Harianjogja.com, SLEMAN—Tari Bedhaya Ullen Sentalu akhirnya dipentaskan untuk pertama kalinya di Museum Ullen Sentalu pada Kamis (23/7/2026). Kelahiran tari sakral yang menggabungkan karakter budaya Mataram tersebut menjadi penanda terwujudnya gagasan yang telah dirintis selama 25 tahun.
Pementasan perdana itu menjadi puncak rangkaian perayaan yang diawali dengan syukuran wewitan Balai Kaswargan di Kastil Gotik Sayidan, di Kota Jogja. Tari Bedhaya Ullen Sentalu juga menjadi wujud misi Museum Ullen Sentalu dalam melestarikan seni budaya Jawa melalui karya budaya baru.
Memasuki kawasan Pakem, hawa dingin mulai mengusik kulit tangan. Jalan terus menanjak dan pepohonan mulai rapat. Meski mendung, langit tak juga menurunkan hujan.
Dari kejauhan, suara gamelan sayup terdengar. Museum Ullen Sentalu tampak tipis terselimuti aura magis. Pohon besar yang merunduk di pintu masuk terlihat menganga seperti mulut raksasa.
Amanda mengulur sampur oranye secara perlahan, membiarkan kain yang membelit pinggul rampingnya mengikuti alur gerak tangan. Sesampainya di ujung, sampur dihentakkan dengan tegas, menghadirkan aksen yang memperkuat irama dan ekspresi tarian.
Amanda bersama enam penari lain membawakan tarian itu dengan gerakan yang lembut. Sejak memasuki pelataran Tawang Turgo hingga pementasan berakhir, gerakan mereka mengalir tanpa putus layaknya gelombang air di samudera lepas yang kadang tenang dan kadang bergelora.
“Bedhaya Ullen,” kata Gusti Raden Ayu (GRAy) Koes Soewijah, Kamis (23/7/2026) sore.
Ide penciptaan Tari Bedhaya Ullen tercetus 25 tahun lalu ketika GRAy Koes Soewijah bertemu KPH dr Samuel Johny Haryono Wedyadiningrat, pendiri Museum Ullen Sentalu.
Mendengar gagasan tersebut, Gusti Menul, sapaan akrab GRAy Koes Soewijah, sempat termenung. Baginya, penciptaan seni tari bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan dalam waktu singkat karena membutuhkan perenungan, konsep yang matang, serta proses yang panjang.
Dokter Samuel menginginkan sebuah tari Bedhaya yang berakar pada sejarah Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman. Tarian sakral itu kemudian menjadi dasar lahirnya Tari Bedhaya Ullen.
Sebagai salah satu putri Susuhunan Pakubuwana XII, Gusti Menul telah akrab dengan seni tari dan budaya Jawa sejak kecil. Tantangan untuk mewujudkan gagasan tersebut pun diterimanya dengan penuh semangat.
Namun, semangat saja tidak cukup. Gusti Menul dan dokter Samuel berkali-kali bertemu untuk membicarakan konsep Tari Bedhaya Ullen. Mereka menyusun kerangka demi kerangka, membayangkan bagaimana tarian tersebut akan hidup di Museum Ullen Sentalu.
Di tengah proses tersebut, berbagai persoalan terus muncul. Ada filosofi yang perlu diperdalam, bentuk penyajian yang belum mewakili gagasan awal, hingga tantangan menyatukan karakter budaya dari empat pilar Mataram tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Menurut Gusti Menul, tari Bedhaya tidak dapat diciptakan secara tergesa-gesa. Gerak, gending, kostum, hingga pesan yang hendak disampaikan harus lahir dari satu tarikan napas yang sama.
Kerangka yang telah disusun belum sempat menjadi sebuah pementasan ketika pandemi Covid-19 datang. Aktivitas seni berhenti dan pertemuan yang selama ini menjadi ruang bertukar gagasan ikut terhenti.
Gagasan mengenai Bedhaya Ullen pun kembali disimpan hingga pandemi berlalu.
Suatu hari, dokter Samuel kembali menghubunginya.
"Ini janji saya. Tari ini harus ada."
Kalimat tersebut menghidupkan kembali gagasan yang telah dirintis seperempat abad silam. Gusti Menul membuka kembali catatan dan sketsa lama yang sempat mengendap bertahun-tahun.
Di tengah proses itu, hadir sosok Amanda Sekar Haryuningrum Putri Haryono, putri dokter Samuel, yang mengutarakan keinginannya untuk belajar tari Jawa.
