Okupansi Hotel di DIY Turun, Wisatawan Pilih Solo dan Magelang

5 hours ago 2

Okupansi Hotel di DIY Turun, Wisatawan Pilih Solo dan Magelang Foto ilustrasi kamar hotel, dibuat menggunakan Artificial Intelligence. / Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Kinerja sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada masa libur lebaran tahun ini diperkirakan akan mengalami kontraksi jika dibandingkan dengan pencapaian tahun lalu.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardiyanto Setyo Aji, mengungkapkan bahwa pergerakan pelancong tahun ini baru mulai menunjukkan grafik peningkatan signifikan setelah hari raya, tepatnya sejak 21 Maret 2026 ke atas.

Kondisi tersebut berbeda jauh dengan tren tahun sebelumnya di mana lonjakan arus wisatawan sudah mulai memadati wilayah Jogja sejak dua hari sebelum lebaran.

Secara akumulatif, Bobby menilai performa industri pariwisata saat ini tidak sebaik periode lalu akibat semakin kuatnya daya saing daerah tetangga seperti Magelang dan Solo yang mulai gencar membenahi produk wisata mereka.

“Prediksi saya sih [turun] 10% maksimal di 20%, itu kemungkinan ya. Masih juga melihat hitungan nanti dari Dinas Pariwisata dan BPS. Tapi prediksi kami pasti akan menurun kalau kita melihat okupansi,” paparnya pada Rabu (25/3/2026).

Menurutnya, produk akomodasi di Magelang dan Solo kini jauh lebih variatif dengan penawaran harga yang lebih kompetitif. Bobby menekankan bahwa situasi ini harus menjadi alarm bagi pemangku kebijakan di DIY untuk segera mengambil langkah konkret dalam menghadapi dinamika pasar yang kian kompetitif.

Meskipun volume lalu lintas kendaraan terpantau tinggi berkat akses jalan tol yang sudah mencapai wilayah Prambanan, hal tersebut tidak serta-merta meningkatkan lama inap (stay) wisatawan.

Keberadaan tol justru mempermudah mobilitas wisatawan untuk berpindah ke destinasi di luar DIY dengan cepat, sehingga diperlukan penguatan aktivitas wisata berbasis pengalaman (experience based) untuk menahan minat mereka tetap tinggal lebih lama.

“Karena kembali lagi dinamika sekarang bahwa market itu kan tidak hanya mau sightseeing gitu ya, tetapi mereka akan mencari experience based,” jelas Bobby.

Ia menilai peningkatan kualitas layanan SDM serta keramahan masyarakat sebagai tuan rumah menjadi faktor krusial di tengah menurunnya daya beli wisatawan yang membuat sejumlah pengusaha hotel mulai menyesuaikan tarif kamar agar tetap dilirik pasar.

Di sisi lain, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat angka okupansi pada periode puncak (H-3 hingga H+3) diproyeksikan menyentuh kisaran 80% hingga 85%.

Wakil Ketua Bidang Promosi dan Event PHRI DIY, Muhtar Habibi, menyebutkan bahwa angka tersebut masih bersifat fluktuatif dan belum merata di seluruh wilayah.

“Target 85 persen, tapi belum bisa diklaim tercapai secara penuh. Pola saat ini sangat bergantung pada last minute booking, jadi angka riil baru terlihat saat hari H dan setelahnya,” terang Muhtar mengenai perilaku konsumen yang cenderung melakukan pemesanan mendadak.

Pergeseran perilaku pasar ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola penginapan, di mana wisatawan kini semakin sensitif terhadap harga dan banyak beralih ke akomodasi nonformal.

Selain faktor ekonomi, isu kemacetan serta kapasitas destinasi yang berlebih (overcapacity) juga turut andil dalam menahan minat wisatawan untuk memperpanjang masa kunjungan mereka di Yogyakarta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |