
Induk orangutan Sumatera bernama Bulan menggendong anaknya yang diberi nama Badar di Cagar Alam (CA) Jantho, Kabupaten Aceh Besa, Aceh, Jumat (22/5/2026). ANTARA/HO-Kemenhut. ANTARA/HO-Kemenhut
Harianjogja.com, ACEH—Kabar menggembirakan datang dari upaya konservasi satwa liar di Indonesia. Seekor bayi orangutan Sumatera (Pongo abelii) lahir di alam liar kawasan Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, menandai keberhasilan program rehabilitasi dan pelepasliaran yang selama ini dilakukan.
Bayi orangutan berjenis kelamin jantan tersebut diberi nama Badar oleh Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni. Nama itu memiliki makna bulan purnama, selaras dengan nama induknya, Bulan, yang sebelumnya merupakan orangutan hasil rehabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya pada 2018.
Menteri Kehutanan menegaskan, kelahiran ini menjadi indikator penting bahwa perlindungan habitat yang konsisten mampu memulihkan populasi satwa endemik yang terancam punah.
“Kelahiran ini menjadi bukti nyata bahwa upaya konservasi dapat berjalan efektif. Kami berharap Badar tumbuh sehat dan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem hutan,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).
Kabar kelahiran Badar pertama kali dikonfirmasi oleh Tim Post Release Monitoring YEL-SOCP pada 22 Mei 2026. Saat itu, tim menemukan Bulan tengah bergerak aktif di tajuk hutan sambil menggendong bayinya.
Dalam pengamatan tersebut, Bulan menunjukkan perilaku alami yang kuat, termasuk sikap protektif terhadap anaknya. Bayi orangutan yang diperkirakan berusia sekitar satu bulan itu terlihat sehat dan terus berada dalam dekapan induknya.
Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kabar baik bagi dunia konservasi, tetapi juga menjadi simbol perjalanan panjang Bulan. Sebelumnya, ia merupakan korban perdagangan satwa liar sebelum akhirnya direhabilitasi dan dilepasliarkan kembali ke hutan.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata, menyatakan bahwa kelahiran ini menjadi bukti bahwa satwa hasil rehabilitasi masih memiliki peluang besar untuk bertahan hidup dan berkembang biak di alam liar.
“Ini menunjukkan bahwa orangutan yang pernah diselamatkan dari perdagangan ilegal bisa kembali hidup normal di habitatnya, bahkan berkembang biak. Namun, keberhasilan ini sangat bergantung pada perlindungan habitat yang berkelanjutan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kawasan hutan dari berbagai ancaman, seperti perambahan dan perburuan, agar populasi orangutan terus meningkat.
Cagar Alam Jantho sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan penting bagi konservasi orangutan Sumatera. Selain menjadi lokasi pelepasliaran, kawasan ini juga berfungsi sebagai habitat alami yang mendukung proses adaptasi satwa hasil rehabilitasi.
Kelahiran Badar menjadi harapan baru bagi kelestarian orangutan Sumatera yang saat ini masih berstatus terancam punah. Ke depan, upaya kolaborasi antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat diharapkan semakin diperkuat demi menjaga keberlangsungan satwa ikonik Indonesia tersebut di alam liar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































