
Foto siswa SMA.- Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT
Harianjogja.com, JOGJA—Dugaan ketidaksetaraan fasilitas pembelajaran bagi siswa non muslim di salah satu SMA Negeri di Jogja menjadi perhatian Dewan Pendidikan DIY. Lembaga tersebut menilai seluruh sekolah negeri harus menjamin hak belajar setiap peserta didik secara setara, termasuk menyediakan ruang khusus untuk pembelajaran agama sesuai keyakinan masing-masing.
Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisno Wibowo, mengatakan sekolah semestinya telah mengantisipasi keberadaan siswa dari berbagai latar belakang agama. Karena itu, penyediaan ruang belajar bagi siswa non muslim tetap harus dipenuhi meskipun jumlah pesertanya tidak banyak.
"Kalau saya idealnya harus memberi fasilitas yang sama. Jadi sekolah itu harus sudah memprediksi bahwa akan siswa yang agama ini, agama ini. Ya mesti ada ruang-ruang yang disediakan," ujarnya, Senin (27/7/2026).
Fasilitas dan Guru Agama Dinilai Harus Sama
Menurut Sutrisno, pemenuhan hak pendidikan tidak berhenti pada penyediaan ruang kelas. Sekolah juga berkewajiban menghadirkan guru mata pelajaran agama sesuai agama yang dianut oleh masing-masing peserta didik.
Ia menyatakan akan menyampaikan persoalan tersebut kepada Disdikpora DIY agar diterbitkan imbauan kepada seluruh sekolah supaya memberikan fasilitas pembelajaran yang setara tanpa membedakan latar belakang agama.
"Ya mungkin nanti saya sampaikan ke Dinas ya, supaya ada imbauan. Jadi intinya ya harus kita fasilitasi," lanjutnya.
Disdikpora DIY Sebut SOP Menjamin Kesetaraan
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Disdikpora DIY, Muhammad Setiadi, mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kepala Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) kabupaten/kota serta kepala SMA Negeri.
Berdasarkan laporan yang diterima, seluruh sekolah telah menyediakan fasilitas ruang pembelajaran bagi siswa non muslim. Ia menegaskan pemenuhan hak seluruh peserta didik di sekolah negeri telah diatur melalui standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku dengan mengedepankan prinsip kesetaraan.
"Ya pastinya sama, nggak ada kita mau membeda-bedakan kan gitu. SOP-nya kan juga sudah ada," ucapnya.
Laporan Anonim Menyulitkan Proses Klarifikasi
Meski demikian, Setiadi mengakui laporan yang beredar masih bersifat anonim sehingga menyulitkan dinas untuk melakukan penelusuran lokasi sekolah yang dimaksud.
Akibatnya, Disdikpora DIY belum dapat memastikan apakah persoalan tersebut merupakan kebijakan yang berlaku di sekolah bersangkutan atau hanya terjadi karena kelalaian individu.
"Fasilitas ruang pembelajaran agama untuk non muslim sudah tersedia, karena pelapornya anonim dan tidak menyebutkan di SMA mana dan kami tentunya belum bisa klarifikasi secara detail tentang keluhan tersebut," paparnya.
Keluhan Beredar di Media Sosial
Sebelumnya, akun @merapi_uncover mengunggah keluhan mengenai dugaan diskriminasi yang dialami siswa non muslim di salah satu SMA Negeri di Jogja. Dalam unggahan tersebut disebutkan para siswa mengalami kesulitan memperoleh fasilitas ruang belajar yang layak untuk mengikuti mata pelajaran agama. Pengirim informasi meminta identitasnya dirahasiakan.
Menurut isi laporan, pada awalnya para siswa mengikuti pembelajaran di perpustakaan. Namun, setelah ruangan tersebut dialokasikan sepenuhnya untuk kegiatan lain, mereka diminta berpindah tanpa disediakan ruang kelas pengganti yang bersifat tetap.
Akibatnya, ketika ruang kelas lain digunakan atau dipakai untuk rapat, para siswa harus mengikuti pelajaran di luar ruangan maupun di halaman sekolah. Mereka juga disebut pernah diminta berpindah secara mendadak ketika proses pembelajaran sedang berlangsung karena ruangan akan digunakan untuk rapat.
Pelapor turut menyampaikan bahwa komunikasi dari pihak sekolah dinilai kurang kondusif dan terkesan seperti mengusir siswa, padahal mereka hanya ingin memperoleh tempat belajar yang nyaman selama mengikuti pelajaran agama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































