Kulonprogo Siaga Hadapi Puncak Kemarau, Bantuan Air Mulai Disalurkan

3 hours ago 3

Kulonprogo Siaga Hadapi Puncak Kemarau, Bantuan Air Mulai Disalurkan

Warga mengantre untuk mendapatkan bantuan air bersih dari Polsek Girimulyo di Dusun Ngaglik, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Jumat (28/6/2019). /Dokumen Harian Jogja

Harianjogja.com, KULONPROGO—Pemerintah Kabupaten Kulonprogo mulai memperkuat langkah mitigasi menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Selain menerbitkan Surat Edaran (SE) kesiapsiagaan, bantuan air bersih juga mulai disalurkan ke sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

Langkah antisipasi tersebut dilakukan untuk meminimalkan dampak musim kemarau terhadap kebutuhan air bersih masyarakat, sektor pertanian, perikanan, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah daerah juga mulai menyiapkan dukungan armada penyaluran air bersih apabila permintaan bantuan terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan.

Pemerintah Kabupaten Kulonprogo telah menerbitkan Surat Edaran Bupati Kulonprogo Nomor 300.2/2486/2026 tentang Imbauan Kesiapsiagaan dan Upaya Mitigasi Menghadapi Musim Kemarau. Surat edaran tertanggal 13 Juli 2026 tersebut diterbitkan berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo, Setiawan Tri Widada, mengatakan status darurat kekeringan tingkat kabupaten hingga saat ini masih menunggu Surat Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta tentang Penetapan Siaga Kekeringan. Meski demikian, BPBD Kulonprogo telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk membantu masyarakat yang mulai terdampak.

"Untuk Surat Keputusan (SK) penetapan, kita masih menunggu SK Gubernur DIY tentang Penetapan Siaga Kekeringan. Namun, dropping air bersih sudah mulai dilakukan untuk beberapa wilayah karena sudah ada warga dan pihak kalurahan yang mengajukan permohonan bantuan," kata Setiawan saat dikonfirmasi, Selasa (21/7/2026).

Penyaluran bantuan air bersih pada tahap awal dilakukan secara kolaboratif bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kulonprogo. Bantuan difokuskan untuk menjangkau sejumlah padukuhan yang mulai mengalami kelangkaan air bersih, terutama di kawasan Perbukitan Menoreh yang kerap terdampak kekeringan saat musim kemarau.

Menurut Setiawan, BPBD Kulonprogo juga mulai menyiapkan armada penyaluran air bersih untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan bantuan dari masyarakat. Kebutuhan air bersih diperkirakan akan terus meningkat seiring memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026.

Ia berharap penanganan dampak kekeringan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Keterlibatan berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan kelompok masyarakat, dinilai penting untuk memperluas jangkauan bantuan bagi warga yang membutuhkan.

"Kami sangat berharap dukungan bantuan CSR dari instansi, lembaga, maupun kelompok masyarakat seperti alumni dan komunitas untuk ikut menyisihkan sebagian rezekinya guna membantu penyediaan air bersih bagi warga yang membutuhkan," ujarnya.

Selain penyaluran bantuan air bersih, Surat Edaran Bupati Kulonprogo juga menginstruksikan seluruh kepala perangkat daerah, panewu, dan lurah untuk menggerakkan masyarakat melakukan berbagai langkah mitigasi menghadapi musim kemarau.

Salah satu upaya yang didorong adalah membudayakan perilaku hemat air dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat diimbau untuk memanfaatkan air secara lebih efisien, termasuk menggunakan air bekas cucian untuk menyiram tanaman apabila masih memungkinkan untuk digunakan kembali.

"Membudayakan perilaku hemat air dalam kehidupan sehari-hari (seperti memanfaatkan air bekas cucian untuk menyiram tanaman)," kata Setiawan.

Surat edaran tersebut juga memuat imbauan mengenai manajemen cadangan air dengan mengoptimalkan penggunaan Penampung Air Hujan (PAH) maupun tandon air mandiri. Pemerintah meminta masyarakat melakukan pemeriksaan kondisi sumur secara berkala untuk memastikan sumber air yang dimiliki masih dapat dimanfaatkan dengan baik selama musim kemarau berlangsung.

Tidak hanya itu, perlindungan terhadap sumber air juga menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi. Masyarakat didorong untuk menggalakkan kerja bakti membersihkan saluran air, embung, serta area di sekitar mata air guna menjaga kualitas dan keberlanjutan sumber air yang tersedia.

Berbagai langkah kesiapsiagaan tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak kekeringan yang berpotensi terjadi selama puncak musim kemarau. Dengan keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan, kebutuhan air bersih warga di Kabupaten Kulonprogo diharapkan tetap dapat terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Khairul Ma\'arif

Khairul Ma\'arif Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |