
Raif saat mengikuti lomba FLS3N yang berlangsung secara daring. Dok SLB Islam Qothrunnada\r\n
Harianjogja.com, BANTUL—Syafiq Raif Muzaffar, siswa kelas VIII SLB Islam Qothrunnada Banguntapan, Kabupaten Bantul, berhasil meraih Juara I Nasional Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional Pendidikan Khusus (FLS3N Diksus) kategori seni lukis. Prestasi tersebut diraih setelah melalui perjalanan panjang dalam mengembangkan bakat melukis yang telah ditekuninya sejak sekolah dasar.
Remaja berusia 16 tahun asal Banjarnegara itu berhasil mengungguli peserta dari 38 provinsi pada FLS3N Diksus tingkat nasional tahun ini melalui karya bertajuk Semarak Pesta Kesenian Rakyat Yogyakarta. Karya tersebut terinspirasi dari suasana Alun-Alun Utara Yogyakarta dan mengangkat kekayaan budaya Yogyakarta melalui sosok penari tunadaksa yang membawakan Tari Mangastuti.
Guru pendamping Raif, Khasna Nada, mengatakan bakat melukis anak didiknya mulai terlihat sejak pindah ke SLB Islam Qothrunnada sekitar kelas IV SD. Saat itu, Raif sudah gemar menggambar tokoh-tokoh kartun favoritnya seperti Doraemon dan Pokemon di atas kertas.
"Raif ini kan pindah ke sekolah ini sekitar kelas 4 SD. Waktu itu, dia sudah suka gambar gitu, tapi belum terarah. Waktu itu, dia cuma suka gambar karakter kartun seperti Doraemon dan Pokemon di lembaran kertas," katanya saat ditemui di SLB Islam Qothrunnada, Jumat (24/7/2026).
Para guru kemudian melihat kegemarannya sebagai potensi yang perlu dikembangkan. Melalui pendampingan yang dilakukan secara bertahap selama bertahun-tahun, kemampuan menggambar Raif mulai diarahkan menjadi keterampilan melukis yang lebih matang.
Karena berasal dari Banjarnegara, Raif tinggal di asrama sekolah selama menempuh pendidikan di Kabupaten Bantul. Di lingkungan asrama, ia semakin dekat dengan berbagai aktivitas seni, termasuk latihan melukis bersama para pengajar.
Meski demikian, kegiatan melukis tidak dilakukan setiap hari. Sekolah tetap memprioritaskan kegiatan akademik, sedangkan melukis menjadi ruang bagi Raif untuk menyalurkan kreativitasnya pada waktu luang.
"Dia enggak setiap hari melukis. Jadi, ada waktu-waktu tertentu saja. Kalau waktunya belajar, ya dia belajar. Kalau waktunya istirahat atau sedang menunggu waktu salat atau setelah salat itu biasanya anak dibebaskan. Jadi kalau gabut ngambil kertas terus gambar tipis-tipis. Kalau lagi mood banget, gambarnya bisa bagus sekali," tutur Nada.
Perjalanan Raif di ajang FLS3N juga berlangsung secara bertahap. Pada 2024, saat masih duduk di kelas V SD, ia berhasil melaju ke tingkat nasional pada kategori gambar ekspresi menggunakan media krayon dan meraih Juara Harapan III. Setahun kemudian, pencapaiannya meningkat dengan meraih Juara Harapan I pada kategori yang sama.
Tantangan baru datang ketika Raif memasuki jenjang SMP. Regulasi lomba berubah sehingga kategori gambar ekspresi tidak lagi dipertandingkan. Ia pun harus beradaptasi dengan kategori seni lukis menggunakan media kanvas dan cat akrilik yang belum pernah digunakannya sebelumnya.
Nada mengakui proses adaptasi tersebut tidak mudah. Raif harus mempelajari teknik melukis yang berbeda dari penggunaan krayon yang selama ini menjadi media andalannya. Namun, pemahaman tentang komposisi warna yang telah dikuasainya menjadi modal penting dalam proses pembelajaran.
"Itu benar-benar pertama kalinya dia pegang kanvas dan cat akrilik dari nol. Sebelumnya kan fokus di krayon. Tapi karena teknik warna dan komposisinya di krayon sudah matang, kita coba matangkan di kanvas. Dan kita enggak menyangka, ternyata alhamdulillah bisa dapat juara 1," jelasnya.
Perubahan media tersebut justru membuka jalan baru bagi Raif. Melalui lukisan Semarak Pesta Kesenian Rakyat Yogyakarta, ia berhasil meraih Juara I Nasional FLS3N Diksus kategori seni lukis.
Pemilihan Tari Mangastuti dalam lukisannya bukan tanpa alasan. Tarian tersebut memiliki makna rasa syukur, doa, serta harapan akan keberkahan dan kejayaan. Ide karya lahir dari hasil diskusi antara Raif, guru pendamping, dan pelatihnya.
Di balik keberhasilannya, Raif mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi juara nasional. Melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh pendampingnya, ia mengungkapkan rasa bahagianya.
"Saya senang sekali bisa menang lomba dan sama sekali tidak meyangka," ucapnya.
Bagi Raif, melukis bukan sekadar sarana mengikuti perlombaan atau meraih prestasi. Aktivitas tersebut telah menjadi cara sederhana baginya untuk menikmati waktu dan menghilangkan rasa bosan.
"Aku tidak pernah bosan, karena bisa menghilangkan bosan," ujarnya lagi.
Ketekunan Raif menunjukkan bahwa keterbatasan pendengaran tidak menjadi penghalang untuk terus berkembang dan berprestasi di tingkat nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































