Dugaan Keracunan MBG Sleman, BGN Tanggung Biaya Rawat Inap

4 hours ago 7

Harianjogja.com, JOGJA— Biaya perawatan siswa yang harus menjalani rawat inap akibat dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Turi, Sleman, akan ditanggung Badan Gizi Nasional (BGN) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Kepala Dinas Kesehatan DIY Gregorius Anung Trihadi mengatakan BGN atau SPPG telah berkomitmen menanggung biaya perawatan bagi siswa yang harus menjalani rawat inap akibat dugaan keracunan MBG.

Sementara itu, mekanisme pembiayaan bagi pasien yang menjalani rawat jalan berbeda. Pasalnya, pasien rawat jalan biasanya hanya mendapatkan penanganan medis selama beberapa jam.

"Apabila itu masih dalam kondisi rawat jalan, menjadi bagian tanggung jawab dari Puskesmas tersebut. Tapi kalau yang rawat inap itu pasti kemudian kita minta untuk ditanggung oleh BGN atau SPPG," ujarnya.

Sekitar 70 Siswa Dapat Penanganan Medis

Anung menjelaskan setiap kali terdapat kasus dugaan keracunan, langkah pertama yang dilakukan adalah memberikan penanganan medis kepada warga yang mengalami gejala.

Dalam kasus dugaan keracunan MBG di Turi, Sleman, sekitar 70 siswa dilaporkan mendapatkan penanganan di puskesmas dan rumah sakit. Sebagian besar siswa menjalani rawat jalan, sedangkan hanya beberapa siswa yang harus menjalani rawat inap.

"Ada yang rawat jalan, tapi sebagian besar adalah rawat jalan, yang rawat inap cuma sedikit," jelasnya.

Selain memastikan korban mendapatkan penanganan medis, Dinkes DIY juga melakukan penyelidikan epidemiologi. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah gejala yang dialami para siswa berkaitan dengan satu kejadian yang sama.

Penyelidikan dilakukan dengan melihat waktu munculnya gejala pada para siswa. Petugas juga memeriksa apakah para siswa mengonsumsi makanan yang sama dalam waktu yang bersamaan.

Jika ditemukan kesamaan dari sejumlah faktor tersebut, kondisi itu dapat menjadi dasar untuk menduga adanya keracunan makanan.

Penyebab Keracunan Masih dalam Tahap Dugaan

Anung mengatakan analisis terhadap gejala yang dialami siswa dilakukan menggunakan sejumlah alat atau metode analisis untuk melihat kemungkinan penyebab gangguan kesehatan tersebut.

"Dicatat gejalanya dan sebagainya. Nah, dari situ kemudian kita analisis menggunakan tools, oh kalau gejalanya ini kemungkinan besar penyebabnya adalah ini ini ini. Tetapi itu baru dalam tahap dugaan," jelasnya.

Dengan demikian, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami siswa dalam dugaan keracunan MBG di Turi belum dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala yang muncul.

Untuk mengetahui penyebab pastinya, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman bersama Puskesmas Turi nantinya akan mengambil sampel sisa makanan. Sampel tersebut kemudian diperiksa untuk mengetahui apakah terdapat bakteri yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

Sampel Makanan Diperiksa

Menurut Anung, setiap porsi makanan MBG yang diberikan pada hari tersebut sebenarnya wajib memiliki sampel makanan yang disimpan di lokasi MBG. Sampel itu nantinya dapat digunakan untuk pemeriksaan apabila terjadi dugaan keracunan.

"Mereka kan wajib sebenarnya setiap memberikan satu porsi makanan hari itu, dia harus ada sampel bank sampel atau sampel yang di ditinggal di MBG. Itu yang kemudian diperiksa," jelasnya.

Pemeriksaan sampel tersebut menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa. Hasil pemeriksaan juga dapat membantu memastikan apakah dugaan keracunan MBG tersebut berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi para siswa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |