IHSG Anjlok 1,53 Persen Sepekan, Sinyal Suku Bunga The Fed Jadi Tekanan

7 hours ago 6

Hafiyyan

Hafiyyan Sabtu, 19 September 2026 08:07 WIB

IHSG Anjlok 1,53 Persen Sepekan, Sinyal Suku Bunga The Fed Jadi Tekanan

Foto ilustrasi perdagangan saham. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,53% sepanjang perdagangan pekan 14–18 September 2026. Tekanan tersebut terjadi di tengah sentimen bursa global setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed memberikan sinyal suku bunga yang lebih tinggi.

Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Elsierra Putri Yosita mengatakan sejumlah indikator perdagangan saham di BEI bergerak dinamis sepanjang pekan tersebut.

IHSG ditutup di level 6.441,159 pada akhir pekan, turun dari posisi 6.541,377 pada pekan sebelumnya. Sejalan dengan pergerakan IHSG, kapitalisasi pasar BEI juga mengalami perubahan.

"Sejalan dengan pergerakan IHSG, kapitalisasi pasar BEI berubah 1,58% menjadi Rp11.266 triliun dari Rp11.446 triliun pada pekan sebelumnya," ujar Elsierra dalam keterangan resmi, Jumat (18/9/2026).

Aktivitas transaksi ikut menurun

Pelemahan IHSG diikuti penurunan rata-rata nilai transaksi harian di BEI. Angkanya turun 6,95% menjadi Rp15,22 triliun dari Rp16,36 triliun pada pekan sebelumnya.

Rata-rata frekuensi transaksi harian juga turun 14,73%. Frekuensi tersebut menjadi 1,89 juta kali transaksi dari sebelumnya 2,22 juta kali transaksi.

Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian BEI berubah 20,71% menjadi 28,61 miliar saham. Pada pekan sebelumnya, rata-rata volume transaksi harian tercatat 36,09 miliar saham.

Dari sisi investor asing, tercatat nilai jual bersih atau net sell sebesar Rp1,79 triliun pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Jika dihitung secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing telah membukukan net sell Rp74,36 triliun.

Sinyal hawkish The Fed tekan pasar

Pelemahan IHSG sepanjang pekan tersebut tidak terlepas dari tekanan bursa global setelah muncul sentimen hawkish dari The Fed.

Analis Stockbit Sekuritas dalam laporannya menyebutkan The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%–4% pada Rabu (16/9) waktu setempat.

Kenaikan tersebut sesuai dengan ekspektasi konsensus dan menjadi kenaikan suku bunga AS pertama sejak 2023. Selain menaikkan suku bunga, The Fed juga memperbarui proyeksi suku bunga pada akhir 2026 menjadi kisaran 4%–4,25%.

Proyeksi tersebut mengindikasikan masih terdapat peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 bps hingga akhir 2026. Sebelumnya, dalam proyeksi Juni 2026, The Fed memperkirakan suku bunga AS pada akhir 2026 berada di kisaran 3,75%–4%.

Meski demikian, reaksi pasar terhadap keputusan tersebut relatif terbatas, baik di pasar obligasi maupun saham. Analis Stockbit Sekuritas menilai kondisi tersebut menunjukkan ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan sudah diperhitungkan oleh pelaku pasar.

"Kami menilai reaksi market yang cenderung terbatas, baik di pasar obligasi maupun saham, menandakan bahwa multiple rate hikes sudah diekspektasikan oleh market (priced-in)," tulis analis Stockbit Sekuritas.

BI Rate berpotensi mengikuti arah The Fed

Ekspektasi masih adanya satu kali kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir 2026 juga menjadi perhatian terhadap arah kebijakan Bank Indonesia (BI).

Analis Stockbit Sekuritas menilai ruang kenaikan BI Rate akan bergantung pada kondisi stabilitas nilai tukar rupiah. BI berpotensi menaikkan suku bunga sebanyak dua kali dengan masing-masing kenaikan 25 bps atau hanya sekali.

Besaran dan frekuensi kenaikan tersebut akan bergantung pada perkembangan stabilitas rupiah. Sementara itu, konsensus per Kamis (17/9/2026) memproyeksikan BI Rate naik 25 bps menjadi 6% hingga akhir 2026.

Perkembangan kebijakan suku bunga AS, stabilitas rupiah, serta ekspektasi terhadap kebijakan BI menjadi sejumlah faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar setelah IHSG melemah 1,53% sepanjang pekan 14–18 September 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |