Juara TKA Bantul, Kisah Haru Yusuf dan Perjuangan Ayah Tunggal

4 hours ago 3

Harianjogja.com, BANTUL—Nama Yusuf Elbaradei menjadi salah satu yang paling banyak dibicarakan dalam purna wiyata siswa kelas IX SMP Negeri 1 Sanden, Selasa (2/6/2026). Siswa kelas IX B itu mencatat prestasi membanggakan setelah meraih peringkat pertama Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat Kabupaten Bantul, mengungguli ratusan peserta didik lainnya.

Prestasi tersebut turut mengantarkan SMP Negeri 1 Sanden menjadi peraih peringkat pertama TKA Kabupaten Bantul dan menempati posisi kedua dalam Tes Kemampuan Akademik Daerah (TKAD). Namun, di balik capaian akademik itu tersimpan kisah perjuangan seorang ayah yang selama tiga tahun terakhir membesarkan putranya seorang diri setelah kehilangan sang istri.

Yusuf tumbuh dalam pendampingan ayahnya, Yuni Maryanto. Keduanya menjalani perjalanan yang tidak selalu mudah, tetapi penuh ketekunan dan komitmen terhadap pendidikan.

Ketika hasil TKA diumumkan, tidak ada perayaan berlebihan yang dilakukan keluarga tersebut. Bahkan Yusuf mengaku sama sekali tidak menyangka akan menjadi peraih nilai tertinggi di Kabupaten Bantul.

“Jujur saja saya itu tidak menyangka bisa juara satu TKA,” ujarnya saat ditemui Harian Jogja, Kamis (4/6/2026).

Sikap Yusuf tetap sederhana meski namanya menjadi sorotan. Saat berbicara mengenai pencapaiannya, remaja tersebut tampak tenang dan lebih sering tersenyum ketika ditanya tentang kebiasaan belajar yang mengantarkannya menjadi juara TKA Bantul.

Menurut Yusuf, keberhasilannya tidak lahir dari metode belajar yang rumit.

“Kalau untuk belajar itu sebenarnya enggak terlalu gimana-gimana. Cuma saya itu kalau belajar sudah pasti fokus,” katanya.

Kebiasaan menjaga fokus menjadi kunci utama dalam rutinitas belajarnya. Menariknya, telepon genggam yang sering dianggap mengganggu konsentrasi justru dimanfaatkan sebagai sarana pendukung belajar.

“Nanti HP biasanya saya putarkan lagu, kalau enggak saya mode jangan ganggu. Jadi fokus belajar,” ujarnya.

Di tengah maraknya tren bimbingan belajar intensif menjelang ujian, Yusuf memilih jalur yang lebih sederhana. Ia tidak mengikuti program persiapan khusus maupun bimbingan belajar berbiaya tinggi.

Yusuf hanya mengikuti les sederhana di lingkungan tempat tinggalnya.

“Cuma les-les kampung aja, ya bisa dibilang les privat,” kata Yuni Maryanto sambil tersenyum.

Peran sang ayah juga sangat besar dalam mendukung proses belajar tersebut. Saat akhir pekan tiba dan kegiatan sekolah libur, Yuni mendatangkan guru privat ke rumah agar putranya tetap mendapatkan pendampingan belajar.

“Ketika Sabtu, Minggu otomatis libur. Itu kita leskan privat di rumah. Di rumah kita mengundang guru,” ujarnya.

Materi yang dipelajari pun tidak terlalu banyak.

“Cuma dua mata pelajaran. Matematika dan IPA,” katanya.

Sementara itu, Bahasa Inggris yang menjadi mata pelajaran favorit Yusuf dipelajarinya secara mandiri tanpa pendampingan khusus.

“Paling disenengi itu Bahasa Inggris,” kata Yusuf.

Usaha tersebut membuahkan hasil yang mengesankan. Yusuf berhasil meraih nilai 100 untuk Bahasa Indonesia, nilai 93 untuk Matematika, dan nilai 93 untuk Bahasa Inggris.

“Bahasa Indonesia 100,” ujarnya.

Bagi Yuni Maryanto, keberhasilan putranya merupakan hasil proses panjang yang telah terlihat sejak beberapa tahun lalu. Ia menilai Yusuf memang memiliki ketertarikan kuat pada bidang akademik dibanding aktivitas lain.

“Kelihatannya memang dia fokusnya ke akademik. Untuk keterampilan lain-lain memang dia enggak begitu tertarik,” katanya.

Karakter Yusuf juga dikenal berbeda dibanding sebagian remaja seusianya. Ia lebih senang menghabiskan waktu di rumah daripada sering berkumpul di luar bersama teman-teman.

“Dia enggak pernah kelayapan. Introvert memang, saya akui. Lebih banyak di kamar,” ujar Yuni.

Meski demikian, Yusuf tetap memiliki aktivitas hiburan yang disukainya. Bermain catur dan sesekali memainkan gim di telepon genggam menjadi cara untuk menjaga keseimbangan antara belajar dan waktu santai.

“Kalau enggak ada hiburan malah stres,” kata Yusuf.

Menariknya, Yuni tidak menerapkan aturan yang terlalu ketat terkait penggunaan gawai. Menurutnya, membangun kesadaran dan tanggung jawab anak jauh lebih penting daripada sekadar membatasi waktu bermain.

“Ketika dia main HP, monggo. Cuma studinya jangan sampai,” katanya.

Menurut Yuni Maryanto, kebebasan harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab.

“Ketika si anak dikasih kebebasan penuh tanpa batas, otomatis pertanggungjawabannya juga harus ada. Kita kasih tanggung jawab ke anak sedikit-sedikit,” ujarnya.

Prinsip tersebut terus dipegang sejak dirinya menjalani peran sebagai orang tua tunggal setelah sang istri meninggal dunia tiga tahun lalu. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, ia memilih untuk tetap hadir dan mendampingi perjalanan pendidikan putranya.

“Yang jelas kita sebagai orang tua tunggal akan fokus. Untuk apapun, untuk studi, kita siap. Sisanya kita serahkan ke anak untuk belajar tanggung jawab,” katanya.

Di lingkungan SMP Negeri 1 Sanden, prestasi Yusuf bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Kepala sekolah Windarti menyebut siswa tersebut telah lama dikenal sebagai peserta didik yang konsisten menunjukkan kemampuan akademik dan kerap berada di posisi teratas saat tryout.

“Keberhasilan ini menjadi tonggak awal bagi para siswa untuk dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya dan meraih cita-cita sesuai yang diinginkan. Yusuf itu dikenal anak yang baik dan selalu peringkat atas saat tryout,” kata Windarti.

Apresiasi juga datang dari Ketua Komite SMP Negeri 1 Sanden, Santoso, yang menyampaikan penghargaan kepada para guru atas dedikasi mereka dalam mendampingi para siswa hingga berhasil mencatatkan berbagai prestasi akademik.

“Terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada bapak dan ibu guru yang telah dengan sabar membimbing siswa-siswi SMP Negeri 1 Sanden sehingga dapat meraih keberhasilan,” ujarnya.

Kini, Yusuf mulai mempersiapkan langkah berikutnya dalam perjalanan pendidikannya. Ia berencana melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 1 Bantul dan menyimpan cita-cita untuk menjadi seorang pengusaha. Meski demikian, Yusuf mengaku masih membuka kemungkinan lain sembari terus belajar dan menemukan bidang yang paling sesuai dengan dirinya.

Dari kamar yang lebih sering digunakan untuk belajar dibanding bermain, Juara TKA Bantul itu menunjukkan bahwa prestasi akademik dapat tumbuh dari kedisiplinan, ketekunan, serta dukungan keluarga yang tidak pernah berhenti percaya pada masa depan anaknya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |