Harianjogja.com, JOGJA—Kepergian pemilik OnlyFans, Leonid Radvinsky membuka tanda tanya besar soal arah bisnis dan keamanan penghasilan para kreator.
Perubahan kepemimpinan berpotensi memengaruhi penghasilan hingga kebijakan platform yang selama ini menjadi sumber cuan jutaan orang.
Kabar duka atas meninggalnya pria berusia 43 tahun tersebut disampaikan langsung oleh juru bicara perusahaan pada Senin (23/3/2026), seperti dikutip dari AP News pada Selasa (24/3/2026).
"Kami sangat berduka cita mengumumkan kematian Leo Radvinsky. Leo meninggal dunia dengan tenang setelah perjuangan panjang melawan kanker," demikian bunyi pernyataan resmi yang dirilis.
Bagi kreator, kehilangan Radvinsky bukan sekadar kehilangan pemilik perusahaan, tetapi sosok yang mengubah cara menghasilkan uang dari konten digital, khususnya konten dewasa. Lahir di Ukraina dan dibesarkan di Chicago, ia dikenal sebagai figur tertutup yang jarang tampil di publik.
Radvinsky mengakuisisi OnlyFans pada 2018 dari dua pendiri asal Inggris dan berhasil mengubahnya menjadi platform global dengan model bisnis langganan yang kemudian banyak ditiru kompetitor.
Perusahaan menekankan bahwa pihak keluarga meminta privasi selama masa berduka. Minimnya informasi pribadi Radvinsky selama ini sejalan dengan karakternya yang tertutup, meski diketahui ia merupakan lulusan ekonomi dari Universitas Northwestern dan tinggal di Florida.
Menurut majalah Forbes, kekayaan bersih Radvinsky diperkirakan mencapai US$4,7 miliar atau setara lebih dari Rp75 triliun. Selain mengembangkan OnlyFans, ia juga aktif berinvestasi melalui perusahaan modal ventura berbasis di Florida, Leo.com.
Di luar bisnis, ia juga dikenal aktif dalam kegiatan filantropi, termasuk memberikan donasi kepada Memorial Sloan Kettering Cancer Center, lembaga riset kanker terkemuka. Kepergiannya menjadi ironi, mengingat ia turut mendukung penelitian terhadap penyakit yang merenggut nyawanya.
Jika menilik perjalanan OnlyFans, platform ini didirikan pada 2016 sebagai wadah monetisasi konten kreator, mulai dari kuliner hingga kebugaran, sebelum akhirnya dikenal luas karena konten dewasa.
Sistem platform memungkinkan interaksi langsung antara kreator dan pelanggan melalui siaran langsung, pesan pribadi, hingga permintaan konten khusus, dengan potongan komisi sebesar 20 persen untuk perusahaan.
Model bisnis tersebut terbukti menghasilkan pendapatan besar, dengan capaian sekitar US$1,4 miliar pada 2024 dan basis pengguna lebih dari 377 juta pelanggan di seluruh dunia.
Kini, dengan wafatnya Radvinsky, muncul kekhawatiran terkait arah kebijakan perusahaan ke depan, termasuk kemungkinan perubahan sistem komisi hingga regulasi konten yang dapat berdampak langsung pada penghasilan kreator. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari manajemen terkait strategi pasca-kepergian sang pemilik, sementara industri terus menunggu kejelasan arah bisnis platform tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































