
Armada Global Sumud Flotilla 2026 Spring Mission saat berangkat dari marina di Augusta, Pulau Sisilia, Italia, pada Minggu (26/4/2026). (ANTARA/Anadolu/Barış Seçkin/pri)
Harianjogja.com, ISTANBUL—Ketegangan di perairan internasional kembali memanas setelah armada bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza dilaporkan mendapat serangan dari militer Israel. Insiden ini terjadi saat konvoi yang membawa misi kemanusiaan tersebut berupaya menembus blokade yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Penyelenggara misi, Global Sumud Flotilla, menyatakan bahwa kapal-kapal militer Israel masih melakukan pencegatan bahkan menaiki sejumlah kapal bantuan. Meski berada di bawah tekanan, armada tersebut diklaim tetap melanjutkan perjalanan menuju Gaza.
“Pencegatan berlanjut. Kapal militer Israel secara ilegal menaiki armada kami. Kami tetap siaga dan menolak diintimidasi,” demikian pernyataan resmi yang dirilis pada Selasa (19/5/2026).
Dalam keterangan yang sama, disebutkan bahwa sekitar 10 kapal bantuan berhasil bertahan dari serangan selama lebih dari 22 jam di laut internasional. Armada tersebut kini dilaporkan tinggal berjarak sekitar 121 mil laut dari pesisir Gaza.
Namun, laporan berbeda datang dari media Israel yang menyebut operasi militer telah menyasar sebagian besar armada. Disebutkan lebih dari 40 dari total 54 kapal telah disita, sementara sekitar 300 aktivis yang berada di dalamnya diamankan oleh pihak militer.
Serangan ini menjadi yang kedua dalam waktu kurang dari 24 jam, setelah sebelumnya konvoi yang sama juga diserang pada Senin (18/5/2026). Armada tersebut diketahui berangkat dari Marmaris, Turki, sejak Kamis (14/5/2026) sebagai bagian dari upaya internasional menyalurkan bantuan ke Gaza.
Insiden serupa bukan kali pertama terjadi. Pada akhir April lalu, armada bantuan juga diserang di sekitar perairan dekat Pulau Kreta, Yunani. Saat itu, ratusan aktivis dari puluhan negara turut serta dalam misi kemanusiaan tersebut.
Dalam peristiwa sebelumnya, sejumlah kapal disita dan puluhan aktivis sempat ditahan sebelum akhirnya dibebaskan. Meski demikian, aksi-aksi solidaritas internasional untuk Gaza terus berlanjut.
Sementara itu, kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza dilaporkan semakin memburuk. Lebih dari dua juta warga Palestina kini hidup dalam situasi krisis, dengan sebagian besar mengalami keterbatasan akses pangan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Konflik berkepanjangan yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir disebut menelan puluhan ribu korban jiwa serta memicu krisis kemanusiaan yang semakin dalam. Meski sempat diumumkan gencatan senjata pada Oktober 2025, situasi di lapangan dilaporkan masih jauh dari stabil.
Pembatasan bantuan dan serangan yang terus berlangsung dinilai memperparah kondisi warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan dalam konflik tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































