Bantuan Air Bersih di Gunungkidul Capai 3,49 Juta Liter

10 hours ago 4

Bantuan Air Bersih di Gunungkidul Capai 3,49 Juta Liter

Foto ilustrasi pipa air bersih dari sumber air. - Freepik

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Distribusi bantuan air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Kabupaten Gunungkidul terus bertambah seiring berlanjutnya musim kemarau. Hingga awal Agustus 2026, BPBD Gunungkidul mencatat sebanyak 698 tangki air atau setara 3,49 juta liter telah disalurkan kepada masyarakat yang mengalami krisis air.

Bantuan tersebut diperkirakan masih akan terus mengalir karena puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus, sementara musim kering baru diperkirakan berakhir pada dasarian pertama November 2026.

Distribusi Air Bersih Libatkan BPBD, Kapanewon hingga CSR

Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto, mengatakan penyaluran air bersih telah dimulai sejak akhir Juni 2026.

Menurutnya, distribusi tidak hanya dilakukan BPBD Gunungkidul, tetapi juga melibatkan pemerintah kapanewon serta dukungan pihak ketiga melalui program corporate social responsibility (CSR).

Nanang menjelaskan dari total 698 tangki yang telah disalurkan, sebanyak 184 tangki berasal dari BPBD Gunungkidul dan 9 tangki merupakan bantuan CSR.

Sementara 505 tangki lainnya didistribusikan oleh pemerintah kapanewon di sejumlah wilayah terdampak kekeringan.

Rongkop dan Purwosari Salurkan Bantuan Terbanyak

Berdasarkan data BPBD Gunungkidul, Kapanewon Purwosari menjadi wilayah dengan distribusi bantuan air bersih terbanyak, yakni 138 tangki. Disusul Kapanewon Rongkop sebanyak 124 tangki dan Kapanewon Tepus sebanyak 100 tangki.

Selain itu, Kapanewon Girisubo telah menyalurkan 86 tangki, Panggang 20 tangki, Semanu 19 tangki, Gedangsari 15 tangki, serta Tanjungsari 3 tangki.

“Satu tangki air yang disalurkan mencapai 5.000 liter. Total bantuan yang tercatat sudah mencapai 698 tangki atau setara 3,49 juta liter air bersih diberikan ke warga yang mengalami krisis air,” katanya.

Status Siaga Darurat Berlaku Sejak Juni

Nanang memastikan distribusi air bersih akan terus dilakukan selama masih terdapat kebutuhan masyarakat. Selain menggunakan anggaran BPBD dan kapanewon, pemerintah juga dapat memanfaatkan dana Belanja Tak Terduga (BTT) milik Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Menurut dia, akses terhadap anggaran tersebut didukung dengan penetapan status siaga darurat bencana hidrometeorologi kekeringan yang telah diberlakukan sejak 1 Juni 2026.

“Untuk mengakses BTT, kami juga sudah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi kekeringan sejak 1 Juni lalu,” katanya.

BPBD Minta Warga Hemat Air

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan hasil koordinasi dengan BMKG Jogja menunjukkan puncak musim kemarau di Kabupaten Gunungkidul diperkirakan terjadi sepanjang Agustus.

Karena itu, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi, termasuk penetapan status siaga darurat serta distribusi air bersih oleh BPBD dan pemerintah kapanewon.

“Agustus menjadi puncak musim kemarau. Diprediksi kemarau berakhir pada dasarian pertama November mendatang,” kata Purwono.

Memasuki puncak musim kemarau, ketersediaan air diperkirakan semakin terbatas. Purwono mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat dan mengutamakan kebutuhan pokok sehari-hari.

Menurutnya, persediaan air sebaiknya tidak digunakan untuk keperluan yang tidak mendesak agar tetap mencukupi hingga musim hujan tiba.

“Jangan dihambur-hamburkan sehingga harus berhemat agar stok yang dimiliki mencukupi,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |