Harianjogja.com, JOGJA—Kabar kurang menyenangkan bagi pemburu ponsel flagship. Sejumlah produsen dilaporkan mulai menahan produksi smartphone kelas “Ultra” akibat lonjakan harga komponen memori global.
Laporan Phone Arena, Minggu (12/4/2026) menyebutkan, langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap kenaikan harga serta kelangkaan komponen penting seperti DRAM dan NAND pada 2026. Kondisi tersebut membuat biaya produksi ponsel kelas atas melonjak signifikan.
Krisis ini dipicu oleh tingginya permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI). Perusahaan teknologi besar dan pusat data disebut menyerap sebagian besar pasokan memori global, sehingga produsen smartphone harus berebut bahan baku.
Akibatnya, pabrik memori lebih memprioritaskan kebutuhan server AI dibandingkan perangkat konsumen seperti smartphone.
Dalam situasi tersebut, beberapa produsen—terutama dari China—mulai mempertimbangkan strategi penundaan peluncuran lini flagship Ultra. Model ini dinilai memiliki risiko tinggi karena biaya produksi yang mahal tidak selalu sebanding dengan volume penjualan.
Meski demikian, segmen ponsel kelas bawah, menengah, hingga seri “Pro” dipastikan tetap aman. Artinya, kebutuhan pengguna umum tidak akan terlalu terdampak oleh kebijakan ini.
Sebaliknya, pemain global besar seperti Apple, Samsung, dan Google diperkirakan tidak akan mengikuti langkah tersebut. Bahkan, Apple disebut tetap melanjutkan rencana merilis perangkat premium seperti iPhone Ultra.
Hal ini menunjukkan adanya perbedaan strategi antara produsen global dan pemain China, terutama dalam menghadapi tekanan biaya komponen.
Diketahui, model Ultra selama ini lebih berfungsi sebagai “showcase teknologi”—menampilkan inovasi kamera dan performa terbaik—bukan sebagai produk dengan penjualan massal.
Di tengah lonjakan harga memori, mempertahankan lini Ultra justru berpotensi membebani perusahaan, sehingga penundaan dianggap sebagai langkah paling rasional.
Bagi konsumen yang mengincar ponsel terbaik, kondisi ini bisa berarti dua hal: pilihan semakin terbatas atau harga yang makin mahal hingga pasar kembali stabil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































