Harga Emas Turun Tajam Banyak Investor Mulai Beralih

5 hours ago 4

Harianjogja.com, JAKARTA—Tekanan terhadap harga emas semakin terasa pada awal pekan ini seiring perubahan sentimen pasar global, yang beralih dari tren kenaikan menjadi aksi jual di tengah gejolak energi dan konflik Timur Tengah.

Pada perdagangan Senin (23/3/2026) pagi, harga emas berjangka masih mencatat penurunan sekitar 3 persen, sementara harga emas spot turun ke kisaran 4.288 dolar AS per ons setelah sebelumnya anjlok lebih dari 10 persen dalam sepekan.

Pelemahan tajam ini disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa dekade, bahkan menjadi kinerja mingguan terburuk sejak 1983.

Kepala strategi logam JPMorgan, Greg Shearer, menilai kondisi tersebut mencerminkan efek rambatan dari aksi jual besar di pasar keuangan.

Menurutnya, lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah mendorong ekspektasi inflasi global, yang kemudian mengubah arah pergerakan pasar.

Situasi ini membuat bank sentral utama, termasuk Federal Reserve, berpotensi menunda rencana penurunan suku bunga.

Di Eropa, yang sangat bergantung pada impor energi, bahkan muncul wacana kenaikan suku bunga untuk menahan tekanan inflasi.

Selain itu, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi turut membuat emas semakin kurang menarik, karena tidak memberikan imbal hasil.

Sejak konflik memanas, harga emas tercatat telah terkoreksi lebih dari 14 persen, menunjukkan pergeseran minat investor ke instrumen lain yang lebih menguntungkan.

Analis ING, Ewa Manthey, menyebut dalam jangka pendek emas justru berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber likuiditas oleh investor di tengah ketidakpastian pasar.

Padahal, emas sempat mencatat kinerja sangat kuat pada 2025 dengan lonjakan sekitar 65 persen, yang menjadi salah satu kenaikan historis.

Kini, pelaku pasar mulai mencermati kemungkinan perubahan sikap bank sentral yang sebelumnya menjadi penopang utama permintaan emas.

Shearer menambahkan kombinasi tekanan ekonomi, kenaikan harga energi, serta fluktuasi nilai tukar berpotensi mengubah pola pembelian emas oleh bank sentral.

Meski begitu, JPMorgan masih melihat prospek jangka panjang emas tetap positif.

Jika gangguan energi berlanjut dan pertumbuhan ekonomi melambat, peluang pelonggaran kebijakan moneter kembali terbuka dan berpotensi menjadi sentimen positif bagi emas.

Dalam kondisi tersebut, fokus Federal Reserve diperkirakan akan bergeser ke sektor ketenagakerjaan dengan kebijakan yang lebih akomodatif.

Tidak hanya emas, tekanan juga terjadi pada logam lain seperti perak dan tembaga yang turut mengalami penurunan akibat kekhawatiran melemahnya permintaan global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |