademik, melainkan juga pembentukan karakter dan kesiapan menghadapi dunia digital.

Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog menekankan pentingnya membangun hubungan yang kuat antara orang tua dan anak agar komunikasi berjalan terbuka.

“Pendidikan terbaik bukan hanya tentang apa yang anak ketahui, tetapi tentang bagaimana mereka bertumbuh sebagai manusia,” ujar Vera saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Orang Tua Jadi Pendamping Aktif

Vera menjelaskan, orang tua kini tidak cukup hanya mengawasi, tetapi harus menjadi pendamping sekaligus role model dalam kehidupan digital anak.

“Orang tua perlu hadir dalam kehidupan digital anak, mengetahui apa yg mereka akses, dengan siapa mereka berinteraksi dan bagaimana anak menggunakan teknologi,” kata Vera.

Pendampingan ini bertujuan agar anak tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi digital citizen yang bertanggung jawab.

Selain itu, orang tua juga diminta tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga membangun empati, kemandirian, serta ketahanan mental anak.

Cara Efektif Dampingi Anak

Pendampingan yang efektif dapat dilakukan melalui komunikasi terbuka tanpa menghakimi, pengenalan literasi digital sejak dini, serta penetapan batasan penggunaan teknologi.

Orang tua juga perlu mengatur durasi penggunaan layar (screen time), jenis konten yang diakses, serta memberikan contoh penggunaan teknologi yang sehat.

Di sisi lain, media sosial memiliki dua sisi yang perlu dipahami. Platform ini dapat mendukung kreativitas dan akses informasi, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak negatif jika tidak dikendalikan.

Dampak Media Sosial pada Anak

Dari sisi emosional, anak berisiko mengalami kecemasan, rendah diri, hingga ketergantungan pada validasi dari likes dan komentar.

Secara sosial, kemampuan interaksi langsung dan empati dapat menurun. Sementara dari sisi kognitif, fokus dan daya tahan perhatian anak juga berpotensi melemah.

Dampak perilaku juga muncul, seperti kecenderungan adiksi, impulsivitas, hingga paparan konten yang tidak sesuai usia.

“Anak belum memiliki kematangan psikologis untuk memproses semua informasi di media sosial secara kritis sehingga pendampingan dan pembatasan menjadi sangat penting,” ujar Vera.

Regulasi Jadi Pelindung Tambahan

Dalam konteks perlindungan, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau PP Tunas.

Regulasi ini berfungsi sebagai lapisan perlindungan tambahan, seperti membatasi paparan anak terhadap platform berisiko serta mendorong tanggung jawab platform digital.

Namun, Vera menegaskan bahwa regulasi tidak dapat menggantikan peran orang tua dalam mendampingi anak.

“Namun regulasi ini tidak dapat menggantikan peran utama orang tua. Regulasi berfungsi sebagai ‘pagar luar’, sementara keluarga, terutama ortu tetap menjadi ‘pagar utama’ dalam perlindungan anak,” tuturnya.

Pendampingan orang tua yang konsisten dinilai menjadi kunci agar anak dapat tumbuh sehat secara mental dan sosial di tengah derasnya arus informasi digital.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |