
Yuni saat menyirami tanaman bibit padi di lahannya pada Kamis (4/6/2026). Kiki Luqman/Harian Jogja
Harianjogja.com, BANTUL—Lahan pasir di kawasan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) Pantai Selatan Bantul yang sebelumnya identik dengan budidaya bawang merah dan tanaman hortikultura kini mulai beralih fungsi. Sejumlah petani memilih usaha yang dinilai lebih stabil dan cepat menghasilkan, yakni pembibitan padi.
Perubahan ini salah satunya dilakukan Yuni Maryanto, 52, warga Padukuhan Tegalrejo, Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden. Ia mengaku sudah hampir dua tahun meninggalkan budidaya bawang merah dan cabai di lahan pasir miliknya.
Menurut Yuni, kondisi cuaca yang sulit diprediksi membuat risiko gagal panen semakin tinggi. Selain biaya perawatan yang besar, tanaman hortikultura juga rentan terhadap serangan hama yang sulit dikendalikan.
“Kalau sudah kena hama, biaya penanganannya sangat tinggi, sementara hasil panen justru turun. Akhirnya malah rugi,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).
Melihat kondisi tersebut, Yuni beralih ke usaha pembibitan padi. Ia menilai usaha ini lebih aman dengan biaya produksi lebih rendah serta masa panen yang relatif singkat.
Bibit padi, kata dia, sudah bisa dipanen dalam waktu 20 hari hingga satu bulan. Saat ini, seluruh lahan pasir miliknya yang terdiri dari sekitar 80 petak dimanfaatkan untuk produksi bibit.
“Sekarang semua lahan saya gunakan untuk pembibitan padi. Hasilnya tidak hanya untuk kebutuhan sendiri, tapi juga dijual ke petani lain,” katanya.
Permintaan bibit padi terus mengalir, tidak hanya dari wilayah Sanden, tetapi juga dari Kapanewon Bambanglipuro hingga Sewon. Sebagian besar pembeli merupakan pelanggan tetap.
Adapun proses pembibitan di lahan pasir terbilang sederhana. Lahan terlebih dahulu disiapkan, kemudian diberi pupuk sebelum benih ditebar merata. Karena karakter tanah pasir mudah kering, penyiraman dilakukan rutin setiap pagi.
Untuk menghindari gangguan hama seperti burung, area persemaian ditutup menggunakan terpal hingga bibit tumbuh.
“Setiap pagi harus disiram karena cepat kering. Lahan juga ditutup terpal supaya bibit tidak dimakan burung,” jelasnya.
Setelah memasuki usia panen, bibit dicabut dan dijual dengan harga Rp10.000 per unting. Varietas yang diproduksi disesuaikan dengan permintaan pasar, seperti Inpari 32, IR 36, hingga varietas premium seperti Supadi dan Mapan.
Dari sisi ekonomi, usaha ini dinilai cukup menguntungkan. Yuni menjelaskan, satu kemasan benih Inpari 32 seberat lima kilogram seharga Rp90.000 bisa menghasilkan sekitar 60 unting bibit.
Dengan harga jual Rp10.000 per unting, omzet yang diperoleh mencapai Rp600.000. Setelah dikurangi biaya produksi sekitar Rp250.000, keuntungan bersih mencapai Rp350.000.
“Kalau satu lahan bisa untuk 15 kemasan benih, hasilnya cukup besar dan lebih pasti,” ungkapnya.
Ketersediaan bibit ini juga membantu petani lain. Bani, petani asal Kalurahan Timbulharjo, Kapanewon Sewon, mengaku membeli bibit dari lokasi tersebut untuk kebutuhan tambal sulam tanaman padi yang rusak akibat serangan hama keong.
“Saya beli 20 unting untuk mengganti tanaman yang rusak. Hama keong cukup ganas saat menyerang bibit yang baru ditanam,” ujarnya.
Peralihan usaha ini menjadi bukti adaptasi petani Bantul dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan risiko pertanian, sekaligus membuka peluang ekonomi baru di kawasan pesisir selatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