Keinginan tersebut sempat membuat Gusti Menul pesimistis karena Amanda sudah memasuki usia remaja dan belum memiliki dasar tari klasik Jawa.
"Awalnya saya sempat pesimistis," tuturnya.
Meski demikian, Gusti Menul memutuskan menerima tantangan tersebut. Ia memulai pengajaran dari dasar-dasar tari Jawa, mulai dari mengenalkan silo, posisi lingge silo, sembahan, hingga makna gerak sindet.
Baginya, seorang penari tidak boleh sekadar menghafal gerakan, tetapi juga harus memahami makna setiap gerak tubuh yang ditampilkan.
Kesempatan terbaik datang ketika Amanda memasuki masa libur semester. Ia rela meninggalkan Jakarta dan tinggal di rumah Gusti Menul di Solo selama satu hingga dua pekan untuk berlatih.
Rutinitas Amanda diisi dengan latihan pagi, siang, dan malam. Setiap gerak direkam menggunakan telepon genggam untuk kemudian dievaluasi bersama. Jika masih kurang tepat, latihan kembali diulang tanpa jalan pintas.
Proses latihan tersebut berlangsung lebih dari satu tahun. Sedikit demi sedikit, Amanda mulai mengenali irama tari Jawa dan menunjukkan perkembangan yang meyakinkan.
Suatu ketika, dokter Samuel mengajukan pertanyaan yang kembali menjadi tantangan baru bagi Gusti Menul.
"Bagaimana kalau Amanda ikut pentas Bedhaya Ullen?"
Meski sempat ragu karena Tari Bedhaya identik dengan penari yang telah matang secara teknik dan penghayatan, Gusti Menul akhirnya memasukkan Amanda dalam latihan bersama enam penari lainnya.
Amanda pun mampu mengikuti seluruh rangkaian latihan. Sejak saat itu, Gusti Menul memutuskan untuk mendorong muridnya menjadi bagian dari sejarah kelahiran Tari Bedhaya Ullen.
Bagi orang awam, gerakan Amanda tampak tidak berbeda dengan penari lainnya. Gerak tangannya terlihat luwes, lehernya lentur mengikuti alunan gending, sedangkan kedua kakinya menapak mantap menopang seluruh rangkaian gerak.
Kurator sekaligus General Manager Museum Ullen Sentalu, Jonathan Haryono, mengatakan pementasan tersebut menjadi momentum peluncuran Tari Bedhaya Ullen Sentalu sekaligus penanda terwujudnya gagasan yang telah dirintis sejak 2001.
Penciptaan Tari Bedhaya Ullen Sentalu merupakan hasil kolaborasi keluarga Haryono dengan kerabat keraton yang telah berlangsung selama 25 tahun.
"Setelah 25 tahun, di tahun 2026 ini terciptalah Tari Bedhaya Ullen Sentalu. Tari ini merupakan perwujudan misi kami untuk mengembangkan pelestarian seni budaya Jawa ke dalam sebuah produk budaya," kata Jonathan.
Ia menjelaskan proses penciptaan tari diawali dengan permohonan restu kepada pihak-pihak keraton karena tari Bedhaya merupakan tarian sakral yang memiliki keterikatan erat dengan tradisi keraton.
Tim pencipta tari juga berupaya menggabungkan dua karakter Tari Bedhaya dari gaya Yogyakarta dan Surakarta menjadi satu koreografi baru.
Tari Bedhaya Ullen Sentalu diciptakan oleh GRAy Koes Soewijah bersama Dr. Daryono Darmorejono. Menurut Jonathan, penggabungan kedua gaya tari tersebut memerlukan proses panjang karena masing-masing memiliki karakter yang berbeda.
Pementasan perdana pada Kamis (23/7/2026) menjadi awal perjalanan Tari Bedhaya Ullen Sentalu. Ke depan, Museum Ullen Sentalu akan terus menyempurnakan koreografi sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya agar tetap lestari.
Jonathan menambahkan, Tari Bedhaya Ullen Sentalu merupakan karya budaya milik Yayasan Ulating Belencong Yogyakarta. Para penarinya dipilih dari kalangan muda yang memiliki kecintaan terhadap budaya Jawa, disiplin berlatih, serta dinilai mampu membawakan tari Bedhaya yang bersifat sakral.
Museum Ullen Sentalu juga berencana menjadikan Tari Bedhaya Ullen Sentalu sebagai pertunjukan rutin, meski jadwal penyelenggaraannya masih akan disusun. Untuk sementara, tarian tersebut hanya dapat disaksikan di Museum Ullen Sentalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































