Loker HP di SMPN 1 Turi Bikin Siswa Kembali Aktif Bersosialisasi

7 hours ago 3

Loker HP di SMPN 1 Turi Bikin Siswa Kembali Aktif Bersosialisasi

Guru SMPN 1 Turi mengecek loker ponsel siswa di kelas pada Kamis (23/7/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati\r\n

Harianjogja.com, SLEMAN—Kebijakan penyediaan loker ponsel di SMPN 1 Turi membawa perubahan dalam aktivitas siswa selama berada di sekolah. Selain meningkatkan konsentrasi belajar, aturan tersebut juga membuat siswa kembali aktif berinteraksi dengan teman-temannya saat jam istirahat tanpa distraksi gawai.

Kebijakan penyimpanan ponsel selama Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) diterapkan setelah pihak sekolah melihat banyak siswa lebih sibuk menggunakan ponsel dibandingkan berbincang maupun bermain bersama teman-temannya saat waktu istirahat.

Kepala SMPN 1 Turi, Sleman, Hospita Henny Koerniati mengatakan kebijakan tersebut lahir dari hasil pengamatannya terhadap perilaku siswa di lingkungan sekolah.

"Saya amati, dulu setiap istirahat itu anak-anak main HP, tidak saling bercakap, bercanda dengan temannya," kata Henny pada Kamis (23/7/2026) di sekolah.

Berangkat dari kondisi tersebut, para guru kemudian berembuk dan menyepakati aturan larangan membawa ponsel ke sekolah. Pada tahap awal sosialisasi, kebijakan itu sempat menuai pro dan kontra dari orang tua siswa.

Meski demikian, setelah pihak sekolah menjelaskan tujuan penerapan aturan tersebut, kebijakan akhirnya dapat dijalankan. Namun, pada awal penerapannya masih ditemukan siswa yang membawa ponsel secara sembunyi-sembunyi.

"Mereka tetap membawa HP sembunyi-sembunyi. Guru mengajar, mereka sembunyikan, ada yang di kaus kaki, ada yang disembunyikan di tas. Terus mereka ketika guru mengajar malah asyik main HP," ujarnya.

Pihak sekolah kemudian melakukan evaluasi terhadap kebijakan tersebut. Larangan membawa ponsel akhirnya diubah menjadi sistem pengumpulan ponsel sebelum pembelajaran dimulai.

Awalnya, ponsel siswa dikumpulkan di dalam sebuah boks di setiap kelas. Namun, cara tersebut masih menimbulkan kendala karena ponsel sering tertumpuk dan berpotensi mengalami kerusakan.

Untuk mengatasi persoalan itu, pada awal 2025 SMPN 1 Turi menyediakan loker khusus penyimpanan ponsel. Loker tersebut dibuat secara khusus dan dipesan dari luar daerah.

Total terdapat 12 loker ponsel yang disesuaikan dengan jumlah kelas di SMPN 1 Turi. Setiap loker memiliki sejumlah slot yang disesuaikan dengan jumlah siswa di kelas. Para siswa meletakkan ponsel sesuai nomor absensinya masing-masing.

Setelah seluruh ponsel tersimpan, loker akan dikunci dan kuncinya disimpan di ruang guru hingga proses pembelajaran selesai.

"Jadi begitu anak masuk, itu langsung memasukkan HP-nya di situ [loker], dikunci. Kuncinya kita ambil, taruh di ruang guru. Ketika Bapak/Ibu Guru menggunakan HP pelajaran, baru bisa diambil," tandasnya.

Meski demikian, kebijakan tersebut tetap memberikan fleksibilitas bagi siswa. Pada mata pelajaran yang membutuhkan penggunaan ponsel, guru akan memberikan izin kepada siswa untuk mengambil ponselnya dari loker.

Setelah pembelajaran selesai, ponsel kembali disimpan di tempat semula. Hal serupa juga berlaku apabila terdapat kebutuhan mendesak yang mengharuskan siswa menggunakan ponsel dengan izin guru.

Menurut Henny, sistem tersebut membuat siswa tidak lagi menggunakan ponsel secara diam-diam selama berada di sekolah. Mereka juga lebih tenang karena mengetahui ponselnya tetap berada di dalam kelas dan dapat digunakan ketika diperlukan.

"Ketika istirahat itu juga tidak diperkenankan, kecuali ada tugas dari guru. Jadi mereka bermain dengan teman-teman, bersosialisasi, tujuannya seperti itu. Sampai sekarang akhirnya ada sinergi antara guru sama siswa bahwa memang HP itu digunakan untuk hal-hal yang penting," ungkapnya.

Dari sisi pembelajaran, kebijakan tersebut dinilai mampu meningkatkan konsentrasi siswa selama mengikuti pelajaran. Siswa juga menjadi lebih percaya diri karena tidak terus-menerus bergantung pada ponsel saat belajar.

Selain itu, waktu istirahat kini lebih banyak dimanfaatkan siswa untuk bermain bersama teman, bersosialisasi, hingga berkunjung ke perpustakaan sekolah.

"Dampaknya sangat luar biasa. Jadi mereka gojekan sama temannya. Gojekan sama teman, saling berbicara, kemudian beranjang sana ke kelas 8, kelas 9, seperti itu. Jadi saling kenal. Kalau dulu tuh sudah asyik di pojokan sendiri masing-masing, saya lewat pun enggak disapa," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |